Sabtu, 18 September 2010

Tsunami
Oleh Putu Wijaya


Mata dunia tiba-tiba berpaling ke Asia.
"Hanya dalam beberapa menit tsunami sudah melalap tak kurang dari 140 ribu warga Asia, di antaranya 90 bahkan mungkin akan sampai 120 ribu rakyat Nanggroe Aceh Darusssalam, Ujung Utara pulau Sumatera direngutkan oleh maut. Tanah Rencong sedang berduka,"kata penyiar televisi dengan suara seperti orang mau menangis.
Amat memejamkan matanya. Tapi gambar-gambar yang mengerikan masuk lewat telinganya.
"Sudah matikan saja televisi itu, aku tak kuat!"kata Amat, sambil membuka matanya lagi.
"Para Pemirsa, hujan air mata mengguyur mana-mana. Tetapi tangis, duka dan simpati berlimpah saja tidak cukup. Prahara yang hanya berlangsung pada hari Minggu 26 Desember itu, meninggalkan ceruk raksasa. Bagaikan ngarai hitam yang tak bertepi, dia akan berbaring selamanya dalam hari-hari kita mendatang. Tak cukup setahun, lima tahun, puluhan tahun, entah berapa keturunan, prahara ini akan tetap hidup sebagai cerita yang mengerikan."
"Aku tahu, aku tidak buta, jangan cuma ngitung cari jalan keluar dong!"teriak Amat marah.
"Yang terbunuh, bukan hanya mereka yang kini sudah kaku dan tak mampu lagi bicara. Tetapi juga adalah mereka, anak-anak, para ibu, orang tua yang telah kehilangan keluarganya yang tak akan mungkin digantikan dengan apa pun....."
"Makanya jangan ngomong melulu!"
"Para Pemirsa ini adalah sebuah peringatan yang dahsyat. Mampukah kita menerjemahkan pesan alam ini. Dapatkah kita mengerti dengan benar apa sesungguhnya yang ada di balik prahara ini?"
Amat tak tahan lagi. Ia mendekati televisi dan hendak mematikannya. Tapi istrinya yang asyik menonton mencegah. Amat memalingkan mukanya dan mencoba menukar pandangan keluar. Tapi pikirannya terus diburu oleh suara penyiar itu.
"Dapatkah kita menerima bukan perang, bukan perbedaan pandangan dan kepentingan, bukan pertentangan keyakinan, idiologi dan rumusan kebijakan bahkan juga bukan perbedaan agama yang mengancam kemusnahan kita, tetapi Kebesaran Semesta?"
"Nggak usah ngebacot tunjukin gambarnya aja!"
"Seluruh ilmu pengetahuan menjadi terlambat oleh Tsunami. Sejarah seperti tak pernah berkembang. Umat manusia adalah mahluk yang sudah ditakdirkan untuk kalah, walau tak henti-hentinya, mencoba menang!"
Amat tak tahan lagi. Ia berbalik mendekati televisi lalu menjawab penyiar itu.
"Makanya, jangan salah, bukan Tsunami, tetapi kitalah yang bertanggungjawab atas bencana ini. Kitalah yang sudah membuat semua ini terjadi. Kitalah dalangnya!"
"Pak!"
Amat terkejut.
"Lho kenapa jadi aku yang salah?" tanyanya panik. "Kenapa pikiran itu menyambar ke otakku. Kenapa aku yang harus memikul?"
Amat bengong.
"Apa orang lain juga dihampiri oleh tuduhan itu? Mengapa hanya aku yang diseret oleh rasa bersalah? Apa yang lain-lain itu lebih pinter berkelit? Ini tidak adil!"
Amat mondar-mandir tak mampu mengendalikan pikirannya lagi. Bu Amat yang sedang menonton laporan 3 hari harus terus-menerus tentang Indonesia Menangis itu merasa terganggu, lalu menoleh.
"Kenapa lagi Pak?"
Amat tambah panik.
"Kenapa jadi aku yang salah? Ke Sumatra saja aku belum pernah? Aku bahkan tidak pernah alpa sembahyang. Aku mengangungkan Sang Pencipta di dalam batinku. Bahkan aku takut melakukan apa yang tidak dikehendakiNya, tetapi kenapa jadi aku yang disalahkan?"
Bu Amat yang tak paham persoalan Amat, lalu membentak.
"Pak, jangan ngelindur! Lihat itu korban sudah tambah lagi!"
Amat melihat ke televisi. Matanya terbelalak.
"Ya Tuhan! Tapi kenapa aku yang disalahkan. Kenapa bukannya para pemimpin dan para cerdik-pandai, semua paranormal yang semestinya sudah tahu apa yang akan terjadi itu yang disalahkan, kenapa mereka tidak bertindak sebelumnya kalau sudah tahu apa yang akan terjadi?"
Bu Amat bertambah heran. Ia mendekati suaminya dan menggoyang-goyang.
"Bangun, bangun, Pak! Kenapa sih sekarang suka ngelindur. Mbok ikut sana kumpulkan dana. Tuh Pak RT sudah membuka posko di ujung jalan. Anak-anak tanggung itu juga tidak minum lagi, mereka mencegat mobil-mobil minta sumbangan, untuk membantu korban Tsunami. Bapak kok tidur melulu!"
"Tapi kenapa aku yang disalahkan?"
"Ah Bapak ini, keterlaluan!"
"Kalau aku salah, orang lain juga salah. Kita semua salah! Kenapa mesti ada yang salah? Ini kan bencana alam!"
Bu Amat bertambah sebel. Ia mematikan televisi dan meninggalkan suaminya, masuk ke kamar. Di situ ia menghidupkan radio. Amat cepat menyalakan kembali televisi. Ia tidak mau ketinggalan apa perkembangan penanggulangan bencana itu. Seluruh dunia sudah tergerak untuk memikul peringatan alam itu, karena itu bukan hanya bencana setempat, tetapi bencana umat manusia. Simpati, bantuan mengalir dari mana-mana. Mengagumkan sekali. Dunia tiba-tiba bersatu.
Mata Amat tak berkedip. Ketika penyanyi Sherina yang kini sudah mulai besar dan cantik menyanyikan meratapi musibah, Amat menyatukan tangannya.
"Ya Tuhan, ampuni kami. Marahilah kami. Kami sudah berbuat salah, sehingga Engkau murka. Ampuni kami, ampuni aku, ampuni seluruh dosa-dosa kami! Berikan kami kesempatan sekali lagi. Jangan habisi kami sekarang. Jangan gelapkan masa depan ini. Beri kami kesempatan!"
Tiba-tiba bahu Pak Amat dipegang. Amat terkejut dan menoleh. Ami anaknya sudah ada di situ dan melotot.
"Bapak ngomong sama siapa?"
"Apa?"
"Bapak kok ngomong sendiri?"
Amat marah. Ia membentak.
"Siapa bilang aku ngomong sendiri? Dasar anak kecil! Aku ngomong sama Tuhan, tahu!"
Ami tertegun.
"Tuhan?"
Amat memejamkan mata kembali, mengumpulkan pikirannya, lalu berdoa.
"Jangan hukum kami seberat ini. Memang sudah banyak dosa-dosa kami. Dosa-dosa para pemimpin kami. Dosa-dosa para pemuka kami. Mereka tak hanya berkhianat pada janji dan menyengsarakan kami, mereka juga sudah menjarah bumi, mengoyak hutan, gunung, laut dan udara. Berikan kami...."
"Pak!"
Amat membuka matanya.
"Ami, kamu jangan  ganggu, Bapak sedang berdoa, tahu!"
"O, Bapak berdoa?"
"Dasar anak kecil! Kamu kira apa yang aku lakukan dengan mata merem dan mulut komat-kamit begini kalau bukan berdoa?"
"Berdoa kok seperti memerintah? Mau memerintah dengan pura-pura berdoa kali?"
Amat terkejut.
"Memerintah? Siapa yang memerintah?"
"Kalau caranya meminta begitu, sama saja seperti waktu aku kecil menangis tersedu-sedu untuk memaksa Bapak membelikan aku kembang gula!"
"Aku tidak memerintah! Telinga kamu saja yang salah. Aku malah takut, tahu!"
"Takut?"
"Ya dong! Tsunami segede begitu masak kamu tidak takut. Kamu bohong! Bapak jujur saja, Bapak takut Tuhan marah. Aku mengakui semua ini salah kita. Salahku.Salah kita semua!"
"Kata siapa ini salah Bapak?"
"Ya itu inisiatifku sendiri. Siapa lagi yang bersalah kalau bukan kita? Kalau bukan aku?. Pembunuhan, perkosaan, kemaksiatan di mana-mana. Dunia sudah krisis moral. Tuhan marah sebab kita tidak mau mengakui dosa-dosa kita!"
" Kata siapa Tuhan marah?"
Amat tak menjawab. Ami menatap Bapaknya tajam.
"Kata siapa? Kata Sherina?"
"Kalau bukan kehendak Tuhan, tak akan mungkin dalam sekejap nyawa melayang  begitu banyak dan pemukiman tenggelam. Tak akan mungkin tidak seorang pun yang tahu, padahal kita sudah sombong teknologi sudah mampu menguasai alam. Ya kan?"
"Itu kan pikiran Bapak sendiri."
"Memang!"
"Okelah. Tapi jangan suka memerintah apalagi menuduh. Nanti semua tambah kacau. Itu fitnah. Aku tidak pernah marah, kok."
Amat tercengang. Sebelum ia sempat bicara lagi, Ami lalu berbalik dan pergi ke kampus naik motor. Amat tersengat. Ia menyimak keras apa yang barusan dikatakan anaknya dan tiba-tiba seperti benar-benar terbangun ia melompat.
"Betul! Kamu betul! Aku sudah semena-mena menafsirkan semuanya!" teriak Amat. "Bu! Kamu betul. Ami betul!"
Amat meloncat menyusul istrinya ke kamar. Tetapi di depan pintu kamar Ami ia tertegun. Nampak Ami sedang tergolek di tempat tidur karena lelah setelah terlalu l;ama belajar. Amat terperanjat.
"Lho bukannya kamu sudah berangkat ke kampus tadi?"tanya Amat.
Ami yang sudah lelap tak bisa menjawab. Ia tergolek tak berdaya. Tapi lonceng di jam dinding memukul 12 kali. Suaranya lembut tetapi bagai mementung kepala Amat bertubi-tubi tanda di puncak malam dan tahun sedang berganti dengan lembaran baru.
Amat termenung.
"Berapa banyak orang yang melakukan kesalahan seperti yang sudah kulakukan?"tanya Amat pada dirinya sendiri, "berapa banyak yang tak pernah tahu bahwa itu sebuah kesalahan?"
Pintu kamar Amat terbuka. Istrinya muncul, lalu menjawab.
"Dan berapa banyak orang yang berbeda-beda pendapat itu kemudian saling menyalahkan dan berkelahi untuk memenangkan pendapatnya?"
Amat terkejut.
"Lho kamu kok tahu apa yang kupikirkan, Bu?"
Istri Amat mengangguk.
"Duapuluh lima tahun aku hidup bersama kamu, Pak, apa yang tidak kutahu,"katanya sambil masuk kembali.
Amat termenung lama. Kemudian ia mengubah sama sekali semua doanya.
"Ya Tuhan, kami banyak belajar dari bencana ini. Mudah-mudahan kami berhasil mendapatkan pembelajaran. Jangan sampai pikiran kami yang lebih penting. Penderitaan saudara-saudara kami di Aceh dan pulau Nias itulah yang harus menjadi pusat perhatian kami selamanya. Bagaimana kami harus menemani mereka supaya mereka tidak merasa yatim-piatu."
Setelah menutup semua jendela, Amat lalu masuk ke dalam kamar. Ia menyentuh pundak istrinya dan berkata lirih.
"Terimakasih atas teguranmu tadi, Bu"
Perempuan itu bangun.
"Teguran apa,  Pak?"
"Apa yang kamu katakan tadi di pintu."
Istri Amat bingung.
"Di pintu? Aku mengatakan apa? Dari sejak masuk tadi aku sudah di sini sampai ketiduran."
Amat terdiam, ia tak berani mengatakan apa-apa lagi.
Jakarta, 2005
(Republika, 14 Mei 2005)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar