Tampilkan postingan dengan label Lan Fang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lan Fang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Oktober 2010

Gandrung
Oleh Lan Fang


APAKAH kau pernah melihat bulan bulat dengan kilap mentega? Itu hanya terjadi setahun sekali. Ketika itu pekat akan menyingkir dari semesta galaksi. Langit bersih seperti baru dicuci oleh hujan. Gelembung-gelembung harum alam merintik dari segenap pori-pori awan.

Konon, dahulu, pada saat bulan bulat sekilap mentega, orang-orang Cina berkumpul di halaman rumah mencecap kue manis berisi biji lotus, kacang hijau, dan gula merah yang manis. Mereka bercengkerama memandang bulan purnama ditemani teh sepat sampai lewat malam.
Hikayatnya, pada suatu waktu, ada seorang putri terkurung di bulan. Namanya Chang Erl. Kekasihnya, Hou Yi, si pemanah ulung yang berhasil memadamkan sembilan matahari dengan anak-anak panahnya. Mereka hanya bisa bertemu sekali dalam setahun, bertemu pada saat bulan paling sempurna untuk rindu yang tidak pernah purna, tidak pernah punah. Orang-orang Cina menyebut saat itu sebagai zhong qiu ye wan. Konon, pada saat itu Chang Erl akan menjatuhkan kembang bulan untuk sepasang sejoli.
“Bulan purnama di pertengahan musim gugur? Kita tidak mengenal musim gugur. Saat ini kita berada pada mangsa labuh, sebuah musim yang terjepit di antara hujan dan kemarau,” gumammu tumpang tindih antara gemerisik dan bisik. Aku tidak bisa membedakannya. Sama saja.
Sebenarnya aku ingin menyanggah kata-katamu. Siapa bilang musim gugur tidak menyapa kita? Tadi aku berjumpa dengannya di sebuah jalan protokol dengan jalur kendaraan dua arah yang selalu sibuk. Pada bagian tengah jalan, lekuk-lekuk pohon meliuk. Mereka menjadi peneduh dari kegarangan sebiji matahari. Pada akar-akar mereka debu-debu mengabu.
Di sana daun-daun gugur. Dari ujung-ujung ranting, mereka melayang dengan pasrah. Mereka berputar-putar sebentar bagai dipermainkan angin lalu terkapar dengan lembut. Seakan-akan mereka tidak berniat untuk melawan. Atau mereka sadar bahwa melawan pun akan percuma?
Ketika itu, lidahku ingin menyeru, “Lihatlah! Angin saja tak tega menghempaskan daun. Kenapa kau begitu kepadaku?”
Tetapi aku terbungkam ketika mereka menyerbu bumi. Beruntun mereka menamparku dengan lembut, tamparan yang tidak mau kuhindari. Kemudian mereka bergerombol, saling menyelip, saling menyelinap, saling menumpuk, saling memenuhi kepalaku. Aku jadi putri dengan mahkota daun, mahkota ringkih yang dipersembahkan sang pedih.
Tetapi, lihatlah…. Aku secantik Chang Erl, bukan?
Tiba-tiba ada laki-laki sekaya saudagar yang menggerutu, “Kau selalu tidak pernah tampil cantik.”
Laki-laki lain yang matanya sekeruh danau berpasir mencibiriku, “Hanya dengan daun, embun, hujan, kau sudah merasa cantik? Hah!” Masih ada laki-laki yang mulutnya dengan murah menyerapahiku, “Kau bukan cantik tapi binal!”
Kemudian saudagar laki-laki itu membawaku kepada seorang perempuan lalu berkata, “Belajarlah tentang kecantikan padanya.”
Sehari-hari, saudagar itu selalu tampak sebaik malaikat. Jadi aku yakin ia pun bermaksud baik padaku. Ia kerap berbisik padaku, berbisik seakan-akan tidak mau dan tidak boleh ada orang lain yang mendengar bisikannya. “Aku ingin mati saja.”
Aku heran, kenapa ia selalu ingin mati padahal seharusnya ia bisa menikmati hidup dengan kekayaannya? Atau karena aku fakir maka aku takut mati?
“Aku capai terbang dengan sebelah sayap,” gumamnya setengah tertawa sekaligus setengah menangis. Sejak itu aku mengerti bahwa ia bukan malaikat melainkan anak burung bersayap sebelah. Dengan letih ia mengayuh sayapnya yang sebelah, sayap kering tanpa bulu-bulu sehalus beludru. Pantas, ia selalu ingin mati.
Perempuan yang diperkenalkannya itu tampaknya juga setulus bidadari. Ia suka sekali menggeliat-geliat untuk mempertontonkan kecantikannya. Matanya selalu berkedip-kedip, lidahnya selalu dijulur-julurkan, kepalanya selalu digoyang-goyangkan, dan wajahnya rata seperti wajan penggorengan martabak.
Si saudagar laki-laki memandang perempuan itu dengan penuh kekaguman. “Lihatlah, betapa cantiknya dia tanpa hidung.” Ia bergairah bagaikan kerbau dicocok hidung. Pasti ia telah membatalkan keinginannya untuk mati.
Lalu perempuan tanpa hidung itu mengajariku cara mempercantik diri. Setiap malam, dengan mahir ia mencopoti hidung-hidung perempuan lain yang sedang bermimpi untuk ditempelkan di mulut, telinga, mata, dan hidungnya sendiri. Ia selalu tampil mempesona dengan wajah yang berhiaskan banyak hidung sampai subuh karena sebelum terang ia sudah harus mengembalikan hidung-hidung yang diambilnya tanpa izin itu.
Sekarang aku tahu kenapa aku selalu bermimpi buruk tentang perempuan tanpa hidung itu. Sebab aku tidak mau memberikan hidungku untuknya sekaligus aku tidak mau mempercantik diri dengan hidung-hidung imitasi.
Kemudian tentang laki-laki bermata pasir. Ia tidak pernah membawaku kepada perempuan lain. Ia kerap mengajakku duduk-duduk saja. Percakapan kami cenderung pembicaraan basi, seperti “kau suka apa?” tetapi ia tidak pernah memberikan apa yang kusukai. Bahkan ia suka melakukan apa yang tidak kusukai. Salah satunya adalah ia suka memegang stopwatch yang berbunyi untuk setiap detik yang telah terlampaui. Ia mirip sekali dengan pelatih atletik yang memacu anak latihnya berlari lebih cepat dari angka stopwatch.
Kesukaan lain yang disukainya adalah cerita tentang perempuan setengah baya yang menempel seperti lintah sehingga ia tidak pernah punya waktu untukku. Ia bercerita tanpa pernah bermaksud memperkenalkan diriku dengan perempuan yang kerap diceritakannya itu. Logikaku mengatakan bahwa ia pun betah menempel pada lintah betina tua itu dengan riang gembira. Karena setiap kali, tepat bersamaan dengan akhir ceritanya, setiap stopwatch berbunyi “tit…tit…tit…”, kulihat matanya mengeruh tetapi aku tidak menemukan pandangan bersalah di sana. Saat kami bertaut pandang ia tersenyum setulus bulus yang sedang berusaha menyenangkan hatiku.
Aku berkata, “Perjumpaan kita seperti pertandingan lari jarak pendek.”
Tetapi tampaknya ia tidak berniat memperpanjang waktu dengan memutar kembali stopwatch. “Maaf, sekarang sudah waktunya aku melayani lintah betina tua itu.” Ia suka sekali mengucapkan kata-kata itu.
Walaupun demikian, aku yakin bahwa ia juga suka padaku sebab laki-laki hanya mau minta maaf kepada perempuan yang disukainya. Jadi, seketika itu, dengan perasaan suka cita, aku menjawab, “Maaf, aku tidak suka dengan maafmu itu.”
Lain lagi dengan laki-laki yang mulutnya begitu murah serapah. Aku tahu betul dari mana ia berbelanja kata-kata sampah. Ia membelinya dari perempuan terhormat yang mungkin tidak pernah membinali laki-laki. Oh, kuralat. Ia membelinya dari perempuan terhormat yang mungkin belum pernah membinali laki-laki. Oh, kuralat lagi. Ia membelinya dari perempuan terhormat yang mungkin sudah pernah diam-diam membinali laki-laki. Oh, kuralat untuk kesekian kalinya. Ia membelinya dari perempuan terhormat yang mungkin tidak suka membinali laki-laki, mungkin perempuan terhormat itu suka membinali yang lainnya.
Jadi, terus terang kukatakan padanya bahwa aku perempuan yang mungkin tidak terhormat tetapi mungkin cantik dan mungkin suka membinali laki-laki. Tentu saja laki-laki yang sesuai seleraku. Seketika itu juga ia menjual semua koleksi kata-katanya: “Pelacur, sundal, lonte recehan!” Percuma. Aku sama sekali tidak berminat membeli kata-kata itu, apalagi membinali dirinya.
Nah, kau tidak seperti mereka. Kita bertemu pada suatu beranda tanpa lampion. Aku tidak yakin saat itu dalam keadaan gelap karena sumbu lilin cukup terang untuk melihatmu dalam keadaan memejam. Tampak wajahmu begitu tenang dan bersih sehingga aku langsung tergila-gila.
Aku ingat sebuah dongeng tentang Putri Tidur yang tertenung sampai seorang pangeran baik hati membangunkannya dengan ciuman. Aku yakin kau juga sedang dalam kuasa tenung sehingga aku ingin membebaskanmu dengan ciumanku.
Atau kau adalah drakula, Pangeran Kegelapan yang akan bangun pada saat gelap tiba? Bila demikian, aku sudah mempersiapkan sesuatu untukmu, akan kurelakan hidupku tidak untuk hidup dan matiku tidak untuk mati. Aku ingin kau segera membuka mata; melihatku dan mendengarkanku, “Inilah leher kekasihmu, Taring Runcing….” Aku menunduk untuk menyentuhkan bibirku pada bibirmu.
Tes!
Lilin yang kupegang lebih dahulu menjatuhkan minyaknya di bibirmu. Aku khawatir bibirmu terkelupas atau melepuh. Ternyata tidak. Bibirmu tetap seindah pualam. Minyak lilin mengental di sudut bibirmu. Pasti bibirmu dingin sekali. Aku kian ingin menghangatinya. Untuk kedua kalinya aku menunduk untuk menyentuhkan bibirku pada bibirmu.
Blep!
Lilinku padam karena desis angin membuatnya tak berdaya. Tetapi keadaan tetap tidak gelap. Ada remah-remah cahaya yang jatuh sehingga aku bisa melihat dengan jelas bibirmu terkuak dengan indah. Lalu dengan ikhlas kusongsong kilaumu yang menancap padaku. Dingin sejenak saja kemudian kurasakan ada yang menetes, bercucuran, mengalir dengan cara yang sangat sepi. Begitu kekal.
Perlahan-lahan kelopak matamu membuka. Aku melihatmu, zahir yang menyihir. “Sssttt, ini aku, Tuan Mimpi. Bungkuslah rapat-rapat setiap pertemuan kita. Jangan sampai ada yang terselip di bulu mata, nanti orang lain menafsirkannya. Berjanjilah, hanya kita yang tahu rindu begitu syahdu.” Aku hanya mampu setia untuk setiap katamu.
Abad pun berganti abad, kunjunganmu kian paripurna. Mimpi bisa terjadi kapan saja. Tetapi aku yakin tidak sedang bermimpi setiap bertemu denganmu. Sebab aku menyimpan dirimu dalam ingatan paling mesra. Segenap ingatan yang bisa kubangunkan setiap saat aku mau.
Kemudian sampailah kita pada mangsa labuh, yang ujarmu kemarau tidak, hujan pun tidak. Pagi-pagi jadi terlukai dan malam-malam jadi terkulai. Nganga dada membuat hari-hari kian berbatu. Kemesraanmu rontok seperti dedaunan yang bergelimpangan sehingga kerinduanku bagai gelandangan tak bertuan. Musim ini ngungun sekali.
“Apakah kau lupa padaku? Ke mana kau tersesat? Mangsa labuh ini hanya sebuah musim yang menjebak!”
“Aku sudah total berubah, tidak dan bukan yang dulu,” jawabanmu persis politisi bertelinga tebal yang tengah meliukkan lidah pada konstituennya.
Bila kau bukan Tuan Mimpi lagi lalu jadi apakah kau sekarang? Apakah jadi gunung, jadi laut, jadi jurang? Aku tidak percaya kau sejahat itu padaku. Kau tidak mungkin berhitam hati dan berputih mata padaku. Aku tetap meratap seperti tidak punya harga diri. Bukankah cinta tidak pernah berhitung dengan harga?
Sambil menangis sejadi-jadinya, aku mengitari jalan demi jalan, jalan yang itu-itu juga; tikungan demi tikungan, tikungan yang itu-itu juga; ceruk demi ceruk, ceruk yang itu-itu juga; tanjakan demi tanjakan, tanjakan yang itu-itu juga; masjid demi masjid, masjid yang itu-itu juga; sampai…
Sampai aku menangisi azan demi azan, azan yang itu-itu juga; harum demi harum, harum yang itu-itu juga; puisi demi puisi, puisi yang itu-itu juga; rindu demi rindu, rindu yang itu-itu juga; mimpi demi mimpi, mimpi yang itu-itu juga; sampai….
Sampai aku tersungkur.
Tidak kuhiraukan ujung-ujung pepohonan yang mendongak pongah padahal sesungguhnya mereka menderita karena terik. Mereka sudah terlalu cerdas untuk menyombongkan diri dari guncangan angin. Seperti itulah diriku yang tidak memedulikan apakah kau mencintaiku atau tidak, apakah kau merindukanku atau tidak, apakah kau mengharapkanku atau tidak. Sebab aku juga sudah terlalu cerdas untuk memanjakan lukaku karena diammu. Kau bahagia bisa membuatku begitu kan?
Aku tidak mendengar apa-apa kecuali semilir angin mengirim gema gumam dari semesta yang menato gendang telinga….
Duh, wong ganteng pepujaning ati. Mung sliramu kang tansah nglelewa. Rina klawan wengi ranane wong lagi gandrung. Among eling sira wong ganteng. Batin ora kuwawa nandang lara wuyung. Enggala paring usada mring wak mami kang lagi ngidam sari uga nandang asmara.
Hoi, sejoli mana yang akan berjodoh malam ini? Pandanganku mengabur. Aku menyesali Hou Yi yang hanya memadamkan sembilan matahari. Kenapa ia membiarkan sebiji matahari itu tetap menyala? (*)
(Jawa Pos, 26 September 2010)

Sabtu, 18 September 2010

Pasar Burung
Oleh Lan Fang

BUNGA bekerja di sebuah pasar burung. Sebagaimana umumnya pasar, maka pasar burung itu dipenuhi berbagai macam burung.

Bunga suka dengan burung-burung emprit yang memiliki sayap-sayap lemah. Mereka diletakkan di dalam sebuah sangkar besar terbuat dari kawat berbentuk persegi. Bulunya berwarna hitam kusam. Mereka berdesakan sehingga ada beberapa bulu mudanya rontok memenuhi lantai seperti seonggok debu.

Pemilik pasar burung ini suka dengan burung beo unik berbulu pirang. Beo ini sudah dipeliharanya delapan tahun. Beo sudah terlatih mengucapkan "selamat pagi, bos!" Beo pandai mencela burung-burung lain "hei, emprit, hush! Di sini tidak boleh ramai! Apa sih yang bisa dilakukan perkutut tengik itu di sini kecuali hanya berbunyi tekukur? Dan coba dengarkan cucakrawa itu bisanya cuma celometan."

Pasar burung itu kecil saja. Dan semakin terasa sesak karena dipenuhi oleh burung-burung yang kian hari kian berbiak. Selain dihuni oleh para burung, pasar itu dipimpin oleh Mister Omzet dan dijaga oleh Parnoranger. Pak boss punya cita-cita, walaupun pasar itu cuma sebuah pasar burung kecil tetapi bisa berkembang menjadi pasar burung besar dan modern. Mungkin kelak akan menjadi departement store burung. "Untuk itu harus dikelola secara baik dan profesional," begitu kata Pak Boss.

Tugas Mister Omzet adalah memerhatikan penjualan burung, persediaan burung, perawatan burung, dan semua yang berhubungan dengan kelangsungan hidup para burung. Ia seperti lelaki dari benua lain yang berkulit putih. Sekujur kulit tubuh dan wajahnya putih. Bahkan bibir dan rambutnya juga berwarna kepucatan.

Sedangkan Parnoranger bertugas sebagai pengaman, ia seperti orang-orangan di sawah yang dipakai untuk menakut-nakuti burung. Tangan dan kakinya terbuat dari jerami yang diikat menjadi satu. Wajahnya rata, juga terbuat dari susunan jerami. Tidak ada mata dan hidung. Pak boss membuat sebuah lekukan yang dinamakan mulut. Tetapi karena Parnoranger terbuat dari jerami, maka ia tidak bisa tersenyum dengan sempurna. Ia tidak bisa menggerakkan kedua ujung mulutnya menjadi senyuman. Ia hanya bisa menarik sebelah ujung mulutnya sehingga lebih menyerupai seringai daripada senyuman. Ia menjalankan tugasnya dengan baik sehingga tidak ada sebutir padi pun yang dicuri burung dari tangkainya.

Bunga sedih. Di pasar itu tidak ada yang bisa diajaknya bicara tentang matahari yang terlihat bulat seperti kemontokan pipi seorang bocah. Atau yang mendengarkan ceritanya tentang ganggang laut yang rindu panggangan matahari karena di bawah sana yang ada hanyalah kelembaban. Di pasar itu yang ada dari hari ke hari hanyalah burung-burung bersayap gelisah, Parnoranger dengan kepala ampas jerami yang kosong atau celotehan beo yang kadang melengking-lengking seperti kiamat akan tiba lima menit lagi. Sebetulnya yang bisa diajak bicara adalah Mister Omzet yang pucat. Tetapi yang keluar dari mulut piasnya hanya kata-kata dari tape recorder yang diulang-ulang "Bunga, bagaimana pasar burung kita menjadi ramai?"

"Bukankah burung-burung itu sudah cukup ramai?" Bagi Bunga, pasar burung itu sudah berisik oleh gemerisik sayap burung, beo yang tidak pernah berbisik atau orang-orangan sawah yang bersisik. Masih ditambah jalanan yang bergetar karena begitu banyak kendaraan mengibarkan bunyinya. Bunga sering merasa senar jantungnya gemetar tergeletak di tanah datar, menggelepar, untuk denting waktu yang menampar. Waktu yang terkapar, lapar, terlempar, keluar dari sauh sepasang jarum panjang dan jarum pendek dalam arus yang melingkar.

"Ramai pembeli burung, maksudku," Mister Omzet menjawabnya dengan gerakan kepala seanggun merak memekarkan ekornya.

"Ramai orang, maksudmu?"

"Ramai orang yang membeli burung, maksudku," Mister Omzet mempertegas penjelasannya. "Pasar burung ini harus meningkat pembeliannya. Karena setiap hari kita harus memberi biji-bijian untuk makanan burung-burung itu. Itu berarti ongkos. Belum lagi kalau ada burung yang sakit atau mati. Itu berarti risiko."

Bunga mengatakan, mungkin burung itu sakit merana. Burung juga rindu kekasihnya. Mungkin kekasihnya hanya sebatang pohon yang berlumut atau sebongkah batu abu-abu. Biarlah menjadi kekasih pohon atau kekasih batu. Tetapi tetap punya kekasih untuk dicumbu. Bukan sekadar mengepakkan sayap lemahnya dengan gelisah menunggu pembeli burung yang akan memasukkannya ke dalam kurungan yang baru. Sangkar yang itu-itu juga.

Atau mungkin burung itu mati ketakutan oleh orang-orangan sawah yang hanya punya sebuah lubang di wajahnya yang cuma bisa menyeringai menyajikan kebodohan. Orang-orangan sawah yang bisanya cuma membentak "Hush! Hush! Jangan bawa biji padiku! Hush! Hush! Awas! Kuperingatkan kau, jangan bawa biji padiku!"

Bertahun-tahun yang lalu, Bunga rajin melepaskan burung-burung. Setiap bulan ia menyisihkan uang sakunya untuk membeli beberapa ekor burung dan melepaskannya. Ia gembira melihat burung-burung kecil itu berlomba keluar dari kurungan. Mereka berputar-putar sebentar dengan kebingungan seakan mencari ke arah mana angin bernapas. Sekian jenak barulah mereka menyadari bahwa mereka sudah menjadi bagian dari angin. Kemudian mereka mencericit mengenapi bahasa angin.

Ketika itu ia berkenalan dengan Mister Omzet. "Suka sekali kau membeli burung-burung. Untuk apa?" pertanyaan yang aneh untuk Bunga. Bukankah semakin banyak Bunga membeli burung, seharusnya Mister Omzet semakin gembira?

"Kata orang, bila kau sering mendengar ricik air, desir angin, dan kicau burung, maka umurmu akan bertambah sepuluh tahun," sahut Bunga.

"Di sini kau akan selalu mendengar suara burung," sahut Mister Omzet.

Maka bekerjalah Bunga di pasar burung itu. Tugasnya sederhana, hanyalah membuat pasar burung itu ramai didatangi orang. Agar orang-orang terpesona dengan burung-burung dan membelinya.

Dan seperti kata orang agar umur bertambah panjang sepuluh tahun lagi, maka di pasar burung itu sekarang ada air yang mengalir menerabas himpitan bebatuan, angin yang menyelinap di ketiak dedaunan, semak anggrek yang menempel di batang pohon, buah plum merah liar yang bergerombol menyembul seperti perawan malu-malu, dan sebatang dahan adenium merah jambu berjuntai mengintip dari tingkap atap.

Ini bukan pasar burung lagi. Tetapi ini Eden! Ini Firdaus!

Sekarang Bunga bahagia di Eden di Firdaus. Setiap hari hatinya terasa seringan kapas dan ia terus tertawa. Matanya berkedip-kedip membalas kedipan genit burung-burung yang mencuri lirik. Burung-burung kecil tidak lagi menceracau tetapi berkicau. Kepaknya tidak resah melainkan gemulai. Mereka mematuki biji-biji padi yang bernas dengan bebas. Kupu-kupu lalu lalang, lebah datang, kumbang berciuman dengan kembang.

Tapi Mister Omzet berkata "Bunga, ini pasar burung. Bukan taman bunga. Kita menjual burung. Bukan menjual madu. Kita perlu orang. Kita tidak perlu tawon. Jadi, carilah orang untuk membeli burung."

Bunga pikir, makhluk mana yang tidak menikmati Eden, tidak menyukai Firdaus? Bila kupu, lebah, kumbang, begitu mencintai keindahan, sudah pasti manusia tidak akan meninggalkannya, bukan?

Siapa tak suka madu, siapa tak suka manis, siapa tak suka indah, siapa tak suka? Tak sukakah? Tak?

Tapi mungkin Mister Omzet tak suka, beo tak suka, Parnoranger tak suka. Mereka tak suka. Tak!

"Kita harus mengeluarkan ongkos lebih besar lagi untuk memelihara Eden ini. Firdaus ini terlalu banyak bunga. Kita kerepotan merawatnya. Serangga-serangga kecil itu juga begitu ribet tetapi tidak memberikan keuntungan. Bunga, sebentar lagi ada festival burung, kupikir lebih baik berkeliling dengan gerobak menawarkan perkutut kita, cucakrowo itu, dan burung-burung lain itu."

Si beo membeo "gerobak! Gerobak! Gerobak!"

Pak Boss juga berkata, "Gerobak tidak jelek. Tidak perlu kereta ditarik kuda. Dan tidak ada salahnya beranjak dengan pedati ditarik sapi, bukan?"

Si beo membeo lagi "sapi! Sapi! Sapi!"

Menurut mereka, festival burung ini sangat penting. Semua orang dari penjuru kota akan berbondong-bondong mengikuti festival burung. Maka pasar burung harus mengeluarkan burung-burung terbaiknya. Mereka pasti membeli dan melatih burung-burung untuk mengeluarkan suara paling merdu. Kupu, lebah dan kumbang itu hanya bikin sesak tempat karena mereka adalah serangga yang tidak penting. Mereka cuma serangga kecil yang hanya diperlukan untuk menyemai serbuk bunga, untuk perkawinan putik bunga, untuk melahirkan kuntum-kuntum bunga baru.

Bunga sedih lagi.

Bunga ingin burung-burung bukan cuma berkicau bila ada festival burung. Tetapi senantiasa menyanyi riang seperti musim semi yang tidak pernah berhenti dan tetap berkicau ketika musim gugur membuat daun-daun berwarna kuning tembaga. Burung yang berkicau menyambut matahari musim panas dan tetap berkicau menghibur musim salju yang terasa murung.

Tapi Bunga bisa apa? Ia cuma sekuntum bunga dengan kelopak rapuh yang gembira ketika tumbuh di Eden di Firdaus. Ia kembang yang mekarnya tak sempurna karena sekadar menjadi penikmat surga dengan mata terjaga.

Surga yang tak pernah ada ketika orang-orangan sawah bernama Parnoranger bergerak dengan kaku. Rumput berserakan dengan jerami yang berjatuhan. "Hush! Hush! Kau mengambil biji padiku! Kembalikan biji padiku! Kau seperti burung tak bertelinga!" serunya ketika siang bersanding dengan petang dan terang mulai bersetubuh dengan gelap. Bayangan orang-orangan sawah itu berjalan dengan langkah terseret-seret meninggalkan baret panjang di kelopak Bunga. Seperti badan mobil yang disilet.

"Kamu tidak berdarah karenanya. Seharusnya juga tidak perlu ada perih. Belajarlah bahasa jerami, maka kau akan mengerti, bahwa ia cuma menjaga padi," begitu kata Pak Boss seakan silet tidak menyebabkan gurat.

"Aku bukan penjaga padi. Aku bunga tanpa duri. Aku cuma paham bahasa wangi."

"Bukankah padi juga selajur tangkai?"

"Kalau begitu ajari aku bahasa jerami."

Pak Boss kelihatan jengkel padanya. "Kemarin masalah pedati ditarik sapi, sekarang masalah sebiji padi! Kau memang lebih baik jadi burung daripada menjadi bunga! Sana, patuklah duri!" Pak Boss melempar Bunga ke udara. Kelopaknya terbang membentang, lebar melayang. Maka ia menjadi burung.

Tapi bukan burung beo membeo, bukan burung emprit yang resah, bukan merak yang angkuh, tapi ia Merlin --elang kecil dengan sepasang kepak sekuat kapak yang bisa menebas angin menyambar petir. Cakarnya seperti cakram bergerigi, tak pernah luput mencengkram gagak hitam yang rajin berkaok-kaok. Ia meluncur dengan kecepatan penuh dengan paruh untuk mematuk. Ia Merlin yang tidak takut dengan orang-orangan sawah. Kukunya menyambar udara dan menyobek mulut orang-orangan sawah itu. Kepala Parnoranger terpelanting lepas dari tubuhnya. Terlempar. Mengelinding dengan sedih. Burung-burung kecil berebut mematukinya. Memburai tangannya, kakinya, kepalanya dari bebatan.

Suara lengkingan si beo seperti kiamat sudah tiba, "Parnoranger! Parnoranger! Parnoranger!"

Tidak ada yang peduli.

Tidak ada darah juga tidak ada perih.

Ia cuma sebuah boneka jerami!***

Surabaya, 2007
(Pikiran Rakyat, 1 Januari  2007)