Tampilkan postingan dengan label Seputar Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 November 2010

Istri Pergi ke Saudi
Oleh Muhammad Amin


Sewaktu saya sedang membolak-balik koran terbitan hari Minggu,mencari-cari lowongan pekerjaan yang cocok,tiba-tiba istri saya sudah berada di hadapan saya.Saya melongo padanya. Sepertinya ada sesuatu hal penting yang ingin ia sampaikan. 

Sejenak saya coba menerka-nerka.Mungkin tagihan air dan listrik yangnunggak. Saya rasa bukan,karena saya masih ingat kemarin baru membayarnya, meskipun itu uang tabungan terakhir kami.Atau masalah sekolah anak kami, Siska Paramitha, yang sekarang duduk di bangku SMA mulai tersendat masalah biaya.Dan semua hal dugaan saya berkaitan dengan masalah uang.
Karena semenjak saya di-PHK perekonomian keluarga terasa carut-marut. Saya masih menunggu apa yang ingin ia sampaikan. Namun, tampaknya ia sangat ragu-ragu untuk menyampaikannya. Lalu dengan sangat hati-hati akhirnya istri saya buka mulut juga. ”Bang, aku mau minta izin,” katanya masih diliputi keraguan. ”Mau ke mana?”tanya saya,tak bisa menduga sebelumnya.
”Aku mau ikut Umaroh bekerja di luar negeri.” Terus terang, saya kaget mendengarnya. Saya tercenung sesaat. Saya masih bergeming dan tak memberi respons atas perkataan istri saya. ”Bagaimana?” tanyanya meminta kepastian. ”Apakah Abang setuju?” Saya masih diam. Itu saya lakukan karena saya bermaksud tak memberi izin. Saya urung membaca koran untuk mencari lowongan. Saya beranjak meninggalkannya sendirian.
* * *
Terus terang saya orang yang tak mudah tersinggung apalagi marah. Saya seorang yang suka humor. Tapi saya sungguh kaget mendengar perkataan istri saya dan kehilangan bermacam selera. Dia ingin bekerja di luar negeri. Padahal selama ini,saat saya masih bekerja, kehidupan kami selalu berkecukupan. Hanya sekarang saja setelah saya di-PHK keadaannya karut-marut.
Dan saya tak bisa berpikir jernih sewaktu ia mengatakan ingin bekerja di luar negeri,ke Arab Saudi, menjadi babu di negeri orang. Padahal saya tahu, baik melalui televisi maupun omong-omong tetangga, sudah terlalu sering mendengar berita tentang TKW yang bernasib malang. Itu menyakiti hati saya. Membuat saya merasa sebagai lelaki yang tak berguna, membiarkan istri menjadi hamba sahaya. Saya memang tak mudah tersinggung dan sakit hati.
Tapi entah tiba-tiba saya sakit hati dan tersinggung. Apakah yang membuat istri saya ingin menghambakan diri di negeri orang bila saya masih mampu memberinya makan? Apakah yang membuatnya ingin meninggalkan saya bila saya masih mampu memberi nafkah? Meski saya mengakui memang susah mencari pekerjaan, tetapi saya tetap berusaha.Dan apakah yang akan dikatakan oleh tetangga nanti bila saya membiarkan istri saya bekerja menjadi babu di Timur Tengah sana?
Di mana akan saya letakkan harga diri saya sebagai lelaki yang masih mampu bekerja dan berusaha? Saya memang telah bersepakat dengan diri sendiri, tak akan saya memberi izin istri saya bekerja di luar negeri.Itu akan membuat saya tersiksa lahir batin.Tak ada yang mengurusi saya dan anak saya.Dan tak mungkin saya tahan mendengar gunjingan para tetangga. Tadi malam kami saling diam. Bahkan tidur pun saling memunggungi. Aku ingin bicara dengannya, namun tidak saya lakukan.
Paginya dia dengan sangat dipaksakan menanyakan kepada saya pertanyaan yang sama. Kali ini saya sudah menyiapkan jawaban: tidak. Saya tak akan pernah mengizinkannya. ”Apakah Abang mengizinkan aku kerja di Arab Saudi?” ”Kenapa kamu ingin bekerja ke luar negeri padahal aku,suamimu, masih mampu bekerja dan memberikan nafkah?” ”Terpaksa Bang.Siska sebentar lagi lulus SMA. Ia ingin kuliah dan butuh biaya banyak. Selama sebulan ini kita tak punya pemasukan, malah pengeluaran yang banyak. Sementara aku malu pada tetangga.
Aku ingin punya perabotan tapi tak punya uang.” ”Itu bukan alasan,Dik.Semestinya kamu harus bersyukur dengan keadaan kita sekarang, masih bisa makan dan punya tempat tinggal. Aku masih akan berusaha untuk menutupi semua kebutuhan kita.” ”Tapi Bang…” ”Apakah kamu sudah dirayurayu oleh Bi Mirah agen TKW itu?” ”Memang Bi Mirah mengusulkan agar aku bekerja jadi TKW ke Arab Saudi.
Dan kupikir ada benarnya juga. Di sana gajinya lumayan. Uangnya bisa untuk memperbaiki rumah dan membeli perabotan yang bagus. Juga buat biaya sekolah Siska.” ”Aku sudah menduga, pasti kamu dipengaruhi sama si Mirah. Kan kalau dia berhasil membujuk kamu dia akan dapat uang banyak. Makin banyak orang yang terbujuk makin banyak uang yang didapat. Lihatlah dia kaya raya sekarang dengan usahanya jadi agen TKW. Tapi setiap kali orang yang dibawanya ke luar negeri hilang,dibunuh, disiksa majikan, dia tak mau bertanggung jawab.”
”Tapi kan itu salah mereka yang tak bisa menjaga diri.Kalau aku bisa menjaga diri dan mudah-mudahan dapat majikan baik.” ”Masih saja kamu membela si Mirah.Mata dan nurani kamu telah dibutakan oleh uang dan rayuannya.” Istri saya diam. Selama menikah kami tak pernah sekali pun bertengkar.Hanya kali ini kami sedikit bersitegang lantaran ia ingin menghambakan diri kepada orang lain. Karena dia menyakiti perasaan saya sebagai lelaki. Namun, istri saya tak mau menyerah membujuk agar saya memberikan izin. Lalu saya tanyakan padanya.
”Apa kamu tidak main-main?” ”Aku serius.Aku benar-benar ingin bekerja di luar negeri supaya bisa mewujudkan keinginanku yang selama ini belum Abang penuhi.Aku ingin punya uang dan perabotan bagus seperti tetanggatetangga kita.” ”Kalau kamu benar-benar ingin bekerja ke luar negeri, nanti saya akan kawin lagi,” kata saya mengancam. Sebenarnya saya tak sungguh-sungguh,hanya bergurau saja.
Tapi istri saya rupanya salah mengerti. Ia memang tak punya selera humor. Dia menangkap perkataan saya tersebut secara serius. Padahal saya cuma main-main mengatakannya untuk menakutnakuti supaya dia mengurungkan niat.Tapi terlanjur istri saya tidak menangkap maksud saya yang sebenarnya, dia malah salah sangka. ”Silakan Abang kawin lagi, saya juga bisa melakukannya.” Saya benar-benar kaget mendengar jawabannya.Tak biasanya istri saya begitu. Seolah saya tak mengenal lagi istri saya yang dulu.
* * *
Siska anak kami tak berkeberatan jika ibunya bekerja di luar negeri. Saya benar-benar tak menyangka. Pasalnya,dia ingin dibelikan hape baru yang tercanggih.Juga motor Mio supaya jika berangkat sekolah tak berdesak-desakan lagi di dalam angkot yang sumpek. Dengan motor itu pula ia bisa plesiranke mana-mana. ”Jangan banyak bermimpi,” kata saya pada anak saya,Siska. ”Banyak bermimpi gimana, Yah? Orang kerja di luar negeri kan uangnya banyak.Aku lihat si Mira dibelikan motor baru oleh ibunya yang kerja di luar negeri.
Si Inggrid punya laptop dan bisa internetan setiap hari. Itu juga dibelikan ibunya yang kerja jadi TKW di Arab.” ”Pokoknya Ayah tak setuju ibumu berangkat kerja ke luar negeri.” ”Memangnya kenapa, Yah? Ayah nggak mau kalau ibu punya uang banyak dan membelikan aku hapedan motor baru?” ”Kalau kamu masih saja menyuruh ibumu jadi TKW nanti ayah kawin lagi.Apa kamu mau punya ibu tiri?”ancam saya kepada Siska. ”Ibu tiri? Nggak banget deh.”katanya santai. Kemudian dia berlalu. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala.
Tak mengerti saya dengan pikiran ibu-anak itu.Mereka telah dibutakan ambisi mendapat banyak uang.Tidak pernahkah mereka mendengar berita-berita mengerikan di televisi seputar TKW? Banyak hanya namanya saja yang pulang. Atau kembali dengan membawa benih di perut, diperkosa dan disiksa majikan? Atau yang diberitakan melompat bunuh diri dari lantai 23, padahal majikannya yang mendorongnya dari belakang? Ah, saya benar-benar tak sanggup membayangkan itu.
Tapi mimpi buruk itu selalu saja menyinggahi tidur saya.Semenjak istri saya berangkat meski tanpa izin, saya jadi kehilangan banyak selera: selera makan, selera tidur, termasuk selera humor. Jika dulu tetangga yang selalu datang mengobrol ke rumah saya dan kami bisa tertawa sampai larut malam, kini saya menanggapinya dengan dingin.Apalagi bila ada tetangga yang menanyakan perihal istri saya, atau membicarakan masalah TKW, saya langsung marah. Padahal itu bukanlah sifat saya selama ini.
Sudah saya katakan, saya seorang yang tak gampang tersinggung apalagi marah. Namun, semenjak istri saya berangkat ke Saudi,tabiat saya mulai berubah. Setelah saya mendapatkan sebuah pekerjaan yang cukup baik, menjadi seorang staf di perusahaan berskala nasional, saya mulai bisa melupakan istri saya. Saya tidak merasa tak perlu lagi tersinggung bila mereka membicarakan masalah TKW atau bertanya mengenai istri saya.Saya akan menjawab dengan santai, tentu saja diselipi sedikit guyonan.
Saya menemukan kembali sifat saya yang asli. Pekerjaan saya di kantor tak pernah ada masalah yang berarti. Pendapatan saya melebihi cukup buat memenuhi kebutuhan saya dan anak saya. Bahkan saya mulai menabung untuk membeli motor baru yang bisa saya pakai ke kantor dan mengantar Siska sekolah.Saya juga sempat membelikan sebuah Blackberry untuk Siska. Dan tampaknya dia sangat bahagia mendapat hadiah dari saya. Perlahan-lahan kami mulai terbiasa hidup tanpa istri saya. Kadang Siska mengatakan kepada saya bahwa dia rindu dan ingin menelepon ibu.
Tetapi kami tak punya informasi sedikit pun tentang dia. Apalagi si Mirah sudah pindah dari kota kami dan usahanya jadi agen TKW terpaksa ditutup. Saya tak terlalu tahu apa sebabnya. Pernah pula ketika kami sedang duduk santai di depan televisi, Siska menanyakan kepada saya, kenapa saya tak kawin lagi. ”Ayah memang tak pernah berminat ingin kawin lagi. Bagi ayah beristri satu kali seumur hidup,itu sudah cukup.” ”Tapi waktu itu Ayah bilang ingin kawin lagi jika ibu tetap bersikeras ingin bekerja ke luar negeri?” ”Ayah cuma main-main sewaktu mengatakannya supaya ibumu tak jadi berangkat ke Saudi.”
* * *
Setelah Siska lulus SMA, saya melanjutkannya ke Perguruan Tinggi cukup ternama di kota kami. Saya pun tak perlu repot dalam urusan biaya. Lagi pula kampus Siska tak terlalu jauh dari rumah. Sebagai seorang suami,saya tak benar-benar bisa melupakan istri saya.Bagaimanapun dia tetap bagian dari hidup saya.Saya masih mencari informasi dengan mendatangi agen yang membawa istri saya.Tapi hasilnya nihil.Saya juga kerap bertanya kesana-kemari mengenai keberadaan Mirah.
Tapi tak ada yang mengetahui di mana dia sekarang. Kadang saya menonton berita di televisi.Atau membaca di koran. Apabila ada berita mengenai TKW, saya mulai merasa waswas.Setelah mengetahui nama korban penganiayaan atau yang divonis hukuman mati itu bukan istri saya, saya merasa lega. Namun, masih saja tersimpan rasa cemas. Suatu hari saya tak menyangka, setelah hampir dua tahun bekerja di luar negeri, istri saya kembali.
Tapi saya tak melihat koper besar dan oleh-oleh yang banyak. Saya lihat dia hanya membawa tas kecil dan perutnya yang mem-belendung. Benih siapa itu? Dia menangis dan memeluk saya.Berkali-kali dia meminta maaf.Ketika saya bertanya anak siapa yang di dalam kandungnya. Dengan berat hati ia menjawab.” Ini anak majikan saya.” Kepala saya pening.Tiba-tiba saya kembali kehilangan selera humor untuk sekadar menaggapinya sambil tertawa.***
(Seputar Indonesia Edisi 21 November 2010)

Jumat, 12 November 2010

Rawa Ronte
Oleh Eko Hartono


Kabar hilangnya Mbah Parijan menggegerkan kampung kecil itu.Laki-laki yang sudah tua dan sakitsakitan itu terakhir kali diketahui oleh keluarganya masih berada di kamarnya pada pagi tadi.

 Saat semua orang sibuk bekerja di sawah, Mbah Parijan sendirian di rumah.Ketika Mbah Semi, istrinya, pulang dari sawah dan tidak mendapati suaminya berada di kamar,spontan perempuan itu jadi panik. Seluruh anggota keluarga dan para tetangga dikerahkan untuk mencarinya. Hingga sore Mbah Parijan belum ditemukan.Tempat-tempat yang biasa didatangi oleh orang tua itu nihil, begitu juga di rumah famili atau kerabat.
Tapi orangorang tak yakin Mbah Parijan pergi jauh dari rumah. Sebab, dengan kondisi badan yang masih sakit dan lemah mustahil laki-laki tua itu bepergian jauh. Kecuali kalau ada yang mengajaknya pergi dengan naik kendaraan. Namun, para tetangga kiri kanan tidak ada yang melihat Mbah Parijan pergi dengan seseorang. “Jika tidak seorang pun yang tahu dia pergi ke mana, lalu menghilang ke mana Mbah Parijan…?” celetuk seseorang dengan nada bingung dan heran.
Tak ada yang menjawab celetukan orang itu.Semua orang pun bingung dan tak tahu, ke mana mencari Mbah Parijan.Mereka sudah berkeliling desa, tapi hasilnya nihil. Mereka kemudian kembali lagi ke rumah Mbah Parijan untuk memberikan laporan. Namun sayang, tak satu pun yang memberikan jawaban memuaskan. Mbah Semi tak kuasa menahan tangis kesedihan. “Oalah, Pakne.
Kelayapan ke mana saja sih kamu.Sudah tua dan sakit-sakitan kok ya pergi dari rumah…,” Mbah Semi tergugu di atas bale-bale. “Jangan-jangan Mbah Parijan digondol wewe?” ujar seseorang dengan seenaknya. “Huss, masak siang-siang ada wewe!”sergah yang lain. “Iya,nih.Kamu itu kalau omong jangan ngawur. Yang namanya wewe itu biasa nggondol anak kecil, bukan orang dewasa kayak Mbah Parijan. Lagi pula sangat tidak masuk akal ada orang setua Mbah Parijan dibawa lelembut!” ujar Pak RT.
“Habis, ke mana Mbah Parijan pergi? Masak kita semua tidak ada yang tahu di mana keberadaan Mbah Parijan?” Semua orang terdiam.Tak ada yang mampu memberikan jawaban. Kepergian Mbah Parijan yang amat misterius ini memang menimbulkan banyak tanda tanya. Menumbuhkan berbagai spekulasi dan dugaan yang beraneka ragam. Namun, tak satu pun menuju kepada suatu kesimpulan.Semua orang hanya sibuk merekareka.
Kepergian Mbah Parijan tanpa pesan dan jejak menjadi sebuah misteri tersendiri. Tiba-tiba Pardi, anak tertua Mbah Parijan, menyeret tangan Pak RT ke sudut rumah. Dengan suara berbisik-bisik seolah takut kedengaran oleh yang lain, lakilaki empat puluhan tahun itu bicara pada Pak RT. “Begini, Pak RT. Saya curiga, jangan-jangan bapak saya mau mencari jalan pintas!” “Mencari jalan pintas bagaimana maksudmu?” tanya Pak RT tak mengerti. “Ya,mencari jalan pintas untuk mengakhiri penderitaannya.
Seperti Pak RT tahu, bapak saya sudah lama menderita komplikasi penyakit bertahun-tahun. Dia mungkin merasa putus asa dan memilih untuk mengakhiri hidupnya…” “Bunuh diri, maksudmu?” potong Pak RT. “Ya!” “Kamu yakin, bapakmu punya niat bunuh diri?” “Yakin, Pak! Sudah beberapa hari ini dia suka meratap dan mengeluh.Tiap malam kalau pas sakitnya kumat dia suka menyebut- nyebut pengen mati. Dia merasa tak kuat lagi menanggung sakit.”
“Orang kalau lagi sakit berat terkadang tidak sadar dengan apa yang diucapkannya. Secara spontan orang sekarat bisa saja mengucap pengen mati dari pada harus disiksa dengan rasa sakit yang luar biasa. Namun, jika rasa sakit itu hilang, mereka jadi lupa dengan keinginannya itu. Menghadapi mati itu tidak mudah dan tidak segampang yang dibayangkan. Bahkan banyak orang takut mati bila mati itu benar-benar datang!” “Tapi bapakku kayaknya tidak takut lagi,Pak.
Dia bahkan pernah mencoba menantang maut dengan meminum obat melebihi takaran…” “Ah,masak?” “Benar,Pak! Simbok saya yang ngasih tahu.Waktu mau memberi obat bapak, tahu-tahu obatnya sudah habis. Ketika dicari di bawah kolong meja tidak ada. Ternyata diminum semua sama bapak saya. Alasannya, biar cepat sembuh. Padahal dengan minum obat melebihi dosis sama saja bunuh diri!” Pak RT manggut-manggut.Kecurigaan Pardi bahwa bapaknya berniat bunuh diri tampaknya menjadi satu-satunya kemungkinan yang masuk akal.
Tapi yang jadi pertanyaan, kalau benar Mbah Parijan punya niat bunuh diri dan seandainya hal itu terlaksana, di mana dia melakukannya? Jika melakukan di rumah mungkin takut ketahuan.Jadi,kemungkinan dia melakukannya di tempat sepi atau jauh dari rumah. Tapi kira-kira di mana tempat itu? batin Pak RT. Bagi sebagian orang,selalu ada keinginan dan cara tersendiri dalam menghadapi kematian.Mbah Parijan mungkin ingin menghadapi kematiannya dengan khusyuk, tenang,dan tanpa gangguan dari siapa pun.
Jika dia melakukan di rumah dan tiba-tiba ada yang memergoki, lalu memberikan pertolongan padanya sehingga prosesi kematian itu pun batal, tentu sangat mengecewakan sekali. Bahkan bisa menyisakan kepedihan dan luka yang memerihkan. Lihatlah keadaan orang yang hendak bunuh diri tapi tak jadi mati? Sangat mengenaskan sekali! Memikirkan kemungkinan bahwa Mbah Parijan berniat bunuh diri, maka Pak RT kemudian mengerahkan orang-orang untuk menelusuri tempat-tempat sepi yang dikategorikan favorit bagi orang yang mau bunuh diri.
Seperti di hutan, kuburan, bukit, sungai, sendang, atau tempat-tempat keramat. Tetabuhan dari bendabenda semacam perkusi dibunyikan dengan maksud memanggil arwah Mbah Parijan. Ritual ini berlangsung sejak sore hingga malam. Obor-obor dinyalakan. Sepanjang hari penduduk kampung sibuk mencari Mbah Parijan. “Mbah Parijan! Mbah Parijaaaannnn…!” teriak orang-orang memanggil. Namun,usaha orang-orang satu kampung itu tak juga membawa hasil.
Seluruh sudut-sudut yang tersembunyi di desa itu sudah didatangi, namun sosok Mbah Parijan –sekalipun jasadnya kalau memang sudah meninggal— tak ditemukan. Keluarga Mbah Parijan hanya bisa pasrah. Mereka akhirnya melaporkan kejadian ini pada polisi. Tapi polisi yang dilapori masih memberi tenggat 2x24 jam untuk menunggu. Jika dalam dua kali dua puluh empat jam Mbah Parijan tidak pulang, polisi baru bergerak.
Pagi itu kabut tipis menyelimuti halaman rumah, pohonpohon masih kuyup oleh embun, orang-orang masih berkerudung sarung,mendadak dari pintu regol muncul sosok bayangan berjalan tertatih memasuki halaman.Mulamula Toni, cucu Mbah Semi yang masih berusia empat tahun, melihat kehadiran sosok renta itu. Dengan riang bocah itu berseru, “Itu kakek!” Ibunya yang sedang menyapu halaman tercekat mendengar ucapan sang anak.
Dia berhenti menyapu dan menoleh. Benar saja. Dia melihat sosok mertuanya berjalan menuju ke rumah. Dia lalu berseru memberi tahu semua orang. “Bapak pulang! Bapak pulaaanggg….!” Pagi hening seketika pecah oleh kehebohan. Seluruh keluarga berkumpul, para tetangga berhamburan, ingin melihat keadaan Mbah Parijan.Mbah Parijan yang jadi pusat perhatian terlihat bengong dan bingung. Seperti orang linglung.Ketika ditanya dari mana saja, orang tua itu membisu.
Tak sepatah kata terucap dari bibirnya. Dia duduk di bale bambu dengan pandangan menerawang. Keluarganya jadi iba.Mereka lalu meminta para tetangga keluar dari ruangan. Kepulangan Mbah Parijan memang melegakan hati keluarganya. Mereka senang orang tua itu telah kembali.Namun, kepulangannya itu menimbulkan keprihatinan. Laki-laki tua itu telah berubah.Dia tidak mampu lagi bicara alias gagu. Tingkah lakunya pun aneh,seperti orang linglung.
Dia seakan tidak mengenali lagi anggota keluarganya. Tapi kondisi ini coba diterima mereka. Mungkin Mbah Parijan sudah jatuh pikun! Sementara di luar berkembang cerita mengenai hilangnya Mbah Parijan selama beberapa hari. Seperti obrolan segerombol laki-laki di warung itu. “Aku yakin Mbah Parijan pergi ke alam bunian.Dia diajak siluman penghuni alam gaib. Mungkin dia telah kawin sama siluman.” “Ah, mana mungkin.
Mbah Parijan kansudah tua?” “Alam gaib tak mengenal tua muda, karena di sana waktu tidak berjalan seperti di alam nyata.Hanya orang-orang berilmu sakti bisa mendatangi tempat tak kasatmata itu!” “Mbah Parijan punya ilmu kesaktian?” “Iyalah, namanya juga orang jadul alias jaman dulu.Coba kalian tebak, berapa umur Mbah Parijan?” “Tujuhpuluh tahun!” “Salah! Umurnya sudah di atas seratus tahun!” Semua terkejut dan takjub mendengar keterangan orang itu.
Yang lain kemudian menambahi. “Mbah Parijan mungkin punya ilmu rawa rontek. Itu lo ilmu kesaktian yang bikin orang jadi sulit mati. Seperti kalian tahu, Mbah Parijan menderita komplikasi penyakit berat, tapi anehnya tak juga mati. Padahal kalau orang biasa mungkin sudah mati dari kemarin!” Apa yang dikatakan orangorang itu sesungguhnya hanya berdasar prasangka atau dugaan semata. Karena kenyataannya belum ada seorang pun membuktikan kebenarannya.
Mereka hanya menafsirkan keganjilan dan keanehan yang melingkupi kehidupan Mbah Parijan.Walau demikian, cerita itu sudah kadung merasuk ke dalam jiwa orangorang. Mereka pun meyakini hal ini.Mereka percaya Mbah Parijan punya ilmu rawa rontek dan percaya orang tua itu telah kawin dengan manusia siluman penghuni alam bunian! “Dan tahukah kalian, orang yang punya ilmu rawa rontek baru bisa mati kalau ilmunya sudah diturunkan atau ditransfer kepada orang lain!” kata orang itu membuat orang-orang makin yakin dan takjub.
Sejak tersebar kasak-kusuk bahwa Mbah Parijan memiliki ilmu rawa rontek dan dapat menembus alam gaib, banyak orang berdatangan ke rumah orang tua itu. Mereka bukan hanya datang dari daerah setempat, tapi juga dari luar daerah. Mereka juga berasal dari berbagai kalangan. Ada pejabat, pengusaha,PNS,guru,polisi, tentara, buruh, bahkan pengangguran. Mereka berkeinginan bisa mewarisi ilmu rawa rontek milik Mbah Parijan. Mereka rela mengantre menghadap orang tua itu di biliknya.
Keluarga Mbah Parijan pun tak kuasa menghalangi kedatangan mereka. Karena mereka yang datang tak segan memberikan uang dalam jumlah tak sedikit. Mereka pun tak kecewa meski Mbah Parijan tak juga mau bicara, mereka akan datang lagi di waktu lain. Konon,tanda bahwa Mbah Parijan sudah mewariskan ilmunya bila orang tua itu mau bicara pada orang yang dianggap tepat sebagai pewaris. Dan kenyataan, meski sudah puluhan orang sowan kepadanya tak satu pun berhasil mendengar sepatah kata dari orang tua itu.
Keluarga Mbah Parijan sebenarnya tak yakin orang tua itu punya ilmu rawa rontek.Sebab,mereka tak pernah mendengar langsung dari mulut Mbah Parijan. Anak-anaknya pun tak pernah melihat ayah mereka mempraktekkan ilmunya.Yang mereka tahu, ayah mereka petani ulet. Beliau juga tak pernah sakit selama mudanya. Baru pada usia tua ini jatuh sakit. Dan anehnya, begitu jatuh sakit segala jenis penyakit bersarang di tubuhnya. Mungkin itu sebagai pertanda bahwa dia harus segera mewariskan ilmunya agar jalan menuju kematian lebih mudah!

***
Malam itu… Pardi terjaga dari tidur. Dia turun dari ranjang dan berniat ke belakang.Ketika akan melewati ruang tengah, dia tercekat mendengar sayup suara orang bercakap- cakap di dalam kamar Mbah Parijan, ayahnya. Penasaran Pardi menghampiri dan menyibak kain gordin yang menutup pintu. Dan matanya terbelalak melihat Toni,putranya yang masih empat tahun, berdiri di dekat ranjang kakeknya.
Sementara Mbah Parijan berbaring dengan mata terpejam. “Ngapain kamu di sini?” tanya Pardi pada putranya. “Kakek tadi memanggil Toni,” jawab anak itu dengan lugu. Penasaran Pardi mendekati ayahnya dan memegang tubuhnya. Wajahnya berubah pucat pasi, tubuh ayahnya sedingin es dan tak bergerak sama sekali.Dia semakin yakin ayahnya telah berpulang. Tapi yang membuatnya shock, sebelum mati ayahnya sempat berbicara pada Toni. Cerita orang tentang ilmu rawa rontek memenuhi benaknya.Kengerian, ketakutan, sekaligus kegundahan bercampur aduk dalam hatinya. Dia lalu memandang putranya seksama seperti memandang sosok menyeramkan!

(Seputar Indonesia Edisi 7 November 2010)

Senin, 18 Oktober 2010

Malaikat yang Mencintai Senja
Oleh Bamby Cahyadi


Sudah dua hari,sejak ia turun ke bumi,ia belum mendapat rumah atau apartemen yang cocok untuk ia tempati.Ia masih saja mencari-cari tempat yang cocok untuk menghabiskan sisa waktu hidupnya yang tinggal 312 tahun lagi.
Ukuran tempat tinggal yang cocok bagi Tareq,malaikat yang baru saja diturunkan ke bumi itu sebenarnya hanya dua syarat.Pertama,ia ingin menempati sebuah rumah dengan halaman luas dan menghadap ke arah barat di mana ia bisa melihat matahari terbenam setiap harinya. Yang kedua, ia ingin menempati sebuah kamar apartemen di lantai paling tinggi dengan jendela- jendela berukuran lebar dan harus menghadap ke arah barat pula tentunya. Hingga hari ini ia belum juga mendapatkan tempat yang ia maksud, walaupun ia sudah berkeliling ke segala penjuru Kota Jakarta untuk mencari tempat yang tepat sebagai rumahnya.Apalagi rumah berhalaman luas, sudah sangat langka di Jakarta.
Sudah berpuluh-puluh jasa penyedia rumah atau apartemen yang ia datangi,tetapi hasilnya nihil. Kemarin, saat ia pertama kali menginjakkan kakinya di bumi, ia sempat melihat-lihat sebuah apartemen di kawasan Kemang, tapi ia urung menempati kamar apartemen tersebut, karena jendela apartemen itu menghadap ke arah selatan.Padahal kamar apartemen yang ditawarkan padanya berada di lantai paling atas,lantai 35. Lalu atas bantuan seorang tenaga pemasaran kompleks perumahan mewah, ia diajak kelilingkeliling ke seputaran Pantai Indah Kapuk.Di sana ia ditunjuki rumahrumah besar yang menghadap ke laut.
Ada beberapa rumah besar bergaya mediterania di pinggiran pantai Ancol yang ketika ia datang kosong dan siap untuk disewa, namun sayang rumah-rumah megah itu menghadap ke arah utara. Kini, hari sudah senja. Tareq menarik napasnya memandang langit yang memerah.Ia mendongak memandang ke arah barat dari atas ruang tatap di ketinggian Monas. Seorang petugas keamanan mengingatkannya, bahwa sebentar lagi ruang akan ditutup dan lift akan dihentikan operasionalnya. Karena Monas dibuka hanya sampai sore hari, maka Tareq diminta untuk turun. ”Beri saya waktu barang sebentar, Pak. Saya hanya ingin melihat matahari yang terbenam dari sini,” ucap Tareq, tanpa sejenak pun mengalihkan pandangannya dan tetap menatap tanpa berkedip ke arah batas cakrawala yang kian memerah di barat sana.
Satpam yang bertugas hanya tertegun, dan ikut-ikutan pula memandangi selaput senja yang kini kian menipis menjadi gelap.Langit yang tadinya jingga kemerahan kini mengelam seperti tersapu jelaga. ”Kami harus tutup, Mas!” ujar satpam dengan nada suara tegas. Tareq mengerjapkan kelopak matanya,lantas ia menuju pintu lift diikuti satpam di belakangnya.Satpam itu sangat heran dengan penampilan Tareq yang menggunakan setelan jas panjang dan sangat tebal seolah temperatur Jakarta sangat dingin untuknya, jas panjang dan tebal itu pernah ia lihat di filmfilm Hollywood. Mungkin orang gila yang ke sasar,pikir Satpam itu menilai Tareq.
Begitulah pakaian para malaikat yang diturunkan ke bumi, mereka memakai jas yang menjura panjang dan tebal.Pakaian tersebut paling tidak akan menyamarkan sepasang sayap malaikat yang ditekuk di belakang punggung mereka. Menyadari ia diperhatikan terus menerus dengan saksama oleh petugassatpam, saat mereka telah berdua di dalam lift,ia bertanya kepada satpam berkumis tipis itu. ”Apakah ada yang aneh dengan saya,Pak,”tanya Tareq. Satpam itu terhenyak. Lalu dengan suara yang disigap-sigapkan, ia berkata,”Ya,saya heran saja melihatmu memakai jas panjang dan tebal seperti itu. Seperti pakaian musim salju,” kata satpam masih terus memandangi Tareq. Tareq tersenyum tipis.Lantas ia memasukkan kedua tangannya dalam saku jas panjang dan tebalnya itu.
”Ini pakaian khas malaikat yang turun ke bumi,”ujar Tareq ringan. ”Ha...ha...ha,dasar wong edan!” Satpam itu lalu tertawa terbahak- bahak sambil menepuknepuk punggung Tareq. Sesaat kemudian satpam tersebut diam dan terkesima,ketika ia menyadari menepuk-nepuk sesuatu yang ganjil di punggung Tareq dan membuat perasaannya tak karu-karuan. Sesuatu yang ia tepuk begitu asing dan misterius, satpam itu bagai terpental ke sebuah ruang rasa yang aneh,ganjil tak terceritakan. ”Maaf, saya bercanda kok, Pak. He he he...!” kata Tareq sambil tersenyum pada satpam yang masih terlongo-longo itu. Satpam itu masih saja terkesima, sambil mengusap-usap telapak tangannya yang mendadak dingin, ketika itu pintu lift terbuka.
Sebelum ia beranjak,satpam itu memegang punggungnya sendiri seperti memastikan sesuatu.Lalu ia menggeleng- gelengkan kepalanya. Telapak tangannya masih dingin. ”Saya duluan, permisi dan terima kasih, Pak!”Tareq sedikit membungkuk mohon pamit pada satpam yang telah mengantarnya sampai ke lantai dasar. ”Iya, ya... ya, silakan,” ujar Satpam gugup. Berangsur telapak tangannya menghangat kembali. Tareq berlalu,ia lantas menuju pelataran Monas.Lampu-lampu di taman sudah menyala. Beberapa pasang muda-mudi yang pacaran sudah mencari posisi duduk di pojok-pojok taman. Tukang foto langsung jadi, menawarkan jasa foto padanya. Tareq menolak. Ia melangkahkan kakinya ke arah jalanan di depan Stasiun Gambir. Dari situ ia menyetop taksi dan meminta supir taksi menuju Hotel Grand Indonesia tempat ia menginap sementara.

***

Keesokan harinya,Tareq masih terlihat sibuk, wara-wiri mengelilingi setiap sudut kota. Berbekal selembar halaman iklan koran berisi informasi rumah dan apartemen yang ia dapati dari resepsionis hotel, kini ia berada di kawasan Mega Kuningan. Ia sempat mampir sejenak di Mal Ambassador membeli permen karet dan sebungkus rokok. Dari situ ia naik taksi menuju apartemen Casablanca yang terletak di Jalan Profesor Satrio.Turun dari taksi, Tareq menyulut sebatang rokok, benda yang oleh kalangan malaikat dianggap tak berguna itu –bahkan sebagian malaikat menyatakannya haram, ternyata kini bermanfaat baginya di saat-saat gelisah karena belum mendapat sebuah rumah yang diidamkannya.
Diantar oleh seorang petugas pemasaran apartemen,ia masuk ke dalam lift menuju lantai paling atas di salah satu tower apartemen yang menjulang tinggi mencakar langit. Betapa terkejut Tareq ketika memasuki lift. Ia melihat sosok malaikat yang sangat terkenal baik di kalangan manusia, maupun malaikat.Sosok itu adalah Izrail. Izrail tampak santai.Ia menyandarkan tubuhnya di dinding lift yang terbuat dari cermin semua. Tentu petugas pemasaran tak melihat sosok Izrail, karena malaikat adalah makhluk gaib yang tak kasatmata.
Tareq menegur Izrail, tentu mereka berbicara lewat telepati. Sang petugas pemasaran apartemen mengoceh terus,mempromosikan keunggulan apartemennya. Sementara Tareq dan Izrail terlibat percakapan. ”Halo Tareq, apa kabar? Lama tak melihatmu di surga. Rupanya kau di sini?”Tegur Izrail. ”Saya baru tiga hari di sini kawan,” jawab Tareq. ”Ah, tiga hari itu kan waktu manusia. Bagi kita, oh bukan, bagi kami, itu waktu yang sangat lama kawan!”ujar Izrail. ”Ada urusan apa kau di sini?” tanya Tareq curiga. ”Kau pasti sudah tahulah,lihat saja nanti,” jawab Izrail kalem. ”Kau sendiri ngapain ada di apartemen ini?”lanjut Izrail bertanya. ”Saya lagi mencari rumah,” jawab Tareq pendek. Izrail hanya tersenyum kecut.
”Hmm, rumah...Rumah,rumah! Kasihan kau Tareq.Seharusnya kalau kau tak melawan Tuhan,rumahmu bukan di sini!” kata Izrail sambil menunjuk lantai lift.”Tapi di sana,” lanjut Izrail sambil menunjuk bagian atas lift. ”Izrail, perlu kau ketahui, saya tak pernah melawan Tuhan! Saya hanya mengusulkan pada-Nya agar warna langit bumi hanya satu warna, warna senja. Lalu Tuhan menolak, dan saya meminta untuk diturunkan ke bumi.Karena saya mencintai senja!”tukas Tareq. ”Kau memang aneh, sebagai malaikat pengatur warna, seharusnya kau bisa bersikap netral.Sikapmu memilih warna senja,tentu menurunkan kredibilitasmu di mata Tuhan. Ya, begitulah. Ngomongngomong, sepertinya susah juga hidup di bumi?” ucap Izrail sambil terkekeh.
”Kau tak sedang mengintaiku, kan?”tanya Tareq. Pintu lift terbuka, percakapan terhenti.Tareq dan petugas pemasaran apartemen keluar dari lift disusul Izrail di belakang mereka. Izrail lantas memisahkan diri tanpa pamit pada Tareq. Beberapa saat kemudian,terdengar desau angin yang cukup kencang dari sebuah kamar apartemen yang pintunya terbuka. Petugas pemasaran tampak panik. Ia lalu berlari menyeruak masuk ke dalam kamar apartemen yang pintunya terbuka.Tareq pun ikut masuk ke dalam. Mereka menemukan jendela apartemen terbuka lebar, menganga.Tirai warna hijau toska melambai-lambai ditiup kesiur angin siang yang kering. Petugas pemasaran tercekat, ketika melihat ke bawah.
Di aspal parkiran apartemen, di bawah sana,seorang perempuan muda dengan kepala hancur berantakan dan tubuhnya remuk-redam terpuruk mencium aspal.Perempuan itu baru saja terjun dari ketinggian lantai 41 apartemen. Tareq menoleh keluar jendela kamar saat Izrail berkelebat dan mengepak-ngepak sayapnya menuju langit, sambil tangannya menggenggam nyawa perempuan yang baru saja meloncat dari apartemen itu. Nyawa perempuan di genggaman Izrail tampak tersenyum padanya. Petugas apartemen tampak masih kebingungan dan berkeringat. Ia menatap Tareq dan seolah ingin menjelaskan sesuatu. Ia sangat khawatir akibat peristiwa bunuh diri yang baru saja terjadi menyurutkan niat Tareq menyewa kamar apartemen tempatnya bekerja.
Tareq sangat maklum dengan situasi ini. ”Tidak masalah, Pak. Kalau perlu, kamar ini saya sewa sekarang,” kata Tareq mantap. Mata petugas pemasaran itu membelalak tak percaya. Tareq mengangguk pasti.Kamar ini akan ia sewa.Tareq tampak puas,karena kamar di mana perempuan muda itu bunuh diri, berjendela lebar dan menghadap ke barat. Ya, ke arah barat.

***

Di suatu senja,312 tahun waktu malaikat pun berlalu.Tareq sedang menatap tanpa berkedip ke arah cakrawala. Matahari lamat-lamat tenggelam di ufuk barat menyisakan semburat cahaya jingga kemerahan yang melindap. Tiba-tiba pintu apartemennya diketukseseorang.Tareqbergeming. Pintu kembali diketuk. Lalu suara ketukan berhenti untuk beberapa saat. Barulah ketika langit menjadi gelap, ia menuju pintu dan membukakan daun pintu untuk sang tamu. ”Silakan masuk Izrail, kau sangat tepat waktu.” Mereka bersalaman, lalu berbincang- bincang penuh keakraban. Suasana kamar menjadi hangat. Tawa mereka membahana hingga ke seluruh penjuru apartemen. Mendadak kamar apartemen senyap. Izrail menyela,”Waktumu habis!”

***

Esok pagi petugas apartemen menemukan jenazah Tareq tertimbun beribu-ribu bulu-bulu sayap burung merpati berwarna putih. Polisi memastikan ia tewas akibat kehabisan napas, tersedak oleh bulu-bulu sayap burung yang memenuhi sekujur tubuh dan juga mulutnya. Petugas pemasaran apartemen sangat sedih melihat kondisi Tareq, saat jenazah itu dimasukkan ke dalam kantung mayat. ”Padahal baru lima hari dia di sini,” gumamnya lirih, setengah berbisik kepada petugas forensik Polda Metro Jaya.(*)

(Seputar Indonesia, 17 Oktober 2010)