Tampilkan postingan dengan label Suara Merdeka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suara Merdeka. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Desember 2010

Gambar Raksasa
Oleh S Prasetyo Utomo


Tiap kali gadis kecil itu menggambar, yang dilukisnya manusia menyeramkan. Manusia yang rusak wajah dan tubuhnya. Nira — gadis kecil anak Mbak Dilah— menamakan lukisannya itu sebagai raksasa menyeramkan. Ini untuk kali kelima Nira bersimpuh di sanggar lukis Aji, bersama anak-anak yang lain, suntuk menyapukan kuas, dan yang dilukisnya selalu sama: manusia buruk rupa. Manusia dengan muka meleleh, mata merah, rambut panjang menggumpal, bibir setengah menganga, lidah terjulur.
Aji merasa heran. Di sanggar lukisnya, yang diikuti anak-anak sekitar rumahnya, hanya Nira —gadis kecil yang tak diketahui siapa ayahnya— selalu melukis manusia yang menyeramkan.
Tidak melukis sawah, gunung, matahari, awan dan burung yang melintas di atasnya. Tidak melukis binatang-binatang di padang rumput hijau. Tidak juga melukis anak-anak sedang bermain bola di tanah lapang.
Ketika anak-anak istirahat dan membeli makanan yang dijajakan di pelataran
rumah Aji, Nira tak mau jajan.
“Mau kuberi uang untuk jajan?“ Menggeleng, gadis cilik itu menunjukkan buah kedondong dari saku bajunya. Buah kedondong itu diambilnya dari pelataran rumah Aji, dan biasa dimakannya sewaktu istirahat. Bila ia berangkat ke sekolah, selalu mengambil dulu beberapa buah kedondong, dimasukkan begitu saja ke kantong baju.
“Siapa yang kaulukis ini, Nira?“ “Raksasa yang selalu masuk ke rumahku bila malam.“
“Kau melihatnya?“ Mengangguk, sedikit takut, ia menukas, “Ibu yang membukakan pintu untuknya, bila aku sudah tidur. Raksasa itu masuk kamar Ibu. Aku takut.“
“Apa yang mereka lakukan?“ “Bercakap-cakap. Menjelang pagi ia pergi.“
Nira tak berani membawa pulang lukisan raksasa buruk rupa. Ia menyerahkannya pada Aji. Ini lukisan kelima yang memberi gurat lebih menampakkan kepedihan raksasa buruk muka itu, rasa malu, dan geram pada sepasang matanya.
Gadis kecil itu segera meninggalkan sanggar, menghambur ke pelataran, mencari buah kedondong. Lahap sekali ia memakannya. Tanpa dicuci. Tanpa dikupas.

***

Berangkat ke surau, dingin kabut masih menggigilkan. Aji membuka pintu sanggar yang terletak di samping rumah. Terkesiap, ia melihat bayang lelaki buruk rupa meninggalkan rumah Nira. Tercium pekat bau lumut hutan yang melekat pada tubuh lelaki itu. Melintas cepat seperti bayangan, lelaki buruk rupa itu menyusup dalam gelap. Menyusup ladang ke arah hutan. Kepak kelelawar, dan suara buah-buah kedondong luruh, mengejutkan Aji. Ia mulai bisa melihat sosok raksasa dalam lukisan Nira: lelaki dengan wajah dan tubuh yang rusak, rambut menggumpal di kepala, terjuntai tak beraturan sampai bahu, sepasang mata garang dan menyembunyikan luka.
Tercium harum pisang goreng dari warung Mbak Dilah, saat Aji meninggalkan surau. Ia tak pernah mampir untuk menikmati kopi dan pisang yang mengepul panas baru diangkat dari penggorengan. Tapi kali ini ia sangat ingin duduk di warung itu, bersama kulikuli panggul yang mengangkut barangbarang dari truk ke gudang. Deretan gudang memanjang seluas bekas lahan ladang penduduk kampung pinggir kota ini. Tiap hari —berganti-ganti, tak pernah luang— truk membongkar muatan,
memerlukan kuli panggul untuk memikulnya di atas pundak mereka.
Minum kopi, makan pisang goreng, atau sarapan di warung Mbak Dilah, jadi terasa sedap di mata Aji. Belum pernah sekalipun, Aji mencecap kopi di warung itu.
Dalam remang pagi Aji melihat Kusno, makelar tanah, melintas di bawah pohon kedondong di pelataran rumah Aji. Ia menyapa ramah. Selalu begitu. Ia berlaku santun, dan menyelinap ke warung Mbak Dilah ketika belum seorang pun duduk di dalamnya. Memesan kopi. Merokok. Kuli-kuli panggul pun berdatangan. Terdengar perbincangan mereka yang akrab.
Dari teras rumahnya, Aji mendengar percakapan Kusno dengan para kuli.
“Kalian pernah lihat lelaki buruk rupa memasuki kawasan ini?” tanya Kusno.
Tentu ini mengenai raksasa buruk rupa yang dilukis Nira, pikir Aji.
“Menjelang subuh aku pernah melihatnya!” “Itu lelaki gila yang menjijikkan!” “Bagaimana kalau kita tangkap saja lelaki buruk rupa itu?” kata Kusno, “Kita keroyok. Biar mampus!” Perbincangan di warung Mbak Dilah menjadi riuh. Aji tak lagi bisa menyimaknya. Kian banyak kuli panggul berdatangan. Kusno paling lama menikmati kopi di warung.
Aji memasuki sanggarnya. Ia meneruskan lukisan yang ditinggalkannya menjelang dini hari tadi. Bekerja dalam
kesunyian, dalam kesendirian. Aroma embun di dedaunan pohon sekitar sanggarnya mengembalikan kesegaran tubuhnya untuk terus melukis.
                                                                   
* * *

Lukisan raksasa buruk rupa yang diserahkan Nira kali ini sungguh mengharukan. Raksasa itu tidak lagi garang, geram mengancam dan menakutkan.
Raksasa buruk rupa itu menangis.
Lama Aji memandangi lukisan itu.
Ia tak bertanya pada gadis kecil itu, mengapa raksasa buruk rupa yang digambarnya menangis.
“Kasihan raksasa itu,” kata Nira, “Ia tak lagi bisa mengunjungi rumah kami.Orang-orang mengancam akan membunuhnya.” “Kau lihat sendiri raksasa itu nangis?” “Tidak. Aku pura-pura tidur ketika raksasa itu datang. Ibu bercakap-cakap dengannya. Aku dengar suara tangisnya.
Tapi Ibu menghibur, bakal mengunjungi tempat tinggal raksasa di hutan.”
Buru-buru Nira bangkit.
Meninggalkan sanggar. Menghambur ke pelataran. Bermain dengan anak-anak yang lain. Memungut buah kedondong yang jatuh. Mengusap-usapnya dengan tangan.
Memakannya begitu saja. Lahap.

***

Lewat tengah malam, Aji baru saja selesai melukis. Ia duduk di teras sanggar lukisnya. Mendengar suara kepak sayap kelelawar pada rimbun pohon kedondong, merontokkan buah-buah itu. Warung Mbak Dilah telah lama tutup. Lampu rumahnya dipadamkan. Tapi Aji masih merasakan kesibukan perempuan itu dalam warungnya.
Menyelinap diam-diam Mbak Dilah meninggalkan warungnya. Mengunci pintu dari luar. Buru-buru ia berjalan kaki. Bukan ke arah kota. Ia melangkah ke arah ladang dan menyusuri jalan setapak ke hutan. Di dalam hutan itu --kata orang yang pernah berkunjung ke sana-terdapat sebuah gua, kera-kera beranak pinak di dalamnya. Orang menamakannya Goa Kera.
Tergoda ingin mengetahui kebenaran lukisan-lukisan Nira, Aji diam-diam mengikuti langkah Mbak Dilah. Jalan setapak yang dirambah Mbak Dilah sempit dan dijalari semak berduri. Langkah Mbak Dilah gesit dalam gelap. Jalan setapak di ladang ketela pohon diterobosnya.
Menuruni jurang. Menyeberangi sungai.
Aji kehilangan lacak. Alangkah gelap, sunyi dan rapat pepohonan berjajar di seberang sungai. Bila ia terus menerobos pekat hutan di seberang sungai akan mencapai Goa Kera.
Termangu sesaat di tepi sungai, Aji memutuskan untuk kembali ke kampung.
Ia merasakan kebenaran lukisan Nira.
Gadis kecil itu memang melihat manusia buruk rupa yang mungkin tinggal di Goa Kera. Tapi siapakah lelaki buruk rupa yang diserupakan Nira sebagai raksasa? Di atas ladang menjelang kampung, Aji menghentikan langkah di ketinggian tanah berbukit. Ia menatap atap-atap gudang yang berderet-deret, lampu berpendaran, berhimpitan persis dengan kampung. Gudang-gudang itu dulu ladang yang digarap orang-orang kampung, dan dijual pada seorang juragan. Kusno berperan menjadi makelarnya. Kini orangorang yang dulu berladang memilih hidup sebagai kuli panggul.
Satu-satunya petani ladang yang tak mau menjual ladangnya adalah Sueb, adik bungsu Kusno. Sueb memilih tinggal di gubuk, tak mau pergi dari ladang yang dikukuhinya. Tapi tengah malam gubuk Sueb terbakar. Orang tak menemukan bangkai Sueb. Tak diketahui siapa pun, apakah Sueb sudah mati atau masih
hidup.
Lambat-lambat Aji pulang.
Memasuki sanggar lukisnya: mengamati lukisan-lukisan Nira, raksasa buruk rupa yang geram, dan yang terakhir, raksasa buruk rupa yang menangis.

***

Kali ini dada Aji berdebar-debar menanti lukisan Nira diserahkan padanya.
Gadis kecil ini paling asyik melukis dengan kesuntukan. Ia tak pernah berpaling ke mana pun. Tidak seperti gadis-gadis kecil lain yang berlari-larian, menumpahkan cat, atau membasahi kertasnya dengan air.
Raksasa yang dilukis Nira tidak berwajah geram. Raksasa buruk rupa itu tertawa, menampakkan sepasang mata ceria. Latar belakang lukisan itu goa berlumut, dan seekor kera kecil dalam pangkuan raksasa. Nira menyerahkan lukisan raksasa itu dengan wajah riang, tersenyum, dan menanti pertanyaan Aji.
“Kau kunjungi raksasa itu ke gua?“ “Aku mengikuti Ibu. Tengah malam Ibu meninggalkan rumah, menemui raksasa itu dalam gua. Raksasa itu tertawatawa. Bahagia sekali.“
“Kau menunggui pertemuan mereka sampai selesai?“ “Aku takut, segera berlari pulang.
Sendirian.“
Buru-buru Nira berlari ke pelataran.
Menyusul teman-temannya bermain.
Mencari-cari buah kedondong yang runtuh. Memungutnya yang masih utuh.
Mengusap-usap tanah yang melumurinya.
Memakannya begitu saja 
(Suara Merdeka Edisi 5 Desember 2010)

Senin, 22 November 2010

Macondo, Melankolia
Oleh Pringadi Abdi Surya


Alina, tolong aku!“ “Kamu di mana sekarang?“ “Di kartu pos.“
“Kartu pos?“ “Iya, aku terkurung di dalam kartu pos.“
“Sontoloyo!“ Begitulah, Alina tidak percaya aku berada di dalam kartu pos. Seorang pria berkaca mata hitam dan bertopi khas koboi tibatiba menarik kerah bajuku sebelum memukul mataku --dengan tenaga yang cukup untuk meninggalkan lebam-lalu mendorongku masuk ke dalam kartu pos. 
Beruntung, setelah beberapa menit aku terpekur di dalam, memandangi lanskap kota tua yang sepertinya tak berpenghuni, kafekafe yang lengang, gerobak buah yang ditinggalkan, dan sobekan koran minggu yang terbang ditiup angin, aku sadar aku membawa handphone dan meski sisa pulsanya tidak cukup buat menelepon, masih ada sisa bonus S M S harian. Dan satu-satunya yang kupikirkan (dan berada dalam pikiranku) cuma Alina. Karena itulah aku mengirim pesan singkat kepadanya. 
Beberapa saat yang lalu, aku berjanji untuk bertemu Alina di Kota X. Butuh waktu sekitar satu jam untuk mencapai kota X dari kota K. Aku sengaja berangkat lebih cepat karena hari ini aku tidak boleh terlambat. Tiga tahun sudah kami berpacaran dan memang hubungan kami cukup bermasalah dengan janji. Biasanya aku yang terlambat. Dan Alina akan menyambutku dengan muka yang cemberut dan kalimat-kalimat kemarahan yang biasanya bisa kuredakan dengan setangkai bunga, sebuah cincin, atau tingkah-tingkah lucu yang kulakukan dengan spontan seperti tiba-tiba naik ke meja lalu mengatakan cinta, atau maju ke area pemain band kafe dan mengambil gitar, menyanyikan lagu yang romantis untuk membuat hatinya luluh. Tetapi entahlah kali ini, sebuah mobil yang dikendarai ugal-ugalan di belakangku tiba-tiba menabrakku sampai mobilku terpental beberapa meter. 
Beruntung aku tidak apa-apa dan keluar dengan payah. Belum sempat aku meminta pertanggungjawaban, orang itu melakukan apa yang kujelaskan sebelumnya --mengurung aku di dalam kartu pos! Padahal hari ini aku mau melamar Alina dan waktu sudah mulai melewati pukul yang dijanjikan.
***
Selamat datang di Macondo 1), di kota yang tak pernah mengubah Anda menjadi tua, di kota yang segalanya tampak serbaluar biasa, burung-burung tak pernah berhenti terbang, semua anak bermain layang-layang, dan tak pernah ada pintu gerbang --semua bebas datang atau pergi atau kembali! Padahal pemandangan ini tampak seperti kota mati. Seperti habis terkena anima 2) --semua penduduknya diserap ke langit! Kota mati yang kutahu, selain Gunkanjima (sebenarnya bernama asli Hashima, tapi perawakannya yang seperti kapal perang itu membuatnya dinamakan demikian), memang rata-rata lahir dari pertambangan yang usai atau hubungan antarmanusianya yang masai. Mungkinlah, jika aku bertengkar dengan Alina (dalam sebuah pertengkaran akibat perselingkuhan -alasan satu ini memang tidak termaafkan), kekisruhannya akan menyaingi Tarakan yang seketika bisa membuat toko-toko tutup dan sekolah diliburkan.
Sobekan kertas koran yang tertiup angin itu mendadak berhenti tepat di depan kakiku. Aku menunduk dan dari posisi ruku' kutengadahkan kepala mengikuti arah jalan. Pikiranku menebak-nebak ke mana jalan ini menuju. Berharap ada satu pintu jalan keluar yang akan mempertemukan kembali dengan Alina, ah, atau aku (kalau bisa) ingin menarik Alina ke dalam kota ini saja. Sepertinya akan jauh lebih romantis, berada di kota ini berdua dengan Alina, bahkan takkan malu-malu kuteriakkan cinta, memeluk dan menciuminya seolaholah tidak akan pernah ada ciuman lagi setelahnya.
“Pikiran yang bodoh!“ Ya, memang pikiran yang bodoh.
“Kau tak akan bisa keluar dari sini.“
Seorang pria, dengan janggut keputihan dan kacamata baca yang tua sedang berjongkok di atas cerobong asap. Ia bercelana jins belel dan kaos putih kumal (yang kuduga bukan karena tak bisa mencuci, tapi memang airnya yang tak cukup bersih).
“Panggil aku Marquez.“
“Kau bisa membaca pikiranku?“ “Kau tidak sadar...kalau kau itu seperti sebuah halaman yang memberikan pembacaan utuh kepada pembaca.“
“Maksudmu?“ “Seratus tahun kesunyian...Seratus tahun kesunyian adalah hukuman yang kau terima hari ini, dan nyaris empat ribu hari setelahnya.“ Marquez tua menghela napas sebentar, “Dan tidak pernah ada malam.“
Bagaimana menghitung hari jika tak ada malam? Dan jika benar Macondo seperti yang tertera di papan jalan, kenapa Marquez tampak seperti lelaki tua yang payah? 
“Aku tidak menua...Macondo tidak berbohong.“
Tapi aku tidak percaya.
***
Tiga tahun sudah kami berkenalan. 
Di sebuah resto sea food dengan harga terjangkau untuk anak muda, aku melihatnya duduk sendirian. Hari itu, ia mengenakan busana yang manis sekali. Kaos warna oranye yang agak ketat (dalam arti membikin bentuk tubuhnya terlihat cukup jelas) membuat kulit putihnya itu menjadi terlihat benar-benar putih. Rambutnya sebahu. 
Dan tangannya sedang asyik menekan keypad handphone. Elyasa, sahabatku, bilang kalau wanita sedang sendirian dan bermain handphone, itu artinya dia sedang menunggu seseorang dan jangan diganggu. Tapi, sebut namaku tiga kali (Sakum, Sakum, Sakum) dan segala urusan akan menjadi mudah! “Sendirian?“ “Seperti yang kau lihat.“
“Sakum.“
“Aku tidak bertanya.“
“Siapa yang kamu tunggu?“ “Seorang lelaki.“
Aku pikir dia bercanda dan kuberanikan menarik kursi untuk kududuki. Ya, cuma perlu sedikit keberanian untuk membuat cinta hadir dan dekat. 
“Aku benar-benar sedang menunggu seorang lelaki.“
“Mungkin lelaki itu aku.“
Tiba-tiba Alina berdiri dan melenggang pergi. 
Satu minggu kemudian, minggu yang tak pernah aku sangka-sangka dan sejak saat itulah aku yakin akan adanya jodoh, ikatan takdir, serendipity, atau apalah namanya, di antara kami. Dia sedang duduk di halte yang sama denganku, dan masih menggunakan kaos oranye --tentu dengan motif yang berbeda (sepertinya memang warna kesukaannya). “Sedang menunggu lelaki?'' Dia menoleh.
“Kaumenguntitku?“ Tidak. 
“Tiga tujuh derajat celcius, dunia semakin panas ya, eh, aku belum tahu namamu.“
“Alina.“
“Dan menunggu lelaki?“ “Dia tidak pernah datang.“
Aku ingin bertanya lebih jauh, tetapi menurut Freud, dalam kondisi seperti ini tidak begitu baik untuk terus-menerus memberikan pertanyaan. Karena hal ini bisa dianggap sebagai desakan. Perempuan yang sedang sedih tidak suka merasa didesak. Perihal demikian malah membuat jarak. 
“Dia mengirimiku kartu pos. Kami bertemu di dunia maya.“
Aduh, sebenarnya aku tak suka mendengar cerita klasik semacam ini. Seseorang berkenalan dengan seseorang yang lain di dunia maya, beberapa kali chatting, bertukar email, lalu jatuh cinta. Bah! Lelaki itu harus berani bertukar mata, dan sedikit kegilaan akan membuat kita dikenang. Minimal hadir dalam ingatan! “Kau tahu namanya, alamatnya?“ Alina menggeleng. Dia menunjukkan kartu pos itu padaku. Tuan M. Kota M. Cinta adalah api yang terbakar tanpa sumbu. 
Hanya begitu isinya.
***
Kalau aku tidak terdampar di Macondo, entah sudah berapa lama aku di sini --jam tanganku tidak berfungsi, bersabar dan berharap ada burung-burung terbang yang dijanjikan, atau layang-layang putus, dan televisi menyala menyalakan channel-channel favoritku --yang tentu saja tidak didominasi sinetron, aku pasti sudah merasakan bibir Alina di bibirku (ya, jika beruntung bahkan kami bisa menghabiskan malam bersama di sebuah hotel bintang lima). 
“Dasar laki-laki berpikiran kotor!“ Pada nyatanya, laki-laki yang mengaku bernama Marquez, yang sepertinya bisa membaca pikiran, dan tetap bersiul sendirian, duduk di kursi goyang dan membaca koran (entah sudah berapa kali dia membacanya), itulah satu-satunya mahkluk hidup yang bisa kulihat di sini. Lama-lama aku muak. Terlebih karena aku sama sekali tidak merasa lapar. 
“Hei Sakum, kau tahu satu menit ada berapa detik?“ “Tentu, enam puluh. Anak kecil saja tahu.“
“Kalau satu tahun?“ “Ya, kalikan saja, 365 x 24 x 60 x 60!“ “Makanya kutanya kau...aku tak pandai berhitung.“
“31536000, jika bukan kabisat.“
“Sepertinya sudah waktunya.“
“Waktu?“ “Seratus tahun kesunyian, Sakum...seratus tahun kesunyian!“ Aku masih tidak mengerti.
“Kau mau menonton televisi bersamaku?“ Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya. Sebenarnya aku penasaran apakah televisi itu akan bisa memancarkan siaran sebab yang kutatap sampai sekarang hanyalah gambar semut hitam putih yang tidak pernah menampakkan sesuatu.
“Terima kasih, Kum...“
“Terima kasih?“ Bug! Marquez memukul tengkukku.
Aku pingsan.
Saat aku terbangun, Marquez sudah tak ada.
***
Handphoneku yang sepertinya belum kehabisan baterai tiba-tiba berbunyi. Beberapa pesan masuk dan mengabarkan telah ditambahkan pulsa lima puluh ribu. Satu pesan lain selain pesan-pesan dari provider itu bertuliskan “AKU BAIK KAN?“ Kubalas, “SIAPA?“ Tapi tidak dibalas-balas juga. Kuhubungi, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Pikiranku kembali ke Alina. 
“Sayang, syukurlah kaumengangkat teleponku.“
“Jadi, masih berada di dalam kartu pos?“ “Iya, entahlah, sudah berapa lama aku di dalam sini.“
“Kamu baru telat enam jam kok.“
Nadanya mengejek.
“Jadi di dalam kartu pos ada kios jual pulsa?“ “Lho, bukan kamu yang mengisikan aku pulsa?“ “Aku? Mimpi kamu...“
Seandainya memang benar ini mimpi.
“Kita putus saja ya.“
“Hah?“ ìIya, PUTUS!î “Kita kan sudah tiga tahun pacaran, kamu tega?“ “OK, apa kamu ingat kapan kita kali pertama bertemu?“ “Ya, tiga tahun lalu.“
“Kamu ingat apa yang aku katakan di halte?“ “Namamu Alina...“
“Lalu?“ “Ah, sepertinya cuma itu...“
“Beberapa jam lalu ada yang meneleponku. 
Laki-laki tiga tahun lalu itu datang lagi, dia bilang ingin melamarku.“
“Laki-laki? Tiga tahun lalu?“ “Ya...“
“Kau menerimanya?“ “Tergantung bagaimana dia menyatakan cintanya nanti...“
“Kau sudah tahu namanya?“ “Ya, tadi dia bilang namanya Marquez.“
“Marquez?“ “Marquez dari Macondo...“
(2010)

Catatan:
1)   Nama Kota yang digunakan Gabrial Garcia Marquez di novel Seratus Tahun Kesunyian
2)   Hiro Mashima, dalam Fairy Tail, energi dari kota di balik langit.

(Suara Merdeka Edisi 21 November 2010)

Kamis, 11 November 2010

Tiga Cerita di Batang Pisang
Oleh Hermawan Aksan


Diaduk-aduknya isi kotak wayang, siapa tahu ia lupa belum mengeluarkan keempat wayang berwajah lucu itu meskipun, seingatnya, ia sudah melakukannya sejak sore menjelang pentas. Ia hafal bahwa Ki Dalang tak pernah menunggu puncak malam untuk menggelar gara-gara para punakawan.  

Cerita Satu: Kurusetra  
MAKA berceritalah Ki Dalang. Kocap kacarita... 
Baratayuda akhirnya pecah juga meskipun sudah dilakukan berbagai upaya untuk mencegahnya. Bahkan seorang Kresna, titisan Wisnu yang sangat dihormati dan dipuja, tak mampu membendung gejolak saling menumpah darah antarsaudara.
Begitu sabda sang raja kedua kubu membahana, kedua pasukan pun saling berhadapan langsung di arena Kurusetra, dengan tameng di depan dada, pedang dan tombak di genggaman, dan tanda tanya di kepala: untuk apa? Toh mereka tinggal menunggu auman sangkakala. O, gelar pasukan yang alangkah indah! Bukan kuda-kuda yang bersiap tawur dalam perang campuh, bukan pula pameran kekuatan yang hanya mengandalkan kegagahan diri berlebihan, melainkan langkah tegap dan sikap tengadah untuk bersiap memulai tarung secara ksatria. Masingmasing akan berhadapan dengan lawan yang setara.
Tak ada perwira yang sedia beradu pedang dengan tamtama. Tak ada ksatria yang sudi membasahi tangannya dengan darah para sudra. Sebaliknya, tak ada tamtama yang memberanikan diri menghadapi perwira. Kemenangan akan ditentukan oleh gelar pasukan, tapi juga oleh satu per satu kedigdayaan.
(Tapi, oh, apakah kemenangan juga ditentukan oleh takdir? Siapa yang menentukan takdir? Kalau takdir sudah menen tukan siapa yang bakal menang, buat apa harus terja di perang?) Ketika sangkakala meraung di fajar yang mencekam, kedua kubu melaju dengan derap langkah yang mantap dan kecepatan yang nis caya.

Genderang dan tambur berdebum.
Dan ujung-ujung pedang yang saling membentur, disertai sorak-sorai yang menggema, lebih menggairahkan ketimbang gamelan istana.
Lalu, tatkala tajam tombak menembus dada, dan menyemburkan darah dari lubang seberang, jiwa pun melayang menuju arah yang benderang. Tiada sesal ketika ujungujung senjata menembus tubuh mereka karena tiap jiwa terbang menuju nirwana.
Sangkakala kembali berkemandang pada saat sang surya menyelinap ke balik gunung dan langit tinggal garis-garis semburat merah. Tombak dan pedang kembali tersarung dan sorak-sorai surut ditelan remang petang. Semua prajurit menarik langkah ke kemah, menghimpun lagi tenaga dan menyusun gelar baru, mempersiapkan episode berikutnya esok hari.
Esoknya, dan hari-hari berikutnya, bersiaga para ksatria, yang selama ini memenuhi halaman kitab-kitab sastra. 
Para putra Pandawa dan Kurawa saling berlaga beradu senjata. Masing-masing sudah punya lawan. Pancawala, Angkawijaya, dan tentu saja Gatotkaca, bertarung sebagai perisai Amarta, beradu jiwa dan raga dengan Burisrawa, Lesmana, dan Jayadrata dari Hastina.
Dan, setelah para putra mereka perlaya, lalu Duryudana, Dursasana, dan kesembilan puluh delapan adiknya, dibantu para waskita seperti Karna, Durna, Bisma, dan Salya tampil satu demi satu mendarmabaktikan jiwa-raga mereka untuk negeri yang mereka bela, Arjuna dan Bima maju menjadi penentu... 
“Ki Dalang!“ Ki Dalang memandang arah suara datang.
“Mengapa para putra Pandawa harus gugur meskipun demi kejayaan negeri mereka? Bukankah mereka adalah generasi yang lebih muda, yang mestinya berkesempatan menghirup udara kehidupan lebih lama?“ Ki Dalang terdiam. Perang terhenti.
“Jawablah, kami ingin kejelasan. Bagaimana logika yang mendasarinya? Bagaimana kita menarik moral dari cerita yang memutus sebuah generasi?“ “Saya tak bisa menjawab pertanyaan ini. 
Kisah Baratayuda sudah digelar beribu kali dan tak pernah ada perubahan cerita.“ “Bukankah Ki Dalang punya kewenangan membikin cerita yang baru yang berbeda?“ “Kalau berubah, bukan lagi Baratayuda namanya.“
Penonton bungkam. Perang masih terhenti. Dan angin mati.
Cerita Dua: Astrajingga
KI Dalang kalang kabut ketika ia tak menemukan Semar dan anak-anaknya di kotak wayang. Padahal, tiba saatnya para punakawan naik pentas, melepas ketegangan di antara dentang pedang dan jerit kematian di Kurusetra.
“Tadi ada,“ kata pembantu dalang, dengan suara bergetar oleh rasa gentar. Ia bertugas menyodorkan wayang yang diminta Ki Dalang.
“Coba cari lagi, siapa tahu keselip di antara para buta,“ ucap Ki Dalang.
Pembantu dalang meneliti satu demi satu deretan wayang yang sudah terpasang, baik yang berjajar di sebelah kiri maupun di sebelah kanan batang pisang. Namun ia tak menemukan Astrajingga, Udawala, Nalagareng, dan ayah mereka.
Diaduk-aduknya isi kotak wayang, siapa tahu ia lupa belum mengeluarkan keempat wayang berwajah lucu itu meskipun, seingatnya, ia sudah melakukannya sejak sore menjelang pentas. Ia hafal bahwa Ki Dalang tak pernah menunggu puncak malam untuk menggelar gara gara para punakawan.
Semua isi kotak sudah dikeluarkan, tapi para punakawan itu tak juga ditemukan. Ke mana mereka? Apakah ada yang mencuri? Buat apa? Bahkan dalam bentuk ukiran kayu, harga punakawan tak lebih dari para raksasa buruk rupa.
Lengking merdu Nyi Sinden sudah lewat setengah kawih. Mestinya, Astrajingga langsung muncul dari awal dan berjaipongan.
“Mana, nih, Cepotnya!“ teriak penonton.
Ki Dalang kian gelagapan. Dengan matanya ia bertanya. Namun si pembantu, yang sudah bermandi peluh, karena lelah dan takut, hanya bisa mengangkat bahu.
Dan, bahkan hingga lengking kawih pudar di langit malam, entakan-entakan kendang hanya mengiringi pentas batang pisang yang hampa.
Akhirnya, Ki Dalang meneruskan pentasnya tanpa kehadiran punakawan, tanpa selingan humor-humor segar yang menertawakan. O, bisa saja ia memainkan para buta untuk bercanda, tapi tentu tak akan bebas seperti senda-gurau Astrajingga dan Udawala. Dan yang pasti, tak mungkin Yudistira bersabda sekaligus bercanda.
Ketika pentas tuntas, dan Ki Dalang membereskan wayang-wayangnya, ia mendapati keempat punakawan mengintip dari balik kotak. Ki Dalang terperangah.
“Nah, ini ada! Di mana tadi menyimpannya?“ tanya Ki Dalang kepada pembantunya.
Sebelum pembantu dalang menjawab, sekonyong-konyong Astrajingga tertawa.
Ki Dalang terkesiap. Bagaimana mungkin wayang tertawa sendiri?
“Jangan terkejut, Ki Dalang,“ kata Astrajingga. “Kami memang memutuskan untuk istirahat dulu. Di negara yang sudah makin lucu ini, buat apa kami tampil kalau tak lagi membuat penonton tertawa?“
Cerita Tiga: Indraprasta
KIAN panik Ki Dalang bukan kepalang. Ia tak bisa lagi menemukan wayang-wayang dengan cepat. Wayangwayang seakan-akan berebut tempat di sebelah kanan batang pisang. Para raksasa, siluman, dan denawa buruk rupa berdesakan dengan para ksatria tampan. Batas memudar antara pembela kebenaran dan pengusung kejahatan.
Mengapa bisa begitu, Ki Dalang tak tahu. Ketika menyusun wayang-wayang, ia dan pembantunya yakin bahwa para ksatria semua berjajar di sebelah kanan dan para raksasa berbaris di sebelah kiri batang pisang.
Karena itu pergelaran menjadi tersendat-sendat seperti laju kura-kura. Ia yakin sudah meraih Prabu Yudistira, eh, yang terpegang malah Dursasana. Nyaris ia memainkan tokoh Hastina itu ketika ia membuka adegan pasowanan di Keraton Indraprasta. Ia juga sudah siap menarikan Astrajingga dalam entakan kendang yang mulai menggila, tapi yang terpegang di tangannya adalah Dewi Supraba. Sungguh memalukan kalau sampai sang dewi swargaloka berjaipongan sambil bercanda.... 
Yang lebih ganjil, Ki Dalang tak mampu lagi Dalang tak mampu lagi mengendalikan cerita.
Alur men galir liar di luar kehendaknya. Ia sudah mem persiapkan cerita tentang pengukuhan Yudistira sebagai raja Indraprasta, sesuai dengan permintaan si empunya hajat, yakni seorang bupati yang baru terpilih.
Namun cerita berkembang k jelas arah ketika tiba-tiba saja tak jelas arah ketika tiba-tiba saja Bima menolak pengangkatan itu. Bima beralasan kakak sulungnya berkubang dosa yang mustahil teram punkan, yakni bermain dadu dengan mempertaruhkan Kerajaan Hastina, bahkan istrinya sendiri, Dewi Drupadi. Bima pun mengajukan diri untuk menjadi calon penguasa alternatif. Alasannya, dialah yang selama ini menjadi tulang punggung perjuangan Pandawa. Ia siap bersaing dengan kakaknya sendiri untuk berebut takhta.
Bima tidak sendiri. Sang panengah, Arjuna, pun mendadak berteriak macam pelantang. Ia juga merasa berhak untuk bersaing dengan kedua kakaknya guna berebut mahkota kebesaran. Arjuna berkilah, karena memiliki rupa bak Kamajaya, dialah yang paling pantas menjadi raja. Bahkan Nakula dan Sadewa, yang biasanya tak pernah bicara, kali itu juga turut mengajukan diri bersaing seba¨gai pasangan raja dan menteri perdana.
Kisah menjadi makin runyam ketika tokoh-tokoh golongan kiri --mereka yang biasanya berbaris di sebelah kiri batang pisang-berbondong-bondong mengajukan diri untuk menjadi raja di Indraprasta. Dari Jayadrata, Citrayuda, Dadungawuk, Padasgempal, hingga Sarpakenaka beramai-ramai mendatangi istana.
“Setop! Setop!“ Pak Bupati berteriakteriak dari barisan terdepan para tamu.
Mukanya merah, malu tak terperi, karena ia berdampingan dengan tokoh-tokoh terhormat dari provinsi.
“Ki Dalang, kenapa cerita tak keruan begitu?“ semburnya.
“Saya juga tak mengerti,“ sahut Ki Dalang.
“Bagaimana mungkin?“ “Lihat saja sendiri apa yang terjadi.“
Di pentas batang pisang, wayangwayang berjalan, menari, dan berbicara sendiri!
Tutup lawang sigotaka.  ***
Bumiayu, Oktober 2010
(Suara Merdeka Edisi 7 November 2010)

Senin, 18 Oktober 2010

Peta Buta
Oleh S Yoga


SELAMA setahun kami mempersiapkan pemberontakan yang lebih besar lagi. Kota Rakyat menjadi markas kami dan menjadi pusat kekuatan pasukan Dadeda. Tuan Jabro kini sedang menyusun rencana pemberontakan sistematis, dikembangkan dari revisi buku Keluar dari Lorong Gelap. Sebenarnya tak ada yang baru dalam revisian ini, hanya strategi pengerahan massa sedikit dimodifikasi hingga lebih mangkus dan sangkil. Dan sebuah peta buta yang katanya menyebutkan hari, tanggal dan tempat pemberontakan akan dimulai. Aku dipercaya menjadi pemimpin sebuah pasukan, beranggotakan lima puluh orang, sebuah pasukan yang sangat minim, untuk daerah yang cukup luas seperti wilayah Kota Senja, sebuah kota di barat Kota Fajar, yang sebenarnya masih merupakan bagian Kota Fajar. Kota dalam kota.
Setiap pemimpin operasi Keluar dari Lorong Gelap diberi sebuah buku yang harus dirahasiakan. Di dalam buku tercantum lima puluh nama pemimpin yang bertindak sebagai tokoh kunci suksesnya pemberontakan, tapi separuh nama-nama pemimpin itu sama sekali tidak aku kenal. Bagaimana mungkin seorang yang namanya tak pernah kedengaran ditelingga masyarakat tiba-tiba diangkat menjadi pemimpin operasi mahapenting. Kebijakan apa yang telah ditempuh. Apa karena ia masih sekerabat. Isi buku petunjuk sebenarnya sangat sulit aku mengerti, bagaimana tidak, hampir seluruh buku hanya berisi peta buta daerah yang sama sekali tidak aku kenal.
Ketika aku tanyakan pada Jangos, katanya, “Nanti saja, bila saatnya tiba.” Para pemimpin operasi pemberontakan yang lain juga tak mau buka mulut sedikit pun, entah mereka tahu atau sama tidak tahunya seperti diriku.
Kini sudah setahun tak ada kontak lagi dengan Tuan Jabro tentang kebijakan apa yang harus dilakukan. Para pemimpin pemberontak yang lain tetap saja tak mau komentar akan rencana apa selanjutnya. Dalam posisi seperti ini, aku menjadi curiga, jangan-jangan mereka telah meninggalkanku, karena mengetahui adanya sesuatu motivasi yang tidak beres dengan diriku.
Jangos aku tanya, “Kenapa tidak ada perintah apa-apa?” Katanya, “Dalam mempelajari buku petunjuk pemberontakan sendiri akan memakan waktu cukup lama.” Ini hal yang mustahil bagiku, bagaimana bisa buku yang hanya berisi peta buta dan beberapa motto perjuangan harus dipelajari begitu lama.
Aku buka kembali buku petunjuk pemberontakan. Tak ada yang dapat aku simpulkan sebagai sesuatu yang berguna. Mungkin ini semua, tergantung pada daya tafsir si pembaca. Dan, Tuan Jabro telah mengunakan kekuatan sihir untuk melindungi buku ini, dengan mengerahkan para dukun sakti, sehingga siapa pun yang berniat jahat tak akan mampu menginterpretasi dengan baik isi buku. Pasti ini perbuatan Tuan Jabro untuk mengelabuiku. Satu-satunya jalan adalah memaksa seseorang untuk mengutarakan interpretasinya atas buku ini. Tanpa ini mustahil aku menemukan jawaban rencana besar Tuan Jabro. Setelah aku sarapan telur-telur burung onta segar, segera aku pergi menemui Jangos di Kota Rakyat.
Aku hentakkan seluruh tubuh Jangos, aku seret tubuhnya ke gudang tembakau. Aku letakkan sebilah belati di samping urat lehernya. “Akan aku putus satu-satu urat lehermu, bila kau tak mau mengatakan apa sebenarnya yang dimaksud dalam buku petunjuk. Tolong pecahkan teka-teki di peta buta, yang memuat kapan dan di mana pemberontakan akan dimulai,” gertakku.
Dengan berlinang air mata, akhirnya Jangos menceritakan pemahamannya tentang isi buku. Menurutnya, “Hanya dengan memahami rasa sakit, kita akan keluar sebagai pemenang dalam kehidupan. Karena rasa sakit diciptakan oleh diri sendiri yang putus asa, atau mungkin orang lain yang sok berkuasa atas tubuh orang lain, maka jalan keluarnya adalah menguar rasa sakit semaksimal mungkin, biar kita dan semua orang tahu, serta memahami kalau rasa sakit itu benar-benar sakit—ada.”
Aku merasa dibohongi. Menurutku, Jangos hanya mengigau tak keruan, bukan kebenaran yang keluar dari mulutnya, tapi bisa ular yang bisa mencelakakan diriku.
Aku tikam perlahan urat lehernya, perlahan pula mengucurkan darah. Tapi Jangos tak merintih, justru tersenyum bangga.
“Dasar bodoh!“ pekikku. Dengan tak banyak buang waktu, aku gorok leher Jangos hingga hampir putus.
Setelah nyawanya pergi, aku seret mayat Jangos ke dalam wc—ketika itu rumah Jangos sepi tak ada siapa pun selain kami, aku potong-potong tubuhnya menjadi sayatan-sayatan yang dapat aku masukkan ke dalam lubang WC. Aku perkirakan tak akan ada yang mengetahui Jangos telah terbunuh dan mayatnya dimasukkan ke dalam WC. Orang pasti mengira Jangos diculik oleh pasukan Negeri Senja. Mungkin seratus tahun lagi semua akan terbongkar, mayat seorang pejuang yang dulunya hilang tak ketahuan rimbanya, ditemukan potongan-potongan kerangka seorang laki-laki di dalam WC rumahnya.
Hari berikutnya sama sekali tak ada berita tentang hilangnya Jangos. Tetangga-tetangganya tak ada yang membicarakan. Saudara-saudaranya kutanya di mana Jangos sekarang, tak ada yang mau tahu. Istri Jangos ketika kuhubungi, mengatakan, paling-paling suaminya masih kelon dengan pelacur kesayangan. Kalaupun Jangos mingat, istrinya sudah rela-ikhlas, tak ada gunanya mempertahankan gading yang telah retak. Kuhubungi Tuan Jabro, kutanyakan keberadaan Jangos, kenapa sudah seminggu belum muncul juga, apa mungkin dia telah dibunuh orang. Tuan Jabro malah tidak cemas sama sekali, dia mengatakan, itu kebiasaan lama Jangos, dulu ia sering pergi tanpa pamit berminggu-minggu, namun kembali juga, biarlah ia melepaskan ketegangan. Perjuangan ini memang menguras fisik dan otak kita. Biarkan pikiran Jangos segar dulu. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan diri Jangos. Kerjakan tugasmu dengan benar, jangan suka ngurusin orang lain.
Aku muak melihat mulut Tuan Jabro mencerocos tak tahu apa yang telah menimpa Jangos. Akhirnya aku dengarkan siaran radio. Tak ada berita kemenghilangan Jangos. Surat kabar juga tak memuat berita tentang Jangos secuil pun.
Lalu aku beranikan diri menyurati Tuan Jabro. Aku katakan, kapan rencana pemberontakan dimulai? Seminggu aku tunggu jawaban, tidak ada. Aku surati lagi, aku katakan, kalau kita tidak segera menyerang, pasukan Negeri Senja akan terlebih dahulu menyerang, jika itu terjadi musnahlah impian kita memenangkan pertempuran. Aku tunggu surat balasan berminggu-minggu. Balasan yang kunanti-nanti belum juga datang.
Dalam penantian yang sangat membosankan, aku putuskan untuk bergerilya, menyerang beberapa markas pasukan Negeri Senja yang menyusup di Kota Senja. Kami menanti berhari-hari di jalan yang kami duga akan dilewati pasukan Negeri Senja. Kami harus bisa menangkap paling tidak seorang dari mereka untuk dimintai keterangan di mana markas mereka berada. Di hari ketiga penantian kami, malam itu sekitar pukul sepuluh munculah tanda-tanda adanya orang berjalan ke arah kami. Pada mulanya hanya terdengar salak anjing di kejauhan, kemudian berlarian babi-babi ke arah kami sambil bercicuit, jelaslah bahwa ada orang sedang berjalan cepat. Segera kami siaga. Kami bergeser dari jalan yang kami duga, ke arah datangnya suara babi di sebelah kanan, ternyata ada jalan setapak yang tersembunyi. Kami tunggui hampir lima menit, akhirnya terdengar burung-burung berterbangan dari arah depan, jelas sudah dekat. Kami hanya berlima, memang segaja pasukan aku bagi lima orang-lima orang untuk menyebar di wilayah Kota Senja, dan dua puluh lima sisanya aku tugaskan menjaga markas. Tak lama kemudian terdengar orang-orang berbisik-bisik, berbicara perlahan. Badanku ikut gemetar, inilah pengalaman pertama kaliku memberi komando, aku tenggak tuak ramuan pasukanku banyak-banyak, badanku sendikit tenang. Aku tenggak lagi. Rasanya aku mabuk. Tanah lapang di hadapanku seolah berkabut, sinar rembulan begitu suram.
Mereka nampak memasuki tanah lapang, mereka menggotong tandu, pastilah seseorang sedang terluka, di depannya ada tiga orang bersenjata, di belakangnya dua orang membawa perbekalan. Begitu mereka ada di tengah lapangan, kami segera menyerbu, tembakan ke udara berulang kali rupanya telah membuat mereka lari kocar-kacir dan meninggalkan tandu di tengah lapangan. Jadi, kami tak perlu menembak mereka.
Kami dekati tandu yang tergeletak, kami buka, rupanya seorang yang terluka parah di pahanya, mungkin pahanya hancur terkena berondongan peluru. Kami interogasi, di mana markas mereka berada. Perundingan sangat alot, ia tetap tak mau mengaku, habis kesabaranku, aku perintahkan pasukan untuk segera menghabisi. Aku pergi ke dalam hutan, aku menenggak tuak lagi.
Rupanya anak buahku mampu melumpuhkan keperkasaan hatinya dengan persuasif hingga mau mengaku. Pasukanku bersedia menjamin keselamatan dan mengobati sakit yang ia derita, bila ia mengatakan di mana markas pasukannya berada. Ia mengaku pasukannya berada di lereng Bukit Pandak.
Segera kami menuju ke sana. Kami tetap berlima. Aku ingin menikmati petualangan ini. Mungkin dengan tindakanku ini, semua yang masih curiga bahwa aku mata-mata musuh menjadi terbuka dan sadar akan kesetiaanku pada Tuan Jabro. Aku tuang tuak lagi ke dalam tenggorokan. Jalanku sempoyongan. Rasanya benar-benar berat mata ini. Aku tak peduli. Aku butuh keberanian dan kenikmatan dalam petualangan ini. Karena rasa takutku mulai meyeruak, menggapai-gapai ingin diperhatikan. Kalau aku mati pun, aku mati dalam kenikmatan yang tiada tara. Kami menyusup ke daerah markas yang ditunjukkan, dari hasil pengintaian, nampak hanya beberapa orang yang berkeliaran, mungkin hanya sepuluh orang. Segera kami berondong dengan senjata, terjadilah kontak senjata, tak begitu lama, aku putuskan menghujani dengan granat. Aku nikmati hujanan peluru dan ledakan granat, yang mengingatkanku pada permainan petasan di waktu kecil. Begitu membahagiakan. Lumpuhlah perlawanan mereka.
Kami ingin menanyai si tawanan, di mana markas besarnya bersembunyi, namun ia telah tiada, nyawanya melesat entah ke mana, lehernya terkerat pisau, bunuh diri, mungkin tak kuat melihat kawan-kawannya terbantai. Akhirnya kami buang mayatnya di sungai. Di lereng sungai, kami minum tuak bersama-sama, sebagai tanda kemenangan. Kemenangan dari peperangan yang tak berakhir. Sebuah kemenangan yang hampa dari jiwa yang mati.
(Suara Merdeka, 17 Oktober 2010)