Tampilkan postingan dengan label Putu Wijaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Putu Wijaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 September 2010

Tsunami
Oleh Putu Wijaya


Mata dunia tiba-tiba berpaling ke Asia.
"Hanya dalam beberapa menit tsunami sudah melalap tak kurang dari 140 ribu warga Asia, di antaranya 90 bahkan mungkin akan sampai 120 ribu rakyat Nanggroe Aceh Darusssalam, Ujung Utara pulau Sumatera direngutkan oleh maut. Tanah Rencong sedang berduka,"kata penyiar televisi dengan suara seperti orang mau menangis.
Amat memejamkan matanya. Tapi gambar-gambar yang mengerikan masuk lewat telinganya.
"Sudah matikan saja televisi itu, aku tak kuat!"kata Amat, sambil membuka matanya lagi.
"Para Pemirsa, hujan air mata mengguyur mana-mana. Tetapi tangis, duka dan simpati berlimpah saja tidak cukup. Prahara yang hanya berlangsung pada hari Minggu 26 Desember itu, meninggalkan ceruk raksasa. Bagaikan ngarai hitam yang tak bertepi, dia akan berbaring selamanya dalam hari-hari kita mendatang. Tak cukup setahun, lima tahun, puluhan tahun, entah berapa keturunan, prahara ini akan tetap hidup sebagai cerita yang mengerikan."
"Aku tahu, aku tidak buta, jangan cuma ngitung cari jalan keluar dong!"teriak Amat marah.
"Yang terbunuh, bukan hanya mereka yang kini sudah kaku dan tak mampu lagi bicara. Tetapi juga adalah mereka, anak-anak, para ibu, orang tua yang telah kehilangan keluarganya yang tak akan mungkin digantikan dengan apa pun....."
"Makanya jangan ngomong melulu!"
"Para Pemirsa ini adalah sebuah peringatan yang dahsyat. Mampukah kita menerjemahkan pesan alam ini. Dapatkah kita mengerti dengan benar apa sesungguhnya yang ada di balik prahara ini?"
Amat tak tahan lagi. Ia mendekati televisi dan hendak mematikannya. Tapi istrinya yang asyik menonton mencegah. Amat memalingkan mukanya dan mencoba menukar pandangan keluar. Tapi pikirannya terus diburu oleh suara penyiar itu.
"Dapatkah kita menerima bukan perang, bukan perbedaan pandangan dan kepentingan, bukan pertentangan keyakinan, idiologi dan rumusan kebijakan bahkan juga bukan perbedaan agama yang mengancam kemusnahan kita, tetapi Kebesaran Semesta?"
"Nggak usah ngebacot tunjukin gambarnya aja!"
"Seluruh ilmu pengetahuan menjadi terlambat oleh Tsunami. Sejarah seperti tak pernah berkembang. Umat manusia adalah mahluk yang sudah ditakdirkan untuk kalah, walau tak henti-hentinya, mencoba menang!"
Amat tak tahan lagi. Ia berbalik mendekati televisi lalu menjawab penyiar itu.
"Makanya, jangan salah, bukan Tsunami, tetapi kitalah yang bertanggungjawab atas bencana ini. Kitalah yang sudah membuat semua ini terjadi. Kitalah dalangnya!"
"Pak!"
Amat terkejut.
"Lho kenapa jadi aku yang salah?" tanyanya panik. "Kenapa pikiran itu menyambar ke otakku. Kenapa aku yang harus memikul?"
Amat bengong.
"Apa orang lain juga dihampiri oleh tuduhan itu? Mengapa hanya aku yang diseret oleh rasa bersalah? Apa yang lain-lain itu lebih pinter berkelit? Ini tidak adil!"
Amat mondar-mandir tak mampu mengendalikan pikirannya lagi. Bu Amat yang sedang menonton laporan 3 hari harus terus-menerus tentang Indonesia Menangis itu merasa terganggu, lalu menoleh.
"Kenapa lagi Pak?"
Amat tambah panik.
"Kenapa jadi aku yang salah? Ke Sumatra saja aku belum pernah? Aku bahkan tidak pernah alpa sembahyang. Aku mengangungkan Sang Pencipta di dalam batinku. Bahkan aku takut melakukan apa yang tidak dikehendakiNya, tetapi kenapa jadi aku yang disalahkan?"
Bu Amat yang tak paham persoalan Amat, lalu membentak.
"Pak, jangan ngelindur! Lihat itu korban sudah tambah lagi!"
Amat melihat ke televisi. Matanya terbelalak.
"Ya Tuhan! Tapi kenapa aku yang disalahkan. Kenapa bukannya para pemimpin dan para cerdik-pandai, semua paranormal yang semestinya sudah tahu apa yang akan terjadi itu yang disalahkan, kenapa mereka tidak bertindak sebelumnya kalau sudah tahu apa yang akan terjadi?"
Bu Amat bertambah heran. Ia mendekati suaminya dan menggoyang-goyang.
"Bangun, bangun, Pak! Kenapa sih sekarang suka ngelindur. Mbok ikut sana kumpulkan dana. Tuh Pak RT sudah membuka posko di ujung jalan. Anak-anak tanggung itu juga tidak minum lagi, mereka mencegat mobil-mobil minta sumbangan, untuk membantu korban Tsunami. Bapak kok tidur melulu!"
"Tapi kenapa aku yang disalahkan?"
"Ah Bapak ini, keterlaluan!"
"Kalau aku salah, orang lain juga salah. Kita semua salah! Kenapa mesti ada yang salah? Ini kan bencana alam!"
Bu Amat bertambah sebel. Ia mematikan televisi dan meninggalkan suaminya, masuk ke kamar. Di situ ia menghidupkan radio. Amat cepat menyalakan kembali televisi. Ia tidak mau ketinggalan apa perkembangan penanggulangan bencana itu. Seluruh dunia sudah tergerak untuk memikul peringatan alam itu, karena itu bukan hanya bencana setempat, tetapi bencana umat manusia. Simpati, bantuan mengalir dari mana-mana. Mengagumkan sekali. Dunia tiba-tiba bersatu.
Mata Amat tak berkedip. Ketika penyanyi Sherina yang kini sudah mulai besar dan cantik menyanyikan meratapi musibah, Amat menyatukan tangannya.
"Ya Tuhan, ampuni kami. Marahilah kami. Kami sudah berbuat salah, sehingga Engkau murka. Ampuni kami, ampuni aku, ampuni seluruh dosa-dosa kami! Berikan kami kesempatan sekali lagi. Jangan habisi kami sekarang. Jangan gelapkan masa depan ini. Beri kami kesempatan!"
Tiba-tiba bahu Pak Amat dipegang. Amat terkejut dan menoleh. Ami anaknya sudah ada di situ dan melotot.
"Bapak ngomong sama siapa?"
"Apa?"
"Bapak kok ngomong sendiri?"
Amat marah. Ia membentak.
"Siapa bilang aku ngomong sendiri? Dasar anak kecil! Aku ngomong sama Tuhan, tahu!"
Ami tertegun.
"Tuhan?"
Amat memejamkan mata kembali, mengumpulkan pikirannya, lalu berdoa.
"Jangan hukum kami seberat ini. Memang sudah banyak dosa-dosa kami. Dosa-dosa para pemimpin kami. Dosa-dosa para pemuka kami. Mereka tak hanya berkhianat pada janji dan menyengsarakan kami, mereka juga sudah menjarah bumi, mengoyak hutan, gunung, laut dan udara. Berikan kami...."
"Pak!"
Amat membuka matanya.
"Ami, kamu jangan  ganggu, Bapak sedang berdoa, tahu!"
"O, Bapak berdoa?"
"Dasar anak kecil! Kamu kira apa yang aku lakukan dengan mata merem dan mulut komat-kamit begini kalau bukan berdoa?"
"Berdoa kok seperti memerintah? Mau memerintah dengan pura-pura berdoa kali?"
Amat terkejut.
"Memerintah? Siapa yang memerintah?"
"Kalau caranya meminta begitu, sama saja seperti waktu aku kecil menangis tersedu-sedu untuk memaksa Bapak membelikan aku kembang gula!"
"Aku tidak memerintah! Telinga kamu saja yang salah. Aku malah takut, tahu!"
"Takut?"
"Ya dong! Tsunami segede begitu masak kamu tidak takut. Kamu bohong! Bapak jujur saja, Bapak takut Tuhan marah. Aku mengakui semua ini salah kita. Salahku.Salah kita semua!"
"Kata siapa ini salah Bapak?"
"Ya itu inisiatifku sendiri. Siapa lagi yang bersalah kalau bukan kita? Kalau bukan aku?. Pembunuhan, perkosaan, kemaksiatan di mana-mana. Dunia sudah krisis moral. Tuhan marah sebab kita tidak mau mengakui dosa-dosa kita!"
" Kata siapa Tuhan marah?"
Amat tak menjawab. Ami menatap Bapaknya tajam.
"Kata siapa? Kata Sherina?"
"Kalau bukan kehendak Tuhan, tak akan mungkin dalam sekejap nyawa melayang  begitu banyak dan pemukiman tenggelam. Tak akan mungkin tidak seorang pun yang tahu, padahal kita sudah sombong teknologi sudah mampu menguasai alam. Ya kan?"
"Itu kan pikiran Bapak sendiri."
"Memang!"
"Okelah. Tapi jangan suka memerintah apalagi menuduh. Nanti semua tambah kacau. Itu fitnah. Aku tidak pernah marah, kok."
Amat tercengang. Sebelum ia sempat bicara lagi, Ami lalu berbalik dan pergi ke kampus naik motor. Amat tersengat. Ia menyimak keras apa yang barusan dikatakan anaknya dan tiba-tiba seperti benar-benar terbangun ia melompat.
"Betul! Kamu betul! Aku sudah semena-mena menafsirkan semuanya!" teriak Amat. "Bu! Kamu betul. Ami betul!"
Amat meloncat menyusul istrinya ke kamar. Tetapi di depan pintu kamar Ami ia tertegun. Nampak Ami sedang tergolek di tempat tidur karena lelah setelah terlalu l;ama belajar. Amat terperanjat.
"Lho bukannya kamu sudah berangkat ke kampus tadi?"tanya Amat.
Ami yang sudah lelap tak bisa menjawab. Ia tergolek tak berdaya. Tapi lonceng di jam dinding memukul 12 kali. Suaranya lembut tetapi bagai mementung kepala Amat bertubi-tubi tanda di puncak malam dan tahun sedang berganti dengan lembaran baru.
Amat termenung.
"Berapa banyak orang yang melakukan kesalahan seperti yang sudah kulakukan?"tanya Amat pada dirinya sendiri, "berapa banyak yang tak pernah tahu bahwa itu sebuah kesalahan?"
Pintu kamar Amat terbuka. Istrinya muncul, lalu menjawab.
"Dan berapa banyak orang yang berbeda-beda pendapat itu kemudian saling menyalahkan dan berkelahi untuk memenangkan pendapatnya?"
Amat terkejut.
"Lho kamu kok tahu apa yang kupikirkan, Bu?"
Istri Amat mengangguk.
"Duapuluh lima tahun aku hidup bersama kamu, Pak, apa yang tidak kutahu,"katanya sambil masuk kembali.
Amat termenung lama. Kemudian ia mengubah sama sekali semua doanya.
"Ya Tuhan, kami banyak belajar dari bencana ini. Mudah-mudahan kami berhasil mendapatkan pembelajaran. Jangan sampai pikiran kami yang lebih penting. Penderitaan saudara-saudara kami di Aceh dan pulau Nias itulah yang harus menjadi pusat perhatian kami selamanya. Bagaimana kami harus menemani mereka supaya mereka tidak merasa yatim-piatu."
Setelah menutup semua jendela, Amat lalu masuk ke dalam kamar. Ia menyentuh pundak istrinya dan berkata lirih.
"Terimakasih atas teguranmu tadi, Bu"
Perempuan itu bangun.
"Teguran apa,  Pak?"
"Apa yang kamu katakan tadi di pintu."
Istri Amat bingung.
"Di pintu? Aku mengatakan apa? Dari sejak masuk tadi aku sudah di sini sampai ketiduran."
Amat terdiam, ia tak berani mengatakan apa-apa lagi.
Jakarta, 2005
(Republika, 14 Mei 2005)

Jumat, 17 September 2010

Dokter
Oleh Putu Wijaya


Banyak yang tidak bisa diatasi oleh ilmu kedokteran. Bagaimana pembuahan di luar rahim, dalam bayi tabung, dipastikan akan menumbuhkan janin ketika dicangkok ke rahim ibu? Virus influenza, HIV, flu burung sampai sekarang masih dicari obatnya. Di luar itu masih ada musuh bayangan yang ampuh: dukun.

Seperti kata Dokter John Manansang yang malang-melintang di belantara Boven Digul, masyarakat pedalaman cenderung menunda pergi ke dokter, karena lebih dulu mau konsultasi ke dukun. Kalau yang sakit sudah sekarat, baru dibawa ke puskesmas. Biasanya pasien parah langsung diinfus, sehingga ketika maut tiba, masyarakat cenderung melihat jarum infuslah yang membunuhnya. Sulit menjelaskan kalau sudah ajal, tanpa diinfus atau tidur di hotel bintang lima pun, manusia tetap mati.

Pada suatu malam, saya dijemput untuk mengobati orang yang menurut dukun dapat kiriman ular berbisa dalam perutnya. Ketika sampai di puskesmas, saya lihat tubuh orang itu sudah kaku. Dia pasti sudah meninggal di rumahnya. Tetapi keluarganya memaksa saya untuk mengeluarkan ular itu.

"Pak Dokter harus tolong kami. Dia itu kepala keluarga.
Hidup-mati kami tergantung pada dia!"

"Tapi sudah terlambat."
"Terlambat bagaimana, kami sudah bawa kemari pakai taksi!
Uang kami sudah banyak keluar!"

"Tapi sebelum dibawa kemari nampaknya dia sudah tidak
ada!"
"Itu tidak mungkin! Setiap hari lima orang dukun kami bergantian menjaga dia. Tidak mungkin roh jahat itu bisa masuk lagi. Pak Dokter mesti keluarkan ular itu dari perutnya!"

"Kalau toh itu benar ada ular dikirim ke perutnya, tidak ada gunanya, sebab orangnya sudah meninggal."
"Makanya keluarkan ular itu cepat. Pak Dokter jangan
ngomong terus!"

"Kami memang miskin, tidak bisa bayar, tapi ini kewajiban Dokter mesti tolong kita punya kepala keluarga!"
"Jangan bikin kami tambah susah, Dokter! Mentang-mentang kami orang kecil!"

"Cepat bertindak!"
Saya disumpah untuk menjalankan praktik sesuai dengan etik kedokteran. Tetapi, di dalam hutan, itu tidak berlaku. Saya bisa dibunuh kalau tidak melakukan apa yang mereka minta, karena saya dokter, saya dianggap wajib bisa menyembuhkan orang sakit.

Disaksikan keluarganya, saya bedah mayat itu. Saya buktikan tidak ada ular di perutnya seperti kata dukun. Dia mati karena kurang gizi dan salah menenggak ramu-ramuan dukun. Tetapi meskipun sudah melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri, keluarganya tidak percaya. Mereka malah menuduh saya yang sudah terlambat bertindak.

"Kalau Pak Dokter langsung bertindak tadi, tidak akan terlambat."
"Terlambat bagaimana?!"

"Kata dukun, ular itu sudah masuk ke dalam tulang-sumsumnya, bersatu dengan darah. Dibawa ke China pun dia akan tetap mati, apalagi hanya ke puskesmas yang fasilitasnya berengsek ini. Dokter tidak bertanggung jawab!"

"Dokter harus bertindak!"
"Bertindak bagaimana lagi? Paling banter saya hanya bisa menulis surat kematian pasien supaya bisa dibawa pulang!"

"Tidak bisa! Kita tidak bisa bawa dia pulang dalam keadaan sudah jadi mayat. Dia harus terus hidup! Dia kita bawa kemari untuk maksud supaya dia bisa sembuh. Masak Dokter mau kirim lagi dia pulang supaya jadi mayat. Kasihan keluarganya, Dokter! Dia itu andalan hidup keluarganya, tahu?! Dia tidak boleh mati!"

"Tapi ajal itu di tangan Tuhan, kita hanya bisa berusaha!"
"Makanya, kau harus berusaha terus, Dokter!"
"Berusaha bagaimana lagi?"
"Panggil! Kejar sekarang!"
"Kejar ke mana?"

"Ayo kejar! Kata dukun dia belum jauh. Paling berapa kilometer. Kalau Dokter cepat bertindak, tidak cuma ngobrol, dia pasti bisa disusul!"

"Disusul?"
"Ah, kau lambat sekali. Beta bilang kejar! Kejar!"
Mereka mendorong saya masuk ke dalam kamar, memaksa saya menarik orang mati itu kembali dari kematiannya. Mereka bahkan bilang siap membantu saya dengan senjata kalau nantinya harus berkelahi.

"Kami bisa panggil kawan-kawan yang lain sekarang untuk bantu. Kami juga punya saudara yang jadi perwira militer. Kita bisa pinjam senjata kalau memang perlu, asal habis jam kantor!"

"Ayo Pak Dokter, jangan terlalu banyak diskusi, nanti terlambat lagi! Kau ini dokter atau mantri?!"

Saya terpaksa kembali ke dekat mayat itu. Sepanjang malam mereka berjaga di sekitar puskesmas dengan segala macam senjata siap tempur. Ada yang menangis, berdoa, dan menyanyi. Dukun pun terus menjalankan upacara, mengeluarkan jampi-jampi agar roh yang mereka anggap sudah diculik suku lain itu pulang.

Saya bingung. Saya duduk di sisi mayat kehabisan akal. Apa yang harus saya lakukan untuk keluar dari persoalan yang tidak menyangkut bidang kedokteran itu. Saya tidak mengerti kehidupan di alam gaib. Akhirnya saya tertidur juga karena terlalu capek.

Pagi-pagi pintu digedor. Orang-orang itu berteriak-teriak tidak sabar, ingin tahu apa hasilnya. Tubuh yang meninggal pun sudah mulai berbau. Wajahnya meringis kesakitan, seakan-akan minta cepat-cepat dikuburkan. Waktu itu saya tidak berpikir lagi seperti seorang dokter sebagaimana yang saya pelajari di kampus. Saya terpaksa menjadi dukun.

Saya rogoh saku, gaji yang saya hendak kirim ke rumah masih utuh. Lalu saya buka pintu.
"Bagaimana?"
"Tenang!"
"Tenang bagaimana? Kami tidak mau Dokter bilang sudah gagal!"
"Saya sudah berusaha."
"Dan hasilnya?"
"Lumayan."

"Ah, apa itu itu artinya lumayan, kita orang tidak suka! Itu bahasa orang birokrat yang suka menipu. Bilang saja terus-terang, berhasil atau tidak?"

"Berhasil."
Mereka tercengang.
"Jadi dia hidup lagi?"
"Bapak-bapak mau dia hidup lagi atau tidak?"
"Sudah pasti kita mau dia orang hidup lagi. Itu maka kita bawa dia kemari!"

"Saya sudah mencoba."
"Terus hasilnya?"
"Itu," kata saya menunjuk pada mayat.

Semuanya melihat melewati tubuh saya ke arah mayat itu. Saya berikan ruang agar mereka lewat, tapi tidak ada yang mau. Bau mayat itu menyebabkan semuanya tertegun. Dukun sendiri malah mundur selangkah.. Mereka semua nampak bimbang. Kebimbangan itu justru membangkitkan keberanian saya. Saya mulai tahu apa yang harus dilakukan.

"Ayo!"
Orang-orang itu tambah ragu-ragu, tak percaya apa yang saya katakan. Tak percaya apa yang sedang mereka lihat.
"Jadi dia hidup lagi?"
Saya mengangguk. Mereka curiga. Tapi tidak ada yang berani memeriksa.

"Kalau dia hidup mengapa tidak bergerak?"
"Dan mengapa bau?"
"Tadi dia sudah hidup, sekarang sedang tidur."
"Tidur?"
"Ya. Tidur untuk selamanya."
"Apa?!!!!"
"Tapi dia meninggalkan pesan."
"Pesan apaan!? Kita tidak perlu pesan, kita hanya mau supaya dia hidup lagi!!!"
Saya tidak peduli apa yang mereka katakan. Lalu saya mengulurkan amplop uang gaji.

"Kata dia sebelum tidur, berikan ini kepada istri, anak-anak dan keluargaku yang aku tinggalkan. Sampaikan kepada mereka, tenang semua, biarkan aku istirahat sekarang, karena aku sudah lelah sekali. Puluhan tahun berjuang menghidupi keluarga, aku tidak sanggup lagi bekerja!"

Orang-orang itu terdiam. Mereka hanya memandang amplop yang saya berikan. Tapi kemudian dukun perlahan-lahan maju. Ia memperhatikan amplop yang saya tunjukkan. Diendus-endusnya dari jauh. Setelah mengucapkan mantera lalu ia mengulurkan japit untuk mengambilnya. Setelah merobek dan mengeluarkan isinya, ia menghitung. Bahkan sampai tiga kali. Kemudian ia melihat kepada orang-orang itu, lantas membagikan uang sambil menahan beberapa di tangannya.

Orang-orang itu menerima uang tanpa menanyakan apa-apa. Seakan-akan itu memang sudah hak mereka. Setelah dukun mengeluarkan mantera, mereka lalu bergerak. Beberapa orang menyanyi, yang lain menghampiri mayat, lalu membawa yang meninggal itu dengan tertib keluar dari puskesmas untuk dikuburkan.

Saya sama sekali tidak ingin mengatakan bahwa saya sudah berhasil membeli kesedihan mereka dengan uang. Tidak. Saya sama sekali tidak melihat persoalan itu dari kacamata orang kota yang sinis. Apalagi jumlah yang saya berikan juga tidak banyak. Saya hanya mencoba memahami itu sebagai akibat ulah saya yang berhasil berbicara, menyampaikan duka yang amat berat bagi mereka itu, dengan bahasa yang mereka pahami.

Barangkali mereka senang karena saya tidak menyalahkan dukun. Puas karena saya tidak mencela mereka terlambat membawa sang sakit ke puskesmas. Tidak melecehkan keberatan atau protes mereka pada nasib, karena yang meninggal memang benar-benar dibutuhkan oleh keluarganya sebagai tiang kehidupan. Mungkin juga mereka senang karena saya tidak mengabaikan perasaan-perasaan mereka, karena saya tidak menganggap kebenaran kata sayalah yang paling benar.

Tapi setelah itu banyak perubahan yang terjadi. Saya jadi terseret ke dalam situasi yang membuat saya lebih gagap. Saya ternyata sudah mengayunkan langkah ke dunia yang sama sekali asing. Begitu kejeblos, saya langsung kelelap, lantaran saya sama sekali tidak siap.

Sejak itu saya sering diminta untuk mengobati mayat. Profesi saya sebagai dokter yang harus berhadapan dengan orang yang mau bertahan hidup, berubah menjadi pengurus orang mati. Walhasil saya sudah menyalahi sumpah. Berkhianat dan berdosa kepada almamater saya.

Tak jarang yang dibawa pada saya mayat dukun yang sebelum mati sudah berkali-kali wanti-wanti agar nanti dibawa ke puskesmas. Kalau saya tolak, bisa jadi konflik, karena saya sudah telanjur dipercaya. Saya sudah memulai dan membangun sesuatu, kalau saya runtuhkan lagi, saya akan berhadapan dengan kekecewaan dan bukan tidak mungkin kekerasan.

Setiap kali mengobati mayat, saya tidak punya kiat lain kecuali saya harus merogoh saku, mengeluarkan duit. Mengulur semacam pelipur, atau apa sajalah namanya, untuk mentolerir duka yang tak bisa mereka elakkan. Akibatnya saya cepat sekali bangkrut.

Barang-barang saya jual satu per satu sampai saya kehilangan segala-galanya. Termasuk cincin pemberian ibu saya. Sementara itu, kondisi kesehatan di daerah terpencil tambah rawan. Frekuensi orang mati terus saja bertambah dan semuanya dibawa ke puskesmas, minta agar saya mengobatinya.

Pernah saya sampai berpikir itu sudah sampai pada tingkat pemerasan. Saya tidak percaya orang-orang pedalaman itu sesungguhnya sebodoh itu. Itu bukan kebodohan lagi tetapi justru kecerdasan. Itu kiat yang dengan lihai menyembunyikan dirinya di balik keluguan. Strategi "orang bodoh" untuk membunuh lawan pintar yang lebih kuasa dengan halus.

Pada suatu malam, datang di puskesmas mayat seorang kepala suku. Badannya penuh dengan luka parang. Kepalanya sudah putus dari tubuh. Rombongan pengantarnya banyak sekali. Hampir seluruh suku ikut mengarak memenuhi halaman puskesmas

"Kami berkelahi mempertahankan kehormatan kami dari serangan suku buas," kata putra kepala suku. "Sebelum perang, Bapa sudah berpesan kalau terjadi apa-apa supaya dibawa kemari. Tolong hidupkan Bapa kami, Dokter, karena kalau sampai dia mati, berarti kami kalah dan malu besar! Kami mempertaruhkan kehormatan seluruh warga kami!"

Saya termenung di depan mayat itu. Kepalanya bisa saya sambung, tapi ke mana saya cari ganti nyawanya yang hilang? Para pejuang suku itu berjaga-jaga di sekitar puskesmas dengan senjata-senjata mereka. Banyak di antaranya yang terluka, tetapi mereka tidak peduli. Mereka hanya ingin kepala sukunya kembali hidup supaya pertempuran bisa dilanjutkan.

Saya bingung. Tak ada duit sepeser pun lagi di kantong. Lebih dari itu, duit tak akan mungkin dapat menyenangkan hati suku kaya yang merasa dipermalukan itu.

Saya benar-benar cemas. Saya kira karir saya sebagai dokter sudah tamat. Di samping itu, akhir hidup saya juga nampak sudah tiba. Mereka pasti akan kecewa sekali, karena saya memang bukan dukun yang sebenarnya.

Perasaan berdosa yang sejak lama sudah menekan, sekarang menghajar saya. Saya sudah berpura-pura jadi dukun agar bisa nyambung dengan masyarakat, tetapi ternyata tidak cukup. Saya dituntut menjadi dukun yang sebenarnya. Itu mustahil. Mestinya saya sudah cabut sejak kasus pertama.

Semalam suntuk saya tidak bisa memejamkan mata. Subuh, pintu dibuka dan anak kepala suku beserta seluruh prajuritnya yang berang itu menatap saya.

"Berhasil, Dokter?"
Tubuh saya gemetar.
"Jangan kecewakan kami, Dokter!"
Saya tidak berani menjawab.

"Kehormatan buat kami paling penting. Kami boleh kelaparan karena tidak dapat binatang perburuan, boleh mati karena wabah penyakit, boleh kocar-kacir karena kebakaran, gempa, banjir, longsor atau letusan gunung berapi, tapi jangan sampai kalah dan menanggung malu. Bapa orang kebal yang selalu menang dalam pertempuran. Dia tidak boleh mati karena senjata lawan. Kehormatan kami akan hilang selama-lamanya. Lebih baik kami musnah daripada menanggung malu karena kalah!"

"Saya paham itu."
"Kalau begitu hidupkan lagi Bapa."
"Saya sudah berusaha."
"Kami tidak mau hanya usaha. Kami mau ada hasil!"
"Tapi ?"

"Kalau satu hari tidak cukup, kami bisa tunggu. Bila perlu sebulan atau setahun kami bisa tunggu di sini, asal dia bisa hidup lagi. Bapa saya itu raja. Apa artinya orang-orang ini, kalau Bapa tidak ada?"
"Ya, itu saya juga mengerti sekali. Kapal tidak bisa jalan tanpa nakhoda!"

"Makanya hidupkan lagi Bapaku. Otaknya rusak juga tidak apa, asal hidup. Bapa saya itu lambang. Kami semua ada karena dia hidup. Kalau dia mati, kami semua akan mati. Apa Dokter perlu nyawa pengganti?"

"Apa?"
"Sepuluh bahkan seratus orang dari kami sekarang juga mau menyerahkan nyawanya asal bisa menggantikan nyawa Bapa. Hidupkan dia sekarang, Dokter!"
"Darah tumpah itu bisa diganti dengan tranfusi, tapi nyawa tidak mungkin."
"Tapi, kau dokter kan?!"
"Betul."

"Orang-orang lain mati sudah kau hidupkan, kenapa Bapa kami tidak? Apa bedanya? Bapaku itu selalu cinta perdamaian. Dia cinta kami semua. Dia selalu menyanyikan lagu kebangsaan dan memimpin upacara bendera, tidak seperti orang-orang lain yang pura-pura saja cinta supaya dapat uang dari negara, tapi cintanya palsu. Kenapa orang yang berjuang seperti Bapa dibiarkan mati? Ayo, Dokter!"

Saya tidak sanggup menjawab.
"Dokter mau biarkan aku punya Bapa mati?"
"Tidak."
"Kalau begitu, hidupkan dia sebab dia sangat mencintai negara! Mengapa orang-orang yang tidak mencintai negara dibiarkan hidup tapi Bapaku yang berjuang untuk negara tidak? Tolong, Dokter!"
"Beliau sekarang akan meneruskan perjuangan dari dunia maya, supaya musuh dapat diberantas."
Anak kepala suku itu kaget.
"Maksud Dokter, Bapaku mati?"

Saya tidak mampu menjawab. Anak kepala suku itu sangat kecewa. Mukanya langsung keruh. Semua pengikutnya marah lalu berteriak-teriak histeris. Mereka melolong seperti binatang liar. Saya ketakutan. Para prajurit itu mengangkat senjata seperti hendak mencincang apa saja yang ada di puskesmas. Semua pegawai meloncat lari menyelamatkan diri.

Karena bingung saya mundur menghampiri meja. Dengan panik, di belakang punggung tangan saya meraba-raba mencari sesuatu untuk bertahan. Kalau saya harus mati, saya tidak mau mati terlalu konyol. Kalau kalah, kalahlah dengan indah dan gagah, pesan orang tua saya waktu kecil.

Harapan saya ada gunting, pisau atau barang tajam lainnya, tidak terkabul. Di laci, tangan saya hanya menemukan copotan besi bendera mobil yang dikibarkan pada peringatan hari kemerdekaan. Saya genggam besi itu, lalu mencoba mengambil posisi bertahan. Saya bukan lagi dokter, saya penakut yang tiba-tiba begitu mencintai hidup walau betapapun berengseknya. .

"Diam!!!!" teriak anak kepala suku itu dengan suara menggeledek.
Teriakannya membuat semua terdiam. Saya gemetar. Besi bendera itu terlepas, tetapi cepat saya gapai lagi. Itulah satu-satunya pegangan saya. Anak kepala suku itu menghampiri saya, hangat nafasnya membuat saya tersiraf.

"Jangan tembak!!!"
Dengan gemetar saya tunjukkan itu bukan pistol. Itu hanya tiang bendera yang copot.
Anak kepala suku tertegun. Ia memperhatikan tiang bendera yang berisi merah-putih kecil yang sudah kumal. Tiba-tiba saya melihat peluang. Lalu entah dari mana datangnya keberanian, saya berbisik.
"Pahlawan tidak pernah mati. Semangat berjuang tidak bisa mati!"

Pemuda itu terpesona. Ia seakan-akan terpukul oleh suara saya. Orang-orang lain pun tegang. Mereka memandang kami dengan mata mencorong. Lutut saya tambah lemas. Saya tak sanggup lagi bicara. Apa pun yang akan terjadi, saya menyerah.

Anak kepala suku itu menggapai tiang bendera. Saya kira sebentar lagi dia akan menusukkannya ke dada saya. Tapi ajaib, tidak. Pangeran itu memandang bendera kecil itu dengan takjub, lalu ia menunjukkan kepada teman-temannya.

"Semangat berjuang hidup terus tidak bisa mati!" serunya.
Sedetik hening. Tetapi kemudian semua meledak, bersorak gegap-gempita.
Kemudian dengan khusuk mereka mengusung jasad almarhum dibawa ke desa mereka untuk dikebumikan.

Sejak itu, bukan orang mati, tetapi orang yang tidak mau mati yang datang ke puskesmas. Mereka tidak hanya mencari obat, tetapi terutama kasih-sayang. Kalaupun kemudian karena sudah ajal, ada orang sakit yang mati, tapi puskesmas tidak pernah lagi dianggap sebagai pembunuh. Saya sendiri tidak peduli lagi apakah saya masih seorang dokter atau sudah jadi dukun. Saya hanya ingin mencintai saudara-saudara saya itu. ***
(Jawa Pos, 16 Desember 2007)



Pemimpin
Oleh Putu Wijaya

Cemas karena anak-anak sekarang mulai apatis, tidak punya cita-cita, saya bertanya kepada cucu saya.
"Agus, nanti kalau sudah besar kau mau jadi apa?"
Cucu saya dengan tegas menjawab, "Mau jadi pemimpin."
Saya tertegun. Bangga karena penerus saya punya cita-cita besar. Perkara bisa kejadian atau hanya sekadar mengkhayal, tidak apa. Punya impian paling tidak membuat ada arah yang pasti di tengah kebingungan dunia yang edan ini.
"Jadi pemimpin?"
"Ya! Memang kenapa?"
"Tidak apa-apa. Semua cita-cita itu baik. Tapi kenapa kamu mau jadi pemimpin?"
Agus kontan menjawab seakan-akan pertanyaan itu sudah lama ditunggunya.
"Karena aku sudah bosan diperintah. Disuruh bangun pagi. Disuruh sekolah. Disuruh belajar. Disuruh nganterin pergi belanja. Disuruh ikut arisan. Disuruh nemenin kalau ada resepsi pernikahan. Disuruh jaga rumah. Disuruh anteng kalau ada tamu. Capek ah! Sekarang aku mau memerintah!"
"O jadi kamu pikir pemimpin itu tukang ngasih perintah?"
"Bukan tukang perintah doang, tukang larang juga! Tidak boleh begadang, tidak boleh keluar malam! Tidak boleh ngomong jorok! Tidak boleh main motor. Tidak boleh cemberut kalau ada tamu! Tidak boleh, tidak boleh, tidak boleh! Ini tidak boleh, itu tidak boleh, semuanya tidak boleh! Capek deh!"
"Itu artinya kamu mau bebas?!"
"Persis!"
Saya bengong.
"Kamu pikir pemimpin itu raja bebas?"
"Ya dong! Kalau tidak bebas itu bukan pemimpin."
"Salah! Pemimpin itu justru orang yang paling tidak bebas. Buat seorang pemimpin tidak ada hari Minggu, tidak ada hari libur, semua hari adalah kerja!"
"Itu pemimpin yang goblok!"
"Agus … "
"Kalau rakyat antre beli minyak tanah, pemimpin tinggal makan saja, yang masak kan rakyat. Masak pemimpin masak sendiri. Kalau rakyat tidak boleh masuk jalan bebas kendaraan bermotor, pemimpin bablas saja nggak ada yang berani larang. Kalau rakyat dibakar karena maling ayam, pemimpin yang makan uang rakyat triliunan diampuni dan dijadikan pahlawan. Kalau rakyat ketiduran waktu kerja dipecat, tapi pemimpin main SMS dan ngorok, yang selingkuh pada jam kerja, malah jadi selebriti! Masak Kakek tidak tahu?"
Saya mau menjawab tapi Agus langsung angkat tangan.
"Stop jangan ceramah, aku ada pekerjaan yang lebih penting!"
"Apa?"
Cucu saya langsung meloncat ke dekat TV. Sebab jam menunjukkan pukul 5. Itu jatahnya untuk main PS2 sampai pukul 6.
Saya hanya bisa mengurut dada. Berdebat dengan cucu tidak mungkin. Saya kira kunci konsleting itu pada orang tuanya. Anak saya dan mantu saya hampir tak pernah ada di rumah. Keduanya sibuk. Saya hampir tidak mengerti, apa gunanya rumah kalau mereka lebih banyak tidur di hotel karena ikut seminar dan rapat-rapat yang tidak satu pun yang tidak penting.
Saya kira mereka sudah jarang tidur bersama. Mungkin itu sebabnya Agus tidak punya adik lagi. Kalau sudah sampai di situ, saya tambah bingung. Pernikahan sekarang memang beda dengan zaman saya dulu. Dulu pernikahan adalah mencari teman tidur. Untuk berbagi suka-duka bersama. Sekarang perkawinan seperti mendirikan PT, untuk mengumpulkan duit.
Memang cucu saya jadi tidak kekurangan apa pun. Segala fasilitas yang dia butuhkan ada, karena penghasilan anak saya dan istrinya berkelebihan. Sekolah cucu saya juga lebih mahal dari sekolah kedokteran. Tapi begitulah, keduanya tidak pernah ada waktu mendampingi anaknya berkembang. Akibatnya cucu saya menderita kemiskinan jiwa.
Lalu saya minta waktu untuk bicara pada anak saya. Saya jelaskan bagaimana bahayanya membiarkan anak berkembang sendirian. Sekolah mahal, segala fasilitas melimpah, tidak cukup untuk menggantikan kasih-sayang yang hilang, karena anak tidak bisa tumbuh tanpa doping kasih-sayang orang tua.
"Kurangi sedikit aktivitas kalian. Beri waktu sedikit saja buat Agus," kata saya.
Anak saya, juga mantu saya, paham apa yang saya katakan. Mereka kemudian mencoba untuk menyediakan waktu buat Agus. Tapi apa yang terjadi. Pertengkaran.
Agus merasa tersiksa. Gerak-geriknya yang diawasi dengan berbagai halangan, membuat dia senewen. Rumah dirasanya menjadi neraka. Orang tuanya juga kaget dan merasa Agus tidak mampu untuk mempergunakan kebebasan. Lalu Agus dimasukkan ke dalam asrama.
Sejak itu saya yang kehilangan. Buat lelaki tua yang tak punya rencana lagi, cucu adalah segala-galanya. Memiliki cucu lebih dari memiliki anak, kebahagiaannya bertumpuk. Kehadiran seorang cucu adalah jaminan dada lapang, karena tahu riwayat kita akan berkelanjutan, walaupun nanti kita sudah tak hadir lagi.
Saya mencoba untuk bertahan. Rasa sepi itu saya injak. Pagi hari, saya kehilangan burung yang menyanyi. Siang hari, berjam-jam waktu lambat berjalan, sehingga saya jadi kelimpungan. Tidur bosan. Nonton televisi menyebalkan. Ngobrol sama istri, nenek cucu saya, menjengkelkan. Semua omongannya sudah saya tahu, seperti juga sudah saya hapal seluruh lekuk tubuhnya termasuk jumlah tai lalatnya.
Malam hari saya tak bisa tidur. Saya coba jalan-jalan keluar rumah. Tapi baru satu kali, saya langsung masuk angin. Istri saya marah-marah dan menuduh saya sedang memasuki puber keempat. Nggak akan ada artis yang mau sama tua bangka seperti kamu lagi, biar pun duit kamu segepok, katanya, sehingga saya malu.
Akhirnya saya mulai menghibur diri dengan ngomong sendiri. Dan ini membuat saya dibawa ke seorang psikolog. Untung dokter lulusan Jerman itu pintar. Dia tidak memberikan nasehat supaya saya kawin lagi. Dia hanya minta cucu saya ditarik dari asrama. Karena dia menyimpulkan bahwa jiwa saya sudah terganggu kehilangan sebuah cahaya hati.
Tapi anak saya tidak peduli. Buat dia lebih penting anaknya aman. Saya, bapaknya, mungkin dianggap sepeda tua, karatan juga biarin saja. Cucu saya tetap di asrama. Hanya sebulan sekali boleh pulang untuk mengobati rindu saya. Apa boleh buat. Negosiasi yang tidak terlalu menguntungkan itu terpaksa saya terima juga.
Ketika cucu saya pulang pertama kali, saya limpahi dia dengan seluruh kerinduan. Saya berikan dia hadiah yang selalu dirindukannya, tapi tak pernah dikabulkan oleh orang tuanya. Sebuah motor balap.
Agus senang sekali. Dia memeluk saya, sehingga saya merasa hidup lagi. Dipeluk oleh cucu seribu kali lebih nikmat dari dipeluk oleh istri yang memeluk karena tugas. Agus langsung terbang ke sana-kemari dengan motor itu. Hati saya rasanya pecah karena melihat kegembiraannya. Rumah kembali nyaman. Dan saya ingin hari lebih panjang. Makanan yang selalu saya kutuk saya kecap. Tidur pun jadi asyik.
Tapi itu hanya satu hari. Motor cucu saya ditemukan ringsek diinjak truk. Untung truk itu sedang berhenti. Rupanya ada yang mencoba untuk meniru kelakuan jagoan dalam film yang nyerosot menerobos bawah truk sambil memiringkan kendaraannya.
"Untung Agus tidak apa-apa, hanya motornya saja yang hancur!" kata istri saya menyumpahi perbuatan saya yang dianggapnya sebagai dosa tak berampun itu.
Saya tidak bisa memberikan pembelaan. Meskipun yang mengendarai motor itu bukan Agus tapi kawannya. Artinya peristiwa itu tidak bisa dianggap sebagai kesalahan Agus. Juga tidak bisa dianggap sebagai contoh bahwa Agus memang tidak pantas naik motor. Contoh itu justru penting untuk menjelaskan pada Agus bahwa naik motor itu berbahaya bagi orang yang tidak terlatih. Jadi dia tidak akan naik motor karena dilarang, tapi karena memang dia mengerti dia tidak siap.
Sejak itu Agus tidak pulang lagi. Kalau liburan, orang tuanya menjemput. Lalu mereka keluar kota berlibur. Saya tidak diberi kesempatan dekat lagi dengan cucu karena dianggap berbahaya. Itu berlangsung cukup lama. Tapi untunglah saya tidak jadi gila karena itu. Karena perlahan-lahan kemudian saya mengalihkan perhatian saya pada istri saya.
"Ternyata manusia itu bukan besi tua, tapi tape yang makin matang makin menendang," kata saya.
"Maksudmu siapa?"
"Kamu!"
Meskipun itu hanya rayuan gombal, ternyata istri saya senang. Dan itu memperbaiki hubungan kami menjadi segar lagi setelah bertahun-tahun terasa hambar. Aneh, meskipun dia sudah tua, tapi kalau diperhatikan sebenarnya dia masih menarik. Bahkan kemudian saya tahu bahwa dia masih tetap romantis.


***
Beberapa tahun kemudian, ketika cucu saya lulus SMA saya kembali bertanya-tanya. Saya cemas, karena di depannya sekarang terbentang banyak jalan yang harus dipilih dengan tepat. Salah pilih resikonya berat.
"Sebelum memastikan kamu mau melanjutkan ke mana, kamu harus tentukan dulu sebenarnya kamu mau jadi apa, Agus?"
Cucu saya yang sudah mulai pakai kumis menjawab tanpa ragu-ragu.
"Aku ingin jadi pemimpin."
”Lho, itu kan cita-citamu yang dulu?"
"Memang!"
"Kenapa?"
"Sebab pemimpin itu punya banyak fasilitas yang tidak dimiliki orang biasa!"
"Fasilitas?"
"Ya! Kemudahan-kemudahan. Rumah, kendaraan, keamanan, kesejahteraan, semuanya dicukupi. Tidak perlu memikirkan apa-apa, semuanya sudah ada. Masak pemimpin naik angkot? Paling sedikit Mercy. Ngapain naik bus, pasti naik kapal terbang dan mesti kelas satu. Masak pemimpin ngontrak rumah, pasti rumah bertingkat dengan taman dan penjaga dan pengawalan kalau lagi jalan. Masak pemimpin makan nasi kucing, pasti steak sirloan. Masak pemimpin gajinya sama dengan tukang ojek, paling sedikit 45 juta satu bulan, belum lagi uang sidang dan berbagai fasilitas plus kemudahan lain. Belum lagi hadiah-hadiah, sumbangan, kado, bingkisan dari masyarakat dan para konglomerat yang mendukung,. Paling sedikit kunci mobil yang harganya 3 miliar."
Saya tercengang.
"Lho kamu pikir pemimpin itu seperti itu?"
"Lebih dari itu, Kek!"
"Masak?"
"Ya! Lihat saja pemimpin-pemimpin itu. Pasti kaya. Mobilnya paling sedikit 5. Rumahnya di mana-mana. Padahal gajinya kecil. Berapa sih? Tapi kenapa bisa punya hotel, perkebunan, saham, pabrik, puluhan perusahaan?"
Saya mulai marah. Jelek-jelek saya juga pernah jadi pemimpin. Minimal saya menjabat RT selama 30 tahun di pemukiman kami dulu.
"Pemimpin itu tidak begitu!"
"Memang tidak! Pemimpin itu abdi masyarakat. Aturannya dia orang kelas dua, karena dia hanya mewakili rakyat. Wakil kan orang suruhan. Tapi kalau orang datang maksa-maksa ngasih kunci mobil, kunci rumah, ngasih duit segepok bahkan ngasih perempuan, bagaimana bisa menolak? Orang bisa tersinggung, terhina, marah kalau ditolak mentah-mentah. Jadi pemimpin harus bisa memuaskan hati rakyat. Bukan hanya rakyat yang memerlukan sandang-pangan, juga rakyat yang kelebihan dan ingin memberi. Ya kan, Kek?"
Saya mau membantah. Tiba-tiba cucu saya mengulurkan sebuah kotak kecil.
"Apa itu?"
"Hadiah buat ulang pernikahan Kakek dan Nenek. Agus beli dengan uang tabungan Agus sendiri."
Cucu saya kemudian membuka kotak itu. Istri saya yang nyamperin ketika melihat cucunya mengulurkan sebuah kotak, menjerit.
"Berlian!"
"Ya. Ini kalung berlian untuk Nenek dan jam tangan untuk Kakek!"
Sebelum saya bisa menjawab, istri saya sudah langsung menyambut kotak itu dan memeluk cucunya. Lalu ia terbang ke tetangga untuk menyiarkan kebanggaannya mendapat hadiah berlian dari cucu, walaupun saya yakin berlian itu palsu.
"Kakek boleh menolak kalau berani," kata Agus.
Saya tidak bisa menjawab. Saya mengerti apa yang hendak dikatakan oleh cucu saya. Bagaimana saya akan bisa menolak, kalau istri saya, neneknya itu, begitu bangga dengan pemberian itu.
Saya lupakan saja soal berlian itu. Kalau Agus memang mau jadi pemimpin, ya sudah jadiin saja. Saya mendukungnya. Siapa tahu dia akan menjadi pemimpin yang lain. Pemimpin yang berbeda dari pemimpin-pemimpin yang selama ini kita sesali.

Dengan sungguh-sungguh saya ikuti sepak terjang Agus dari jauh. Sekolahnya melaju dengan bagus. Akibat tempaan asrama yang ketat, dia menjadi gigih dan berdisiplin. Tidak jauh dari target yang sudah tersedia, dia bisa menyelesaikan pendidikan tingginya dengan baik. Tidak istimewa, tetapi dia lulus tepat pada waktunya.
Agus langsung bekerja. Di samping itu seperti juga orang tuanya, ia aktip berorganisasi. Dalam waktu yang pendek, karirnya menanjak. Kemudian dengan tidak terasa, ia mulai mendapat jabatan penting. Lalu akhirnya pegang pucuk pimpinan.
Agus yang nakal itu kini sudah jadi orang. Ia menikah dengan seorang bekas Ratu Dangdut. Kehidupan keluarganya serasi. Anaknya sudah dua. Namanya bagus. Masyakat mencintainya. Dia benar-benar memenuhi hasratnya untuk menjadi seorang pemimpin.
Itulah saatnya saya kembali bertanya. Lalu saya mencari kesempatan baik dan bicara dari hati ke hati.
"Agus," kata saya dengan blak-blakan, "sebagai lelaki dengan lelaki, Kakek ingin bicara terus-terang kepada kamu sekarang."
"Apa yang bisa saya bantu, Kek?"
"Tidak. Kakek tidak minta dibantu. Kakek hanya mau bertanya. Sekarang kamu sudah jadi pemimpin."
"Ya lebih kurang begitu kata orang."
"Itu berarti kamu sudah mencapai cita-citamu."
"Ya, bisa dikatakan begitu."
"Jangan menjawab dengan: bisa dikatakan begitu. Yang tegas saja. Memang kamu sudah mencapai cita-citamu jadi pemimpin. Betul tidak?"
"Ya, betul tapi mungkin tidak seperti Kakek bayangkan."
"Maksudmu?"
"Saya memang seorang pemimpin sekarang."
"Dengan segala fasilitas dan kemudahan yang pernah kamu rindukan dulu kan?!"
Agus tersenyum.
"Betul."
"Tidak ada yang memerintah kamu lagi. Karena kamulah yang memberikan perintah?!"
"Ya memang."
"Kamu dapatkan banyak fasilitas yang tidak dimiliki oleh rakyat biasa. Orang antre mau beli karcis Java Jazz, nabung untuk beli karcis Lionel Richie, setumpukan karcis diantarkan kepada kamu dengan jemputan mobilnya sekalian. Betul?"
Agus ketawa.
"Betul."
"Orang kepingin punya perusahaan untuk jaminan masa tua, tapi pengusaha malah datang kepada kamu dan minta kamu jadi Presdir perusahaan penerbangan baru. Betul?"
Agus mengangguk.
"Betul."
Saya tertawa, karena si Agus cucu saya tidak bisa membantah. Saya juga bangga, sebab apa yang dilamunkannya sudah jadi kenyataan. Itu tidak akan terjadi kalau dia tidak ampuh dan hebat.
"Kakek bangga karena kamu tidak hanya mimpi dan melamun tapi bekerja nyata!"
Agus ketawa.
"Terima kasih, Kek. Memang betul apa yang Kakek bilang. Tapi terus-terang, cara Kakek melihat itu tidak adil."
"Maksudmu?"
"Ya Kakek menceritakan semua itu seperti menceritakan tentang orang yang mendaki Gunung Himalaya, lalu menancapkan bendera di puncaknya."
"Tapi memang begitu kan? Kamu seorang pendaki gunung yang sukses!"
Muka Agus tiba-tiba murung.
"Seorang pemimpin tidak sama dengan pendaki gunung yang sukses, Kek. Kelihatannya memang sama, tapi beda. Pendaki gunung setelah sukses tinggal menikmati prestasinya. Tapi seorang pemimpin?"
"Sama kan?"
"Tidak. Sesudah menjadi pemimpin, aku tidak bisa lagi menjadi Agus, cucu Kakek. Aku harus memimpin. Aku harus bertanggung jawab terhadap segala hal. Bahkan terhadap semua kekeliruan dan dosa-dosa orang lain yang menjadi tanggung jawabku. Aku harus mengurus banyak hal yang tidak ada hubungannya dengan aku. Aku tidak punya hak untuk tertawa, tersenyum, apalagi tidur seperti manusia biasa. Aku sudah jadi mesin, robot, bulan-bulanan dan tong sampah. Ada ayam mati juga aku yang ditoleh dan ditanya kenapa? Ada orang kejepit juga aku yang disalahkan, sebab di puncak segala-galanya aku yang harus bertanggung jawab."
Agus berhenti bicara dan menahan dirinya, sebab kelihatannya semua mau tumpah. Aku belum pernah melihat dia curhat dan menderita seperti itu.
"Aku sudah mati, Kek."
Saya tercengang. Ketika ingin menjawab untuk menghiburnya, tiba-tiba HP dan telepon bunyi bareng. Agus cepat menggapai. Mukanya langsung pucat. Lalu ia berdiri.
"Maaf Kek, aku terpaksa pergi. Anak buahku ada yang tertangkap oleh KPK, kasus penyuapan uang negara puluhan miliar. Nanti kita lanjutkan!"
Saya tidak bisa bilang apa-apa. Tiba-tiba segala kebanggaan saya rontok. Hati saya terenyuh melihat cucu saya sudah dijadikan mayat seperti itu. Pasti itu kesalahan anak buahnya, tetapi kalau ada apa-apa dia yang akan diseret, karena dialah puncak yang tertinggi.
Di tempat tidur, saya sampaikan semua itu pada istri saya. Perempuan tua itu tak jadi ngorok. Matanya nyap-nyap sepanjang malam. Kami terkenang pada masa lalu. Teringat Agus yang nakal, tetapi ceria dan hidup. Kini cucu kami sudah begitu jauh di awang-awang dan menggelepar tak berdaya karena terikat oleh begitu banyak tanggung jawab.
"Kita tidak bisa membiarkan cucu kita mati," kata istri saya.
"Ya. Untuk apa jadi pemimpin, kalau harus mati."
"Kalau begitu suruh dia berhenti dan jadi orang biasa saja. Yang penting dalam hidup ini kan kebahagiaan. Buat apa mendapat fasilitas dan bisa memerintah kalau tidak bahagia?"
"Betul sekali!"
Kemudian saya mencari kesempatan yang tepat untuk bicara hati ke hati lagi dengan Agus. Lama sekali baru kesampaian. Walaupun dia cucu saya, tapi sejak jadi pemimpin, dia memang sudah seperti orang lain yang jaraknya ribuan kilometer.
"Agus, Kakek sudah berembuk dengan Nenek. Setelah kami pertimbangkan masak-masak, melihat keadaanmu serta mendengarkan semua penderitaan yang harus kamu tanggung sebagai pemimpin, kami mendesak, lebih baik kamu berhenti. Kami lebih senang kamu tetap hidup daripada menjadi pemimpin, tapi mati."
Agus tersenyum.
"Terima kasih, Kek. Aku juga sudah berusaha, tapi tidak bisa."
"Tidak bisa? Apa susahnya berhenti?"
"Tidak bisa, Kek."
"Ah, jangan bilang, tidak ada yang tidak bisa mengganti. Lihat di sekitarmu, mereka antre seabrek-abrek bahkan gontok-gontokan untuk mengganti, kalau kamu mau mundur."
"Itu betul."
"Makanya berhenti saja!"
"Tidak bisa, Kek!"
"Kenapa?"
Agus tersenyum pahit.
"Kenapa?"
"Karena, meskipun mati, jadi pemimpin itu ternyata enak, Kek." ***
Astya Puri, 30 April 2008

(Sumber: Jawa Pos 4 Mei 2008)