Tampilkan postingan dengan label Republika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Republika. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Desember 2010

Masjid Penuh Malaikat
Oleh Miftah Fadhil


"Ki Ma'un, kenapa pintu masjid belum dibuka?" tanya Jawi ketika menghampiri Ki Ma'un yang hanya nongkrong di depan pagar masjid. "Lha, malah ngendhuk di sini. Kenapa belum dibuka masjidnya, Ki." Ki Ma'un tengadah. Kedua alisnya melorot membentuk kerut. Sambil membetulkan kopiah dan mengusap kerak ludah di ujung bibir, dia memberikan kunci mesjid kepada Jawi dengan wajah kusut. Jawi yang gelagapan karena saat itu dia belum siap melipat sarungnya terpaksa menerima dengan raut heran.
"Kenapa tho, Ki? Kenapa kuncinya diberikan ke saya tho?" ucap Jawi sambil sesekali mengusap matanya yang penuh belek.
Jawi berjalan agak terkantuk ke teras mesjid. Sepi meraup dingin yang tadi sempat Jawi rasakan di perjalanan. Tidak biasanya masjid setenang ini. Dingin yang memuncak tiba-tiba melorot tak berdaya berganti hangat, sekaligus suasana hening tanpa bunyi sedikit pun. Jawi mengintip dari jendela. Yang dapat ia lihat hanya bayangan samar kain pembatas di dalam mesjid yang dikuak ke atas. Lalu, dengan hati-hati sambil sebelumnya menoleh kepada Ki Ma'un yang tak meninggalkan duduknya, ia memasukkan kunci pada lubangnya. Ia putar ke kanan, lalu "klik". Diputar ke kanan kedua kalinya, kemudian terdengar lagi "klik". Ia tersenyum. Berbalik sebentar pada Ki Ma'un yang juga berbalik, namun cepat memalingkan muka dan menunduk cemberut.
"Wong aneh Ki Ma'un ini. Ndak ada apa-apa kok ngekengkreng begitu kayak ayam," celoteh Jawi sambil memutar gagang pintu. Tidak ada suara "klik treeek" seperti biasa saat membuka pintu. Justru gagang pintu yang kembali pada posisinya semula sulit diputar untuk kedua kalinya. Jawi bingung. Diputarnya lagi berulangulang, namun hasilnya tetap sama saja. Gagang pintu tak bergerak. "Pintunya rusak, Ki?" "Ya ndak. Kemarin gagangnya baru diganti dengan yang paling baru dan mahal. Ndak mungkin rusak," jawab Ki Ma'un tak bertenaga.
Jawi mencoba sekali lagi, tapi gagal. Ia berputar ke pintu samping, menjumput kunci kedua. Dimasukkannya kunci, diputarnya gagang pintu, kembali pada posisi semula, lalu diputar lagi. Hasilnya tetap sama. Dan, tak berubah pula ketika ia mencoba pada pintu ketiga.
"Atau kuncinya yang ndak pas, Ki?" "Kamu dengar bunyi apa itu tadi? Kalau bisa diputar, ya berarti pas tho," jawab Ki Ma'un kesal.
Akhirnya, Jawi bergabung dengan Ki Ma'un. Duduk di sebelahnya dan menyerahkan kunci itu padanya lagi.
"Memangnya sudah berapa lama Ki di sini?" tanya Jawi.
"Sejak sejam yang lalu," ucap Ki Ma'un.
"Duh, kenapa bisa begitu ya? Masak pintu tiba-tiba ndak iso dibuka ya?" gerutu Jawi sambil menggarukgaruk kepalanya. Ia mengapit kopiahnya di bilah ketiak sambil membetulkan lipatan sarung yang dari tadi terus melorot.
Ia memandang sekeliling. Hari ini aneh, sangkanya.
Biasanya orang sering berseliweran di depan masjid meski masih pukul setengah lima. Setengah jam lagi seharusnya azan Subuh. Biasanya akan ada rombongan ibu-ibu pedagang menggondol dagangannya dengan tampah atau keranjang. Para jamaah juga seharusnya sudah ada yang datang ke masjid, tapi Jawi tak melihat satu pun muka mereka.
"Mustahil ndak bisa dibuka, Ki," Jawi geram. Kemudian, ia merebut kunci dari Ki Ma'un dan mencobanya lagi. Tetap tak terbuka. Jawi mengelilingi mesjid, bahkan sempat melongo ke dalam toilet. Sebentar ia berdiri di samping kanan masjid sembari mengedarkan pandangannya pada semua benda. Ia merasa aneh. Tak ada angin, tak ada sesuatu yang bergerak normal. Jika ia merasakan ada angin, itu karena ia merasa tengkuknya tiba-tiba dingin seperti diembus. Bulu kuduknya meradang. Ia menghampiri Ki Ma'un.
"Hari ini kok aneh ya, Ki?" "Aneh bagaimana?" "Kok ndak ada orang lewat, ndak ada angin, ndak ada apa gitu Ki. Tenang sekali di sini," ucap Mail mengeluselus tengkuknya yang masih terasa dingin.
Ki Ma'un hanya menoleh, menatapnya sayu, lalu berbalik mengusap wajahnya. Rasa kantuk sepertinya masih mengganjal Ki Ma'un, sebab sedari tadi ia terus mengucek-ucek kedua matanya. Kelopak matanya turun dan sepertinya ia sangat kelelahan.
"Tadi malam aku ngeronda sampai jam dua. Masih ada beberapa penduduk lewat kok." Ucap Ki Ma'un. Jawi mengangguk setuju, sebab ia juga sempat mendengar beberapa pemuda di warung samping rumahnya bernyanyi hingga pukul tiga. Juga terdengar alunan musik gondang dari rumah Ompu Manitir yang tak jauh dari rumahnya. Ia tahu di rumah Ompu Manitir sedang diadakan pesta perkawinan anak keduanya. Pesta itu sendiri sudah berlangsung sejak dua hari lalu. Sebenarnya, keheranan Jawi sudah berlangsung sejak ia keluar dari pintu rumah. Bahkan, bunyi kancing kemejanya yang jatuh saja bisa ia dengar saking sunyinya.
Langit tampak gelap. Sunyi membahana di sekeliling perkampungan. Ia pun bingung saat melewati rumah Ompu Manitir, tidak ada ada lagi peralatan pesta bertengger di situ. Sekadar sampah atau sisa-sisa kayu bekas api unggun saja tidak ia temukan. Biasanya Ompu Manitir membuat api unggun di depan rumahnya jika ada acara hingga larut malam.
Hal yang paling membuatnya merinding adalah ketika ia melintas di depan rumah Pakde Suryaman. Rumah lelaki dermawan itu gelap, sama sekali tak disinari cahaya. Lampu jalan sudah tak berfungsi sejak dua hari lalu dan tak diganti. Ia sempat berhenti sebentar melihat-lihat sekeliling rumahnya. Begitu tenang. Seakan ia pun ikut hanyut dalam ketenangan yang luar biasa itu.
Kemarin, Pakde Suryaman baru saja menggelar wiridan bersama anak-anak yatim. Padahal, kondisinya saat itu sedang sakit hingga ia mesti duduk di kursi roda, tapi tetap memaksakan ikut membagi-bagi sembako kepada anak-anak yatim itu. Jawi sendiri ikut membantu.
Jawi beranjak lagi dari samping Ki Ma'un. Kali ini ia mencoba melongo dari lubang ventilasi. Ia mengambil dingklik di samping tiang dan berusaha memanjangmanjangkan leher demi melihat ke dalam mesjid. Darahnya terkesiap. Jantungnya berdetak kencang saat ia menyaksikan di shaf imam terdapat Alquran terbuka di atas dudukannya dengan mikrofon duduk di depannya. Cahaya di atasnya menyala meski redup.
"Ki, sampeyan lupa membereskan masjid, ya?" katanya tanpa beranjak. "Ndak mungkin aku lupa. Wong tadi sehabis Isya sudah kubereskan semua."
"Ada Alquran di barisan imam, Ki. Masih terbuka.
Juga ada mikrofon di situ."
"Ndak mungkin ah. Aku yakin sekali sudah kubereskan semua Alquran dan mikrofon ke tem patnya." Bantah Ki Ma'un sebal.
Jawi mengintip ke arah jam dinding. Sudah pukul lima. Seharusnya azan subuh sudah berku mandang, namun ia tak mendengar azan dari masjid manapun. Padahal, kampungnya dikelilingi tiga buah masjid yang selalu tepat waktu mengu mandangkan azan.
"Ki, bawa jam ndak? Sudah jam piro?" tanya Jawi masih tak beranjak dari tempatnya.
"Jam limo lewat sikit. Kenapa ndak ada azan, ya?" Ki Ma'un ternyata menyadari hal yang sama.
"Aku juga ndak mengerti, Ki. Ono opo tho?" Jawi menghampiri Ki Ma'un. Sambil berjalan ter gopoh-gopoh ia meminta lagi kunci masjid pada lelaki tua itu.
"Sudahlah. Ndak akan bisa dibuka. Wong aku sendiri sudah mencobanya lima kali, tetep ndak iso."
Kata Ki Ma'un urung memberikan kunci pada Jawi.
Bagai kena mantra sirep, Jawi dan Ki Ma'un tiba-tiba merasa tak dapat menggerakkan tubuhnya ketika angin berembus demikian kuat hingga mengempas kopiah keduanya. Langit tiba-tiba mengeluarkan cahaya kekuningan demikian perlahan. Mereka dapat melihat bayangan mereka sendiri diterpa cahaya fajar yang tibatiba saja menyembul dari balik ufuk. Barulah mereka dapat menggerakkan tubuh secara perlahan ketika Kades Darmadji datang menghampiri.
"Lho, kalian masih di sini rupanya. Sudah dimatikan kasetnya kan? Lho, pintu masjidnya kok ditutup lagi," ujar Kades Darmadji menepuk pundak Ki Ma'un.
Jawi yang bingung setengah mati bertanya, "Ada apa ya, Pak?" Kades Darmadji tertawa seloroh, kemudian menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu ini bagaimana tho, Jawi.
Lha wong tadi kamu yang ngumumken Pak Suryaman meninggal. Ya, sudah jangan bercanda. Sudah kamu matikan kan kaset Yasinnya?" "Kaset Yasin opo tho. Wong dari tadi masjidnya ndak iso dibuka," sambung Ki Ma'un terheran-heran.
Kades Darmadji kembali tertawa dan menggelenggelengkan kepala. Ia heran melihat kedua lelaki di depannya saling pandang dengan wajah kusut.
"Ki Ma'un ini pintar bercanda ya. Wong suara kaset sekeras geledek begitu kok malah nanya kaset opo.
Sudahlah, Ki, Jawi, saya tunggu di rumah pak Suryaman ya." Kades Darmadji meninggalkan kedua lelaki yang masih tak mengerti apa-apa.
Mereka tetap saling pandang. Tak berkedip sekalipun.
Mencoba mengingat-ingat kembali. Mereka yakin tak mendengar suara kaset apa pun, bahkan tak merasa mengumumkan berita apa pun karena memang sejak tadi mereka tak bisa masuk masjid.
Ki Ma'un memberikan kunci masjid pada Jawi. Jawi yang masih tak percaya berjalan agak gontai menuju pintu masjid. Ia masukkan kunci perlahan, lalu memutar gagang pintu. Sesaat pintu terbuka setelah Jawi mendorongnya sedikit. Dilihatnya kain pembatas jamaah terlipat ke atas. Tak ada Alquran dan mikrofon tergeletak di barisan imam seperti yang ia lihat tadi.
(Republika Edisi 5 Desember 2010)

Jumat, 12 November 2010

Batu
Oleh Humam S. Chudori



Satu hari, setelah di rumah diadakan walimaS tus safar, Haji Maskud datang ke rumah. Ia menyerahkan tiga butir batu. Tak ada yang istimewa atau aneh dengan benda yang dis erahkan suami Hajah Susilowati itu. Batu batu tersebut tidak berbeda dengan batubatu yang berserakan di depan rumah.


"Tolong, barang-barang ini Bapak bawa kalau akan berangkat haji. Batu-batu ini untuk melontar jumrah," katanya.
"Jadi, untuk melontar jumrah kita harus membawa batu sendiri dari rumah?" tanya saya tidak mengerti.
Haji Maskud diam. Ia tampak bingung mendapat pertanyaan saya. Saya juga merasa janggal setelah Haji Maskud menyerahkan batu itu dan menyuruh saya membawanya ke Tanah Suci. Sebab, sepengetahuan saya, untuk melontar jumrah, calon haji tidak perlu membawa batu dari rumah. Lalu, mengapa Haji Maskud membawa batu kemari? tanya saya dalam batin.
Memang, sepuluh hari lagi saya akan berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.
Dari semua kegiatan pelaksanaan ibadah tersebut, salah satunya adalah melontar jumrah. Dan, melontar jumrah dilakukan dengan menggunakan batu. Bukan dengan benda lain--bukan dengan logam atau kayu.
"Apakah untuk melontar jumrah kita harus membawa batu sendiri dari rumah?" Saya mengulangi pertanyaan setelah Haji Maskud terdiam cukup lama.
"Bukan begitu maksud saya, Pak," jawab Haji Maskud.
"Lantas?" tanya saya.
"Batu-batu itu saya ambil dari sana. Maksudnya untuk melontar jumrah."
Saya diam. Sengaja memberi kesempatan kepada Haji Maskud untuk menjelaskan maksudnya. Sebab, sejak pertama menyerahkan batu-batu itu, ia tampak bingung.
Apalagi setelah saya melontarkan pertanyaan tolol. Saya katakan demikian lantaran semua orang tahu bahwa untuk melontar jumrah, calon haji tidak perlu membawa batu dari rumah. Namun, tanpa pernah saya rencanakan sebelumnya, tiba-tiba mulut saya mengajukan pertanyaan konyol tersebut. Bahkan, sempat mengulanginya. Mempertegas pertanyaan sebelumnya.
"Silakan minum, Pak Haji." Saya mempersilakan sang tamu.
Haji Maskud menyeruput teh yang masih hangat.
"Begini maksud saya, Pak Budi," kata Haji Maskud setelah meletakkan cangkir di atas meja. "Saya mau minta tolong Pak Budi untuk mengembalikan batu-batu ini ke tempatnya."
Saya diam.
"Ya, letakkan saja batu-batu ini di sana," tambah Haji Maskud. "Atau, nanti Bapak menggunakannya untuk melontar jumrah."
Selanjutnya, Haji Maskud mengatakan, sejak batubatu itu terbawa ke rumahnya, ia merasa tersiksa.
Betapa tidak, batu-batu itu selalu saja ribut di tempatnya. Memang, ia tidak menyadari bahwa batu-batu tersebut terbawa olehnya.
Setelah selesai melaksanakan rukun Islam yang kelima, Haji Maskud tidak segera mengeluarkan barangbarangnya yang ada di koper. Tak sempat. Lantaran, tak henti-hentinya tamu yang datang. Hingga ia dan istrinya merasa kurang tidur. Namun, ia tak mungkin mengusir tamu yang bertandang ke rumahnya.
Malam kedua ketika hendak tidur, Haji Maskud seperti mendengar ada sesuatu yang mengetuk-ngetuk kopernya yang berada di kamar tidurnya. Semula, ia pikir suara itu adalah cecak yang berhasil menangkap serangga yang agak besar. Memang, reptil ini, apabila berhasil menangkap mangsa yang tidak langsung bisa ditelannya, ia akan membanting-banting mangsa yang ada di mulutnya. Bila cecak tersebut berada di permukaan kayu, menempel di lemari, misalnya, lemari itu akan mengeluarkan bunyi-bunyian. Seperti ada jari yang mengetuk perabotan yang terbuat dari kayu tersebut.
Namun, jika cecak tersebut berada di dinding, tak ada bunyi-bunyian yang dikeluarkan saat reptil kecil itu berusaha melumpuhkan mangsa yang ada di mulutnya.
Itulah sebabnya Haji Maskud tidak segera bangun.
Namun, setelah agak lama, suara tersebut tak berhenti.
Akhirnya, Haji Maskud bangun. Ia mengecek kopernya yang masih belum dibuka. Haji Maskud merasa heran setelah menggeser kopernya. Lantaran, suara ketukan-ketukan itu masih terdengar. Kali ini, Haji Maskud yakin suara itu bukan berasal dari cecak yang sedang melumpuhkan mangsa.
Bagaimanapun, jika benar suara tersebut dari cecak, dapat dipastikan suara itu akan terhenti. Sebab, cecak akan langsung lari ketakutan jika tempatnya berpijak bergeser.
Setelah dicermatinya, ternyata bunyi itu berasal dari dalam koper. Haji Maskud membuka tempat itu.
Alangkah terkejutnya ia setelah membukanya. Betapa tidak, ia melihat tiga butir batu di sana.
"Mengapa batu-batu ini ada di dalam koper saya?" tanyanya dalam batin setelah melihat ada tiga butir batu di dalam koper. "Siapa yang...."
Tiba-tiba, batu-batu itu meloncat dari dalam koper.
Menghentikan pikirannya. Barangkali, jika ia kurang sigap menghindar, batu-batu tersebut akan mengenai mukanya. Sebab, ia tak pernah menduga sebelumnya jika benda itu akan meloncat. Keluar dari koper.
Beberapa saat lamanya, Haji Maskud sempat tercenung. Memikirkan batu-batu yang sudah tergeletak di lantai kamarnya. Batu-batu itu berjejer satu sama lain setelah melompat dari dalam koper. Padahal, jika memperhatikan bagaimana batu-batu itu terlempar dari koper, seharusnya mereka tidak jatuh di tempat yang sama. Paling tidak, ada jarak di antara ketiga batu tersebut. Kenyataannya tidak demikian.
Sejurus kemudian, lelaki yang belum seminggu tiba di Tanah Air itu pun ingat. Ketika mengambil batu untuk melontar jumrah, jumlahnya lebih banyak dari yang seharusnya digunakan. Maksudnya, andaikata batu-batu yang akan digunakan untuk melontar jumrah terjatuh sebelum digunakan, ia tak perlu memungut batu lagi.
Ia tak ingat bagaimana batu-batu tersebut terbawa ke dalam koper meski sudah berpikir keras untuk mengingatnya. Yang diingatnya, ia memang mengambil batubatu tersebut lebih banyak dari yang semestinya. Pun, ia lupa berapa kelebihan batu yang dipungutnya tersebut.
Karena merasa benda itu bukan sembarang batu, ia menyimpan batu-batu tersebut di laci yang ada di dalam lemari pakaian.
Esoknya, tatkala hendak menyimpan liontin berbentuk Ka'bah yang dibelinya di Tanah Suci, Hajah Susilowati menemukan batu-batu di laci. Tanpa bertanya kepada suaminya terlebih dulu, Hajah Susilowati mengambil batu-batu ada di dalam laci tempat menyimpan barang-barang berharga. Lalu, ia membuangnya di halaman depan rumah. Perempuan ini sama sekali tidak pernah tahu bahwa batu yang dibuang tersebut bukan sembarang batu.
Haji Maskud merasa baru saja memejamkan mata tatkala dibangunkan istrinya.
"Pak! Bangun, Pak!" Hajah Susilowati membangunkan suaminya setengah berbisik. "Pak, ada yang mengetuk pintu rumah kita, Pak."
Agak malas, Haji Maskud membuka mata. Lalu, katanya, "Ya, tidak mungkinlah. Memangnya, pintu pagar tidak digembok?" "Ssttt! Coba Bapak dengar baik-baik," Hajah Susilowati meletakkan telunjuknya di depan bibir.
Benar. Setengah sadar dan tidak, Haji Maskud mendengar suara pintu rumahnya seperti diketuk.
Setelah yakin ia mendengar suara ketukan pintu, lelaki itu bangun. Keluar dari kamar. Ia hendak melihat siapa yang mengetuk pintu rumahnya pada tengah malam.
"Hati-hati, Pak!" Hajah Susilowati mengingatkan. Ia mengikuti sang suami yang berjalan mengendap-endap.
Menuju pintu.
Di depan pintu, Haji Maskud berhenti. Ia tak lang sung membuka pintu. Bukan lantaran perlu waspada, siapa tahu yang mengetuk pintu rumahnya orang yang berniat jahat. Suara ketukan itu tidak di tengah pintu, tetapi di bawah. Dekat lantai.
Sebelum bertindak lebih jauh, Haji Maskud menyibak gorden di pinggir pintu untuk memas tikan sesuatu yang telah membuat ia dan istrinya terbangun. Ternyata, tak ada siapa-siapa yang berdiri di balik pintu. Namun, suara ketukan itu tak juga berhenti. Setelah yakin tak ada orang di sana, lelaki bertubuh tambun itu membuka pintu.
Alangkah terkejutnya Haji Maskud ketika melihat tiga butir batu tergeletak di balik pintu. Ia pun memungut ketiga batu terse but. "Ibu menyingkirkan batu yang ada di laci?" tanyanya kepada sang istri setelah ia mengamati benda-benda tersebut.
Hajah Susilowati mengangguk. "Ya, tadi siang batu-batu itu saya ...."
"Ini bukan batu biasa, Bu." Haji Maskud memotong kalimat istrinya. "Coba Ibu perhatikan, apakah batu-batu ini yang tadi dikelu Hajah Susilowati diam. Ia memperhatikan dengan saksama bentuk batu yang ada di telapak tangan suaminya. Benar. Bentuk serta ukuran batu itu sama persis seperti yang dilemparkannya ke halaman rumah tadi siang.
"Batu ini batu yang kita pakai untuk melontar jumrah," lanjut Haji Maskud setelah agak lama istrinya terdiam. Lalu, ia menjelaskan sebabnya batu itu disimpan di laci.
Malamnya, suami-istri tersebut memutuskan menyimpan batu itu ke dalam laci di lemari pakaian bersama barang berharga lainnya.
Sepuluh hari kemudian--setiap malam--pasangan suami-istri yang sudah menikah selama lima belas tahun, tetapi belum mempunyai anak itu, selalu mendengar suara gludak-gluduk dari laci yang terdapat di tengah lemari. Suara itu baru terdengar setelah lewat tengah malam. Sekitar pukul dua dini hari. Anehnya, setelah mereka bangun, tiba-tiba bunyi gludak-gluduk itu lenyap. Seolah-olah bunyi-bunyian itu hanya untuk mengusik ketenangan tidur mereka.
Karena merasa terganggu oleh ulah benda-benda itu, Haji Maskud menceritakan hal ini kepada Kiai Said. Ia pun ingin tahu apa yang seharusnya dilakukan terhadap benda-benda yang terbawa dari Tanah Suci itu.
"Mengapa mesti terganggu?" Kiai Said balik bertanya setelah Haji Maskud memaparkan ceritanya. "Justru mestinya kita bersyukur. Mengapa demikian? Karena, dengan begitu, Bapak bisa bangun setiap malam untuk mengerjakan qiyamul lail. Iya, kan?" Haji Maskud menganggukkan kepalanya beberapa kali. Benar juga kata Pak Kiai, batin Haji Maskud.
Mengapa tidak kami manfaatkan untuk shalat malam jika dibangunkan batu-batu itu?
"Nah, soal batu yang terbawa itu, tunggu saja nanti kalau ada kenalan Bapak yang mau umrah atau naik haji.
Titipkan saja sama dia," tambah Kiai Said.
"Itulah sebabnya batu-batu ini saya bawa kemari.
Karena, saya sudah yakin jika Bapak akan segera berangkat ke Tanah Suci pada musim haji sekarang ini," lanjut Haji Maskud setelah menceritakan ulah bendabenda itu.
Saya seperti tak percaya dengan pengalaman Haji Maskud yang diceritakan itu. Saya anggap cerita dari lelaki yang meninggalkan tiga buah batu terlalu mengada-ada. Namun, setelah benda-benda yang ditinggalkan Haji Maskud berada di rumah, saya baru percaya bahwa cerita Haji Maskud tidak mengada-ada. Sebab, baru semalam benda itu tersimpan di rumah, mereka sudah melakukan hal yang sama di koper saya. Mereka seolah-olah ingin segera dikembalikan ke tanah asalnya.

(Republika Edisi 7 November 2010)

Senin, 18 Oktober 2010

Di Tepi Pintu Neraka
Oleh Rachmat Budi M


JELEK sekali wajah perempuan ini! Dia tidak pernah mengenal musim bunga usia. Dia hanya tahu masa layu dan keringnya bunga. Air matanya selalu menetes bagai gerimis dan kegembiraannya telah rontok dari hatinya bagai daun kering di ranting yang meranggas. Tak pernah merasakan cinta yang tumbuh segar. Jasmaninya tandus, dingin, dan membeku. Sungguh dia bagaikan sebuah pulau kesedihan di samudra perwujudan seorang perempuan. Demikianlah dia menjalani kehidupannya selama ini. Tidak pernah ada seorang lelaki pun yang mau memeluk pinggangnya. Dan, tdak ada yang pernah dikenal oleh bibirnya selain shalawat ke arah langit yang membisu dan ratapan terhadap takdir yang tidak menaruh belas.
Pada malam itu, berembus angin limbubu dan berembus juga angin pusaran yang kencang, bukan di luar rumah tinggalnya, tapi di dalam dirinya sendiri. Lalu, berteriaklah dia. Teriakan yang menggetarkan sendi-sendi yang tampak tak berbentuk itu.
“Hai, setan, hanya engkaulah kini tumpuan harapanku!”
Ia diam seketika. Kata-katanya meredup. Tiba-tiba terkuaklah dinding. Muncullah setan di depannya sebagaimana dahulu pernah muncul di dalam cerita Faust. Memang, setan tidak akan pernah menutup telinga terhadap permintaan kepadanya. Berkatalah ia kepada perempuan itu, “Apa yang kau inginkan, wahai, perempuan?”
“Kecantikan, hidup, dan kekayaan!” Perempuan itu mengucapkan kata ini seperti orang mengucapkan air di tengah kegersangan padang pasir. Dahaga!
Setan menjawab dengan penuh gairah, “Tahukah kamu berapa harga semua itu? Seharga roh kamu. Roh itu akan kubawa ke neraka jahanam. Itu tugasku di dunia ini. Mengumpulkan roh-roh yang akan menjadi warga kerajaanku, Jahanam. Pada akhirnya, kita akan mengetahui siapakah yang akan beruntung dapat mengumpulkan jumlah yang besar. Aku yang bersemayam di takhta Jahanam atau dia yang duduk di Arsy firdaus itu.”
“Berilah aku kekayaan di bumi selama sepuluh tahun, kemudian bawalah aku ke mana kau suka. Aku tidak takut kepada Jahanam karena sekarang pun aku sendiri berada dalam keadaan seperti di jahanam itu!”
“Nah, kita sudah cocok. Kamu akan memiliki apa yang kau minta selama sepuluh tahun. Sesudah itu, kamu menjadi milikku,” jawab setan tersenyum.

***

Akad telah disepakati. Perjanjian sudah ditandatangani. Dengan kemampuannya, setan memoles bentuk jasmaniah perempuan itu. Tubuhnya yang jelek segera berubah menjadi elok menggiurkan siapa pun yang memandang.
Lalu, setan mengajak becermin. Perempuan itu menatap dirinya. Kecantikan yang sedang memancarkan cahaya dari tubuhnya itu bagai lilin yang menyinari sekitar. Bahkan, dia terkagum-kagum akan keelokan dan kemontokannya. Kecantikan ini adalah miliknya sendiri. Perubahan itu membuat dia sekarang berada di bawah naungan pokok kehidupan yang rindang dan jasmaninya terendam dalam genangan laut kelezatan.
Kini, dia telah dihanyutkan oleh arus masa ke tahun yang kesepuluh. Materinya padat berkarung-karung. Dia merasa puas dan cukup dengan persediaan kebendaan yang berlimpah-limpah itu.
Datanglah setan kepada perempuan itu. Tangannya membawa surat perjanjian. Dia mengingatkan perempuan itu bahwa telah dekat berakhirnya jangka waktu yang telah diperjanjikan dahulu.
Berkatalah perempuan itu kepada setan, “Ya, aku ingat. Aku tidak akan lupa, tapi….”
“Tapi, bagaimana?”
“Ada lagi satu kekayaan yang membuat aku merasa haus sekali ingin memilikinya.”
“Ada lagi satu kekayaan yang belum kamu nikmati?”
“Ya, kekayaan roh!”
“Apa maksud kamu?”
“Aku harus diizinkan memiliki kekayaan itu sesuai dengan perjanjian kita. Bukankah kamu telah menjanjikan bahwa kamu akan memberikan semua kekayaan dalam masa sepuluh tahun. Di depanku masih ada kesempatan waktu dua bulan lagi sebelum berakhir masa berlakunya perjanjian kita. Jasmaniku sudah kenyang dengan semua kekayaan kebendaan. Kini, aku benar-benar dahaga dengan kekayaan roh. Berilah aku kekayaan roh itu dalam dua bulan ini. Kemudian, bawalah rohku ke neraka Jahanam.”
“Oh, boleh saja. Kamu dapat memperoleh yang kamu inginkan itu. Hm, seperti kamu lihat, aku bisa dipercaya dalam melaksanakan perjanjian.” Setan pun menghilang.
Tinggallah perempuan itu sendirian. Lantas, perempuan itu bangkit dan meninggalkan gelang intannya, menyingkirkan emas dan mutiara-mutiaranya. Segeralah dipakainya pakaian putih sederhana sebagai pakaian ihram. Ia pergi melakukan segala ibadah suci. Tenggelamlah perempuan itu dalam laku jiwa yang agung jernih berkilau. Dia bertekad mengamalkan semua harta kepada si yatim, janda, si miskin, dan ingin berteduh dalam kenikmatan kehidupan yang bernilai luhur dan suci.

***

Kini, hari berakhirnya masa perjanjian. Setan datang dengan tuntutan perjanjian. Tapi, tiba-tiba dikejutkan dengan nur keelokan rupa perempuan itu. Kecantikan yang membungkus dirinya itu bukan kecantikan yang bercahaya seperti lilin yang terbakar.
Tapi, kecantikan yang berupa kemuliaan, kelembutan, dan menunjukkan kebeningan sumbernya. Setan sungguh terpesona. Dengan rasa segan, didekatinya perempuan itu.
“Tibalah sudah waktunya. Mari, bersamaku ke Jahanam.”
“Ya, ayolah.”
Perempuan itu mengucapkan kalimat tersebut dengan penuh kepatuhan dan kejujuran. Tidak ada sesal dalam tutur katanya dan juga dalam hati sanubarinya. Berjalanlah setan diikuti oleh perempuan itu sampai keduanya di pintu Jahanam. Penjaga pintu Jahanam membukakan gerbangnya. Udara panas menyengat dari hawa jilatan api neraka, terasa mengiris kulit hingga mendidihkan sumsum di rongga tulang. Perempuan itu mengikuti setan mendekati bibir neraka. Tiba-tiba, bertiuplah angin yang sangat kencang dari dalam Jahanam yang diikuti oleh gejolaknya lidah api neraka itu. Merangkaklah ketakutan dalam hati Zabaniah.
Setan pun merasa kecut dan gemetar. Dia berteriak dan teriakannya diikuti oleh seluruh warga neraka, “Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?”
Seketika itu terulurlah tangan malaikat penjaga surga. Tangan-tangan itu menyambar si perempuan. Malaikat itu melengking berteriak pula, “Perempuan itu untuk kami!”
Setan segera menyahut lantang, “Tidak! Dia untukku. Rohnya untukku sesuai perjanjian kami. Coba kau lihat surat perjanjian ini!”
“Kami tidak peduli dengan perjanjian-perjanjian. Kami hanya menilai kualitas roh. Rohnya adalah roh warga surga.”
“Tidak! Itu roh neraka. Dia telah membinasakan dirinya dan berbuat sebagai warga neraka selama sepuluh tahun.”
“Tapi, ke dalam rohnya itu telah tertiup angin surga selama dua bulan terakhir ini. Angin yang telah kau saksikan sendiri sebagai syir illahi yang tidak tertandingi oleh gejolak nerakamu. Bukankah apimu telah pudar oleh embusan angin surga di depan matamu sendiri?”
“Wah, kalau begitu, aku telah ditipu oleh perempuan itu!”
Perempuan yang telah berada di genggaman tangan malaikat itu segera menjawab, “Aku tidak menipu kamu setan. Aku menepati janjiku. Seretlah aku ke dalam Jahanam. Malaikat, lepaskan aku. Aku hendak pergi ke neraka. Aku dahulu telah berjanji. Maka, akan menjadi mulia dan terpandanglah aku bila aku menepati janjiku dan tidak mangkir walau dengan setan sekalipun.”
“Nah, tuan telah mendengar itu! Dia untukku. Biarkan mereka berurusan denganku,” setan menyahut.
Namun, malaikat itu terus mendorong perempuan itu ke dalam surga. “Tidak bisa!”
“Oh, tuan licik! Ia telah mengaku di hadapanmu bahwa dia untukku. Ini alasanku untuk menuntut. Ia menyetujui perjanjian. Ia sendiri yang telah menetapkan bahwa rohnya untukku.”
“Benar, tapi rohnya yang dulu. Sekarang, di manakah rohnya yang dulu itu? Rohnya yang dulu telah diberikan kepadamu. Carilah sekarang roh itu. Rohnya yang sekarang untuk kami. Mari bersama kami, perempuan suci.”
Dengan kerendahan hati perempuan itu menjawab, “Aku menganggap suatu kejahatan apabila aku harus mengingkari janjiku sendiri. Biarkanlah aku menghadap Tuhan dan memohon ampunan untuk dosaku yang dulu.”
“Tidak ada dosa lagi. Ia telah larut dalam cahaya kesucianmu yang datang kemudian.”
“Kalau demikian, janganlah tuan-tuan menyulitkan keadaanku dengan berbuat dosa yang baru. Janjiku kepada setan ini harus ditepati tanpa harus diulur-ulur lagi.”
“Tidak usah menghiraukan itu lagi, wahai, perempuan suci. Mari bersama kami. Mari.”
Segera setan berteriak dengan geramnya, “Aneh! Seorang perempuan baik-baik yang menghargai kata-katanya akan tuan-tuan jerumuskan ke lembah kehinaan pribadi!”
Malaikat menjawab, “Kau mengakui dia sebagai orang baik-baik. Nah, di manakah tempat orang baik-baik? Di neraka atau di surga?”
Sampai di sini, setan merasa terpentok logikanya. Maka, mengeluhlah ia. “Celaka tuan-tuan, celaka! Ambillah perempuan itu dan biarkan aku semauku. Itu kan hanya roh seorang perempuan. Tak lebih dari satu orang perempuan. Biarkan dia masuk surga. Tapi, aku tidak mungkin melupakan bahwa dia telah menipuku. Dia menipuku pada hari dia menamakan keutamaan sebagai harta kekayaan.”
(Republika, 17 Oktober 2010)