Tampilkan postingan dengan label Humam S Chudori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humam S Chudori. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 September 2010

Hajah Miranti dan Siti
Oleh Humam S Chudori


"SAMPAIKAN salam saya saja sama mereka," ujar Siti Qonaah, tatkala Hayatun Nufus mengajak menengok Miranti yang baru pulang dari tanah suci, setelah menunaikan ibadah haji.

"Saya masih ada kerjaan, Fus," lanjut janda beranak dua yang sedang menambal pakaiannya yang robek.
"Kita ke sana sebentar saja."
"Iya, saya tahu. Masa kita mau bertamu sampai berjam-jam. Apalagi mereka pasti masih lelah."
"Jadi, kamu mau ke sana?"
Siti Qonaah menggeleng. Lalu katanya, "Ya, nanti saja kalau sempat, saya ke sana sendiri juga tidak apa-apa, kok."

"Mumpung sekarang belum empat puluh hari, doa mereka masih makbul. Seperti kata Kyai Bisri orang yang belum genap empat puluh hari pulang dari tanah suci, doanya masih makbul. Kita minta mereka mendoakan kita."

Siti Qonaah diam. Ia bingung tidak tahu harus berbuat apa. Satu sisi ia dapat menerima pendapat Hayatun Nufus. Sebab Miranti dan suaminya, memang, belum lama tiba di Tanah Air. Bahkan belum genap sepekan mereka berada di rumah. Hampir tiap hari pasangan suami-istri itu kedatangan tamu, para tetangga yang ingin mengucapkan selamat kepada mereka. Namun, di sisi lain ia tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi dengan Istri Nuralam tersebut. Sebab setiap orang yang bertamu ke rumah itu, hampir bisa dipastikan, pulangnya akan membawa kantong plastik. Isinya oleh-oleh dari orang yang baru dipanggil dengan embel-embel tambahan kata haji di depan namanya.

"Siapa tahu kita nanti dikasih oleh-oleh sama mereka," lanjut Hayatun Nufus, setelah agak lama Siti Qonaah terdiam.
Siti Qonaah tersenyum
"Bagaimana?" tanya Hayatun Nufus.
"Ya, sampaikan salam saya saja kepada mereka," Siti Qonaah mengulang kalimat sebelumnya.

Hayatun Nufus diam. Kenapa Siti tidak mau? Mungkinkah Siti merasa minder ke rumah Pak Nuralam? Jangan-jangan Siti sudah mendapat oleh-oleh dari mereka, hingga ia merasa tidak perlu lagi datang ke sana. Sebab rumah Pak Nuralam tidak jauh dari sini, hanya berjarak lima puluh meter. Bahkan masih dalam wilayah erte yang sama. Atau jangan-jangan Siti sudah datang ke sana? Pertanyaan-pertanyaan ini memenuhi pikiran Hayatun Nufus.

"Kamu sudah ke sana apa belum?" tanya Hayatun Nufus, untuk menghilangkan keraguan yang ada dalam pikirannya. "Belum. Belum sempat Fus," jawab Siti Qonaah, "Nah, sekarang saja pekerjaan saya masih banyak."

"Ya, sudah. Kalau begitu," kata Hayatun Nufus.
Setelah berkata demikian, Hayatun Nufus meninggalkan Siti Qonaah.

* * *

SEBETULNYA ketika Hayatun Nufus mengatakan doa orang yang baru selesai menunaikan ibadah haji makbul, Siti Qonaah merasa tertarik untuk menemani orang yang mengajaknya bertandang ke rumah Haji Nuralam. Namun, setelah sang tamu berkata "Siapa tahu kita pulang dikasih oleh-oleh" Siti Qonaah langsung berubah pikiran. Ia tetap pada keputusan semula. Tidak mau datang bertamu ke rumah Haji Nuralam.

Siti Qonaah merasa yakin bahwa orang yang baru pulang dari tanah suci tersebut masih tidak suka dengan dirinya. Gara-gara ia pernah tidak mau mengeroki istri Nuralam.

Memang. Siti Qonaah - perempuan yang bekerja sebagai buruh cuci itu - sering dimintai tolong untuk mengerok tetangga. Apabila ada tetangga yang masuk angin, misalnya. Miranti sering menyuruh Siti Qonaah mengeroki punggungnya. Lantaran ia merasa cocok dengan kerokan Siti Qonaah.

Suatu ketika Miranti menyuruh anaknya datang ke rumah Siti Qonaah. Maksudnya agar janda beranak dua itu mengeroki punggungnya. Namun, karena pada saat yang sama Sri Winarti sedang demam. Suhu badan anak itu tinggi, Siti Qonaah tidak tega meninggalkan anaknya yang masih balita itu di rumah sendirian. Sebab Karima, kakak Sri Winarti, masih di sekolah. Terpaksa ia menolak permintaan Miranti.

Penolakan ini rupa-rupanya membuat Miranti tersinggung. Marah. Siti Qonaah tahu setelah keesokan harinya ia datang ke rumah Nuralam, untuk meminta maaf. Karena ia tak bisa mengerok Miranti sebagaimana biasanya.

"Kamu tidak usah tanya, saya sudah sehat apa belum. Buat apa? Saya butuh dikerok itu kemarin. Bukan sekarang," demikian kata pedagang sembako itu.
"Tapi, saya ke sini juga mau minta maaf, Bu. Karena kemarin ..."
"Minta maaf?" tanya Miranti, memotong kalimat Siti Qonaah.
Siti Qonaah mengangguk.
Namun, anggukan Siti Qonaah telah disalahtafsirkan Miranti.

Orang yang minta maaf, pasti bersalah, Miranti membatin. Berarti sebetulnya kemarin dia tidak punya kerjaan. Kenapa dia tidak mau mengerok saya?

Ya, kemarin Supardi yang disuruh menghubungi Siti Qonaah. Dan, anak lelaki itu hanya bilang "Bu Siti tidak mau, Bu," tanpa menjelaskan kenapa janda beranak dua yang biasanya mau disuruh mengerok tetangga itu menolak perintah Miranti yang disampaikan lewat Supardi.

"Kemarin saya tidak bisa ke sini karena ..." "Sudah," potong Miranti, untuk kedua kalinya, "Sekarang kamu pulang saja, Saya sudah sehat. Tidak perlu dikerok lagi."

Sejak itu, Siti Qonaah tidak pernah disuruh Miranti mengerok punggungnya. Namun, perempuan yang ditinggal mati suaminya itu hanya berpikir suami Nuralam itu sudah tidak pernah masuk angin lagi. Lantaran paling tidak dalam sebulan sekali ia pasti minta Siti Qonaah mengerokinya.

Siti Qonaah baru menyadari kalau Miranti masih marah terhadap dirinya, tatkala ia mencoba utang beras tetapi tidak dikasih. Padahal, sebelum peristiwa itu terjadi, Miranti sering mengutangi beras kepada Siti Qonaah. Terutama sejak Siti Qonaah ditinggal mati suaminya.

Rupa-rupanya Siti Qonaah masih kecewa kepada orang yang baru menunaikan ibadah haji itu. Itulah sebabnya ia tidak pernah berusaha bertamu ke rumah tetangganya yang baru pulang menunaikan ibadah haji.

Ketika dua hari yang lalu Sri Winarti - anaknya yang kedua - minta buah korma. Siti Qonaah tak bergeming. Anak perempuan berusia tiga tahun itu minta buah padang pasir setelah melihat Asih dan Kurnia makan buah berwarna pekat. Rupa-rupanya tetangga kiri dan kanan Siti Qonaah sudah mendapat oleh-oleh dari Haji Nuralam.

Siti Qonaah yakin sekali kalau tetangganya sudah mendapat oleh-oleh dari Haji Nuralam. Sebab ia melihat Supardi - anak Haji Nuralam - membawa tas plastik berwarna hitam ke rumah para tetangga. Termasuk ke rumah Kamal, orangtua Asih, dan ke rumah Agus, ayahnya Kurnia. Dua rumah yang berdiri mengapit tempat tinggal Siti Qonaah.

"Nanti kalau Emak punya duit, emak beli, Nak," kata Siti Qonaah kepada anak perempuannya yang merengek minta buah korma.

"Nia sama Asih tidak beli Mak. Tapi dioleh-olehi pak Haji Nuralam," jawab Winarti.
"Ya, sudah ..."
"Tapi, emak mestinya ..."
"ASSALAMUALAIKUM," sebuah suara membuyarkan lamunan Siti Qonaah.

Perempuan yang sejak tadi belum beranjak dari tempat duduknya, tersentak kaget. Ia tidak menyangka orang yang tadi mengajaknya bertandang ke rumah Haji Nuralam sudah kembali lagi. Ia membawa dua buah kantong plastik kecil warna hitam.

Belum dipersilakan penghuni rumah, Hayatun Nufus sudah masuk. Ia duduk di tempat semula, seperti beberapa saat sebelumnya. Hayatun Nufus memang selalu berbuat demikian jika bertandang ke rumah Siti Qonaah. Ya, apabila sudah mengucapkan salam dan pintu rumah dalam keadaan terbuka Hayatun Nufus langsung nyelonong masuk.

"Ini ada titipan dari Bu Hajah Miranti," ujar Hayatun Nufus, sambil meletakkan satu kantong plastik hitam di atas meja. "Apa ini?" tanya Siti Qonaah.
"Kurma sama kacang arab," jawab Hayatun Nufus.

Siti Qonaah diam. Ia seperti tidak percaya dengan penuturan Hayatun Nufus. Betapa tidak, beberapa saat sebelumnya ia sempat membatin tentang sikap orang yang baru datang dari tanah suci. Lantaran rumahnya dilewati oleh Supardi tatkala lelaki kecil itu membagikan buah tangan kepada para tetangga.
"Kamu tidak salah Fus?"
"Buat apa saya bohong?" Hayatun Nufus balik bertanya.
Siti Qonaah diam. Ia tetap masih tak percaya kalau kantong plastik kecil berwarna hitam itu untuk dirinya.

Selanjutnya Hayatun Nufus menceritakan pengalaman pahit yang dialami Nuralam dan Miranti ketika menunaikan ibadah haji, sebagaimana yang dituturkan oleh Miranti.

* * *

Siti Qonaah masih tidak percaya dengan penuturan tamunya, sesaat setelah sang tamu pulang. Bagaimana mungkin di tanah suci mereka bisa kelaparan? Siti Qonaah membatin.

Mungkinkah apa yang dialami Bu Miranti karena ia pernah menolak saya hendak utang beras? Kalau cuma kejadian itu kan saya baru dua kali ditolaknya utang beras.

Sebab sebelumnya ia sering memberi pinjaman beras kepada saya? Atau barangkali bukan hanya saya yang sering diperlakukan demikian oleh Bu Miranti sehingga ia harus kelaparan di tanah suci? Jangan-jangan ....

Siti Qonaah segera istighfar, ia tidak ingin mengembangkan prasangka buruknya terhadap orang yang baru pulang dari menunaikan ibadah haji itu.

Siti Qonaah memang sudah dua kali ditolak utang beras, lantaran Siti Qonaah terlambat menerima upah dari orang yang menyuruhnya mencuci pakaian. Terpaksa hari itu Siti Qonaah hanya mengisi perutnya dengan air. Jika siang itu Siti Qonaah makan, dapat dipastikan, kedua anaknya tidak akan kebagian nasi. Siang itu pun, nasi yang masih ada diusahakan Siti Qonaah untuk dua orang anak. Kendati ia yakin mereka tidak terlalu kenyang. Untunglah sore harinya Andi, anak Priono, datang. Lelaki kecil itu mengantar upah cucian dari orangtuanya.

"Ibu bilang, ibu minta maaf, Lik," kata Andi setelah menyodorkan uang kepada Siti Qonaah, "Ibu baru sempat ngasih."
"Tidak apa-apa, le," jawab Siti Qonaah, "Bilang sama Ibu, Lik Siti terima kasih."

Setelah menerima upah dari orangtua Andi, Siti Qonaah belanja beras di warung Miranti. Maksudnya ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak akan berhutang jika punya uang. Namun, tanggapan Miranti lain. Ia menganggap Siti Qonaah telah membohongi dirinya dengan mengatakan belum dapat uang.

"Kalau memang punya uang lebih baik beli seperti sekarang ini," kata Miranti, tatkala menyerahkan uang kembalian kepada sang pembeli, "Tidak usah pura-pura tidak punya uang segala."

Betapa sakitnya perasaan Siti Qonaah mendengar pernyataan sang penjual. Andai kata kalimat itu diucapkan sebelum Siti Qonaah menyerahkan uang, ingin rasanya Siti Qonaah membatalkan transaksi jual beli itu.

Peristiwa ini, sebetulnya, sempat terlupakan oleh Siti Qonaah. Tidak heran jika ia mencoba utang beras lagi, tatkala belum mendapatkan upah dari orang-orang yang menyuruhnya mencucikan pakaian. Hasilnya tetap saja sama. Siti Qonaah tidak diberi kesempatan mengutang beras lagi.

Padahal biasanya Siti Qonaah mudah mendapat utang beras di warung Miranti. Namun, setelah Miranti merasa kecewa karena tidak dituruti perintahnya. Perempuan bertubuh gembrot itu tak mau mengutangi beras lagi kepada Siti Qonaah. Dan, Siti Qonaah pun tahu diri. Ya, setelah dua kali tak diijinkan utang beras ia tak mau pinjam beras di warung Miranti. Siti Qonaah memilih membeli beras di warung lain. Lantaran ia tidak ingin mendengar suara yang tak enak dari mulut Miranti.

"Mudah-mudahan peristiwa yang dialami Pak Nuralam sama Bu ..."
"Katanya kita sudah dikasih korma, Mak?" Sri Winarti membuyarkan lamunan Siti Qonaah.

"Tadi Lik Nufus bilang emak sudah dikasih korma sama Bu Miranti," tambah gadis kecil yang baru masuk rumah itu, "Mana Mak?"

Siti Qonaah masih tetap mematung. Sebab beberapa saat sebelumnya ia sempat berpikir untuk mengembalikan korma itu, karena ia yakin tetangganya satu erte yang baru pulang haji itu terpaksa memberi oleh-oleh setelah diingatkan oleh Hayatun Nufus. Setelah dirinya 'kirim salam' lewat Hayatun Nufus.

Kini ia bingung sebab anaknya tampak sangat ingin sekali menikmati buah korma yang masih terbungkus di kantong plastik hitam yang ada di depannya.
"Ini ya Mak?" lanjut Sri Winarti.

Tanpa menunggu jawaban dari ibunya, gadis kecil itu membuka kantong plastik hitam. Lalu memakannya. Membawanya ke luar rumah.

Sebenarnya Siti Qonaah ingin melarang anaknya memasukkan buah itu ke mulut. Namun, ia tidak tega melakukannya. Lantaran anak itu kelihatan senang sekali menikmati buah padang pasir yang baru pertama kali dimakannya.

"Ini buat Sri semua ya, Mak," ujarnya tanpa menoleh, sambil melangkah menuju pintu. Siti Qonaah diam.

Di depan pintu Sri Winarti berhenti sebentar. Menoleh ke arah ibunya. Lalu katanya, "Korma ini cuma sedikit. Mbak Rima tidak usah dikasih."

Siti Qonaah mengangguk. Tetapi, ia tidak tahu kenapa harus mengangguk.***

(Suara Karya, 22 Desember 2007)
Ibu Meninggal di Tanah Suci
Oleh Humam S Chudori

Antara percaya dan tidak saya membaca suratkabar yang memuat nama-nama calon jamaah haji yang wafat di tanah suci. Bukan lantaran nama ibu saya ada di sana. Melainkan karena berita itu menyebutkan ibu meninggal akibat sakit parut-paru. Sebagai salah seorang anaknya, saya tahu persis ibu tidak pernah mengidap penyakit paru-paru.
Namun, setelah Mardiana -- adik saya yang tinggal di Pemalang -- mengatakan hal yang sama, saya baru percaya. "Ibu meninggal katanya karena sakit paru-paru," ujar Mardiana dari seberang. "Masa? Bukankah ibu tidak pernah sakit?"
"Betul kok, Mas," potong Mardiana, "Saya juga tak pernah menduga kalau ibu menderita sakit paru-paru." Saya diam.
"Saya sudah mendapat surat tembusan dari Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji, Departemen Agama. Di dalam surat tersebut dinyatakan demikian."
Saya masih tetap diam. "Hallo, Mas!" lanjut Mardiana, "Mas Darman masih di sana?"
"Ya, ya. Saya masih mendengarkan kamu, Mar."
"Menurut Mas Darman, apa perlu kita...."
Tut...tut ... tut. Tiba-tiba percakapan kami terputus.
Saya tidak tahu kenapa tiba-tiba percakapan kami putus. Mungkin uang yang dibawanya tidak cukup, lantaran ia menelpon dari wartel. Saya tak mungkin menelepon balik karena di rumahnya tidak ada telepon, dan ia tak punya ponsel."
Diantara kami berempat hanya Mardiana yang tinggal bersama ibu, di Pemalang. Dua adik saya yang lain sudah merantau ke kota lain. Bakhtiar di Bandung, Zaenal Arifin di Surabaya, dan saya sejak lulus SMA mengadu nasib di ibukota.
Ibu berangkat ke tanah suci bersama rombongan pengajian ibu-ibu, karena ayah sudah lama meninggal. Ia menunaikan rukun Islam ke-lima dibiayai oleh Zaenal Arifin.

Ketika saya menghubungi adik saya yang lain dan mengabarkan kematian ibu, tidak ada yang mempersoalkan penyebab kematian ibu.
"Mungkin ibu memang harus meninggal di sana, Mas," kata Bakhtiar, adik Mardiana, ketika saya mengabarkan kematian ibu.
Jawaban yang tak jauh berbeda adalah ketika saya ditelepon Zaenal. Adik saya yang paling bungsu ini tidak membicarakan penyebab kematian ibu. Tatkala saya mengemukakan kebingungan saya karena kematiannya disebabkan penyakit paru-paru, ia tak memberi komentar apa pun.
"Apa pun yang menjadi penyebab tidak masalah, Mas. Yang jelas, ibu sekarang sudah tidak ada. Buat apa kita bicarakan penyakit ibu," kata Zaenal.
Satu minggu setelah mendapat kabar itu, saya memutuskan agar semua adik-adik pulang ke Pemalang. Sebagai anak tertua saya ingin memperbincangkan hal-hal yang perlu diselesaikan. Mungkin almarhumah punya tanggungan hutang, janji, atau wasiat yang harus segera dilaksanakan. Juga, apakah perlu diadakan tahlilan atau tidak.

Bagi saya pribadi, tahlilan bukan sesuatu yang harus diadakan. Tetapi, bagaimana dengan ketiga adik saya. Dan jika memang akan diadakan tahlilan bagaimana pelaksanaannya. Apakah akan diadakan di rumah salah satu di antara kami atau di Pemalang. Sebab yang ada di Pemalang hanya Mardiana. Padahal Mardiana tinggal seorang diri, tanpa suami tanpa anak. Sejak suaminya meninggal ia tak pernah menikah lagi.

Dalam pertemuan nanti bila perlu saya ingin membicarakan tentang kemungkinan pembagian warisan. Meskipun barangkali pelaksanaannya tidak akan segera dilakukan. Paling tidak, akan dibuat kesepakatan secara tertulis tentang pembagian harta warisan orangtua. Saya tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Saya masih ingat tat kala Barzanji meninggal. Ketika itu masalah warisan tidak segera dibicarakan. Akibatnya cukup fatal. Keluarga Zakir tidak mendapatkan apa-apa. Lantaran setahun setelah Barzanji meninggal, Zakir mengalami kecelakaan lalu lintas dan juga meninggal. Gara-gara belum ada kesepakatan di antara anak-anak Berzanji tentang pembagian waris, Masudah, istri Zakir, tidak mendapatkan apa-apa dari harta peninggalan warisan orangtua suaminya. Padahal ia tidak bekerja. Hidupnya bergantung pada suaminya.

Saya tidak ingin Kustini -- istri saya -- mengalami nasib yang serupa dengan Masudah. Lantaran Kustini juga tidak punya penghasilan apa-apa. Kasihan mereka jika Tuhan menghendaki saya mati lebih dulu dari mereka. Masih mending apabila saya meninggal setelah anak-anak saya bekerja. Jika tidak, apa tidak terlantar istri dan anak saya nanti?

"Alhamdulillah! Ibu meninggal sebelum pulang ke sini," ujar Mardiana, ketika kami sudah berkumpul di rumah ibu.
"Kok?" hampir bersamaan kami -- saya, Bakhtiar, dan Zaenal Arifin -- berkata, "Kamu bilang alhamdulillah?"
Benar. Kami merasa aneh dengan pernyataan Mardiana. Sebab kalimat yang diucapkannya alhamdulillah. Bukan lainnya. Padahal dalam pemahaman kami, kalimat ini diucapkan jika seseorang mendapatkan sesuatu yang patut disyukuri.
Mana mungkin ibu meninggal ia malah bersyukur. Apa mungkin Mardiana memang berharap mendapatkan warisan orangtua. Setelah ibu meninggal Mardiana akan menempati rumah yang ada di Pemalang. Lantaran semua saudaranya tidak ada yang tinggal di sana. Lalu ia akan....

"Saya memang bersyukur karena Ibu meninggal sebelum pulang ke sini," ujar Mardiana, menghentikan pikiran saya.
Hening sejenak. Mardiana diam. Ia menunggu reaksi kami.
"Kalau ibu tidak meninggal di sana saya akan pusing sendiri," tambahnya setelah beberapa saat lamanya ia terdiam.
Kami masih tetap diam. Namun, setumpuk pertanyaan tetap memenuhi pikiran.
"Asal tahu saja, ibu pernah bilang kalau nanti pulang dari naik haji ia tidak mau dipeluk oleh Mbok Rahma. Jijik, katanya. Dan saya harus menjagai jangan sampai Mbok Rahma mendekati ibu, apalagi sampai merangkul ibu seperti orang lain. Lalu apa yang harus saya lakukan kalau ibu pulang dari tanah suci dan mBok Rahma ke sini. Padahal setiap ada orang pulang dari menunaikan haji semua tetangga akan menyalami dan merangkulnya," imbuh adik perempuan saya satu-satunya.

Mbok Rahma adalah tetangga ibu. Memang, perempuan yang pekerjaan sehari-harinya menjadi buruh cuci pakaian tetangga itu fisiknya nyaris tidak pernah bersih. Tetapi, saya pikir berpelukan dengannya saat pulang dari tanah suci tidak akan membuat ibu menjadi sakit. Apalagi orang yang berpelukan tatkala pulang dari ibadah haji tidak akan lama. Sebab, banyak orang yang ingin memeluknya. Hingga tidak mungkin mBok Rahma akan punya kesempatan berlama-lama memeluk ibu.
"Kalau Mas Darman, Bakhtiar, dan Arifin, tidak akan bingung bila ibu pulang nantinya. Nah, kalau saya? Bukan hanya karena saya disuruh menjagai mBok Rahma agar jangan sampai mendekati ibu. Tapi, saya yang masih tinggal di sini apa tidak akan jadi pembicaraan orang-orang. Apa kata mereka jika tiba-tiba saya melarang mBok Rahma merangkul ibu?"
Kami bertiga masih tetap diam.
"Untungnya ketika ibu berangkat, mBok Rahma sedang sakit, hingga ia tidak datang ke sini. Kalau tidak, apa tidak terjadi fitnah. Lha wong orang mau berangkat haji kok malah bikin masalah. Sebab, setiap orang yang datang ke sini semuanya memeluk ibu sebelum beliau masuk mobil."
Kami diam. Jadi ibu berbuat demikian to, pikir saya. Pantas Mardiana merasa bersyukur ibu meninggal di tanah suci. Saya sendiri tidak bisa membayangkan andaikata diri saya adalah Mardiana. Bagaimana bila mBok Rahma datang ke rumah dan saya harus melarang perempuan itu mendekati orang tua perempuan kami.

(Sumber: Republika, 7 Desember 2008)
Guru Mengaji
Oleh Humam S Chudori

Sudah sepekan anak-anak yang mengaji di masjid Nurul Iman tidak ada yang mengurus. Anak-anak hanya berlarian ke sana ke mari. Sudah lima hari ini tidak satu pun ada guru mengaji yang mengajar di sana.

Meskipun anak-anak yang mengaji dikenai infak bulanan. Namun, hasilnya sangat tidak memadai untuk honor guru mengaji yang mengajar. Itu sebabnya setiap bulan Tarmidzi terpaksa minta subsidi dari kas masjid. Namun, yang dilakukan Tarmidzi menimbulkan masalah.

Sudah beberapa bulan ini, Neneng - istri Tarmidzi - mendengar kabar yang tidak menyenangkan tentang suaminya, bahwa Tarmidzi mau berkiprah di masjid yang belum sepenuhnya jadi karena ingin menangguk keuntungan dari sana.

Untuk mengklarifikasi masalah itu, Tarmidzi minta kepada ketua pengurus masjid untuk mengumpulkan semua pengurus, tokoh masyarakat, serta para ketua RT. Lelaki berkacamata minus itu ingin menjelaskan kenapa setiap bulan dirinya terpaksa meminta subsidi dari uang kas masjid. Kenapa pula tenaga pengajar anak-anak di masjid itu sering berganti. Tarmidzi tidak ingin apa yang dilakukannya selama ini justru menimbulkan fitnah.

"Itu sebabnya saya terpaksa harus ganti-ganti guru ngaji. Karena, jika mereka mendapat pekerjaan dapat dipastikan akan mengundurkan diri," kata Tarmidzi setelah memaparkan panjang lebar tentang keadaan anak-anak yang mengaji di masjid.

"Sebetulnya honor guru ngaji di sini tak lebih dari sekedar ucapan terimakasih. Sebab, andaikata setiap guru ngaji datang ke sini dengan menggunakan kendaraan umum, honor itu tidak cukup untuk biaya transport. Hanya saja, karena belum berkeluarga, mereka tidak pernah mempersoalkan honor yang mereka terima," lanjut Tarmidzi.

"Oh, jadi guru ngaji sekarang sudah kenal duit?" celetuk Zulfar. "Soalnya di kampung saya dulu, asal ada lampu sentir, anak-anak sudah bisa mengaji," tambah Zulfar, "Karena dulu orang mengajar ngaji nawaitunya lillahi ta'ala."

Tiba-tiba pertemuan itu menjadi kaku. Semua orang terlihat tegang setelah mendengar lontaran kalimat ketua RW itu. Tarmidzi yang paling tegang. Telinganya terasa panas mendengar ucapan Zulfar. Karena merasa dipojokkan, Tarmidzi marah. Ingin rasanya ia menghajar mulut suami Irawati itu.

Untuk menetralisir kemarahannya, Tarmidzi istighfar dalam batin. "Bagi orang yang tidak pernah mengaji atau orang bakhil, nawaitu lillahi ta'ala sengaja disalahtafsirkan. Sebab, dengan cara menyimpangkan makna lillahi ta'ala, orang bisa seenaknya memperlakukan guru ngaji. Guru agama pun khawatir dianggap tidak ikhlas apabila menuntut hak yang layak. Padahal mereka tetap mempunyai kewajiban yang sama dengan orang lain. Memberi nafkah, menyediakan perumahan, menyekolahkan anaknya, membayar cicilan rumah, dan lain-lain," ujar Tarmidzi setelah berhasil meredam kekesalannya.

"Anak seorang dai tetap perlu membayar uang sekolah dan membeli keperluan sekolah. Istri seorang muballigh bila membeli beras maupun sayuran tidak hanya separuh harga. Rumah seorang kyai, ajengan, atau seh tetap membayar rekening listrik kepada PLN. Jika menggunakan pesawat telepon juga tidak gratis. Nah, barangkali Pak RW bisa mencari guru mengaji yang tidak mempunyai kewajiban seperti itu."

Mendengar penjelasan panjang lebar dari Tarmidzi, orang-orang yang ada di tempat itu tercenung. Sebelum orang lain bicara lagi. Tarmidzi kembali buka suara, "Mulai sekarang saya kembalikan kepercayaan bapak-bapak kepada saya untuk mengurus anak yang mengaji di sini. Barangkali Pak Zulfar bisa mencari guru ngaji yang tidak perlu membayar cicilan rumah, atau ustad yang istrinya kalau belanja hanya separuh harga, dan anak-anaknya bisa digratiskan sekolahnya. Dengan demikian, kas masjid tidak akan berkurang untuk membayar honor guru ngaji."

Tarmidzi menyerahkan berkas-berkas kepada Baharudin, ketua pengurus masjid. Baharudin sama sekali tidak bertanya kenapa berkas-berkas itu diserahkan lelaki yang duduk di sebelahnya. Tarmidzi lantas pulang. Ia tak ingin berlama-lama duduk di sana. Tarmidzi ingin menghindari mujadalah dengan orang-orang di masjid.

Esoknya tak ada guru mengaji yang datang ke masjid. Anak-anak menjadi tak terurus. Mereka hanya berlarian ke sana kemari di dalam masjid, dan membuat orang-orang yang ada di sana jengkel. Menyadari ada sesuatu yang tidak beres, Baharudin mendatangi Tarmidzi. Minta kesediaannya untuk kembali menjadi pengurus masjid, dan bersedia menghubungi tenaga pengajar ngaji lagi. Namun, Tarmidzi terlanjur kecewa.

"Lebih baik Pak Bahar cari pengganti saya atau bereskan dulu pembangunan fisik masjid. Masjid kan masih banyak butuh biaya. Kalau pengajian anak-anak dihidupkan lagi justru akan mengurangi kas masjid. Uang yang seharusnya untuk beli semen atau pasir akan terpakai untuk honor guru ngaji," ujar Tarmidzi.

"Tapi...."
"Atau begini saja, Pak," potong Tarmidzi, "Nanti kalau ekonomi saya sudah mapan, saya sudah jadi orang kaya, saya bersedia diserahi seksi pendidikan anak-anak. Dengan demikian saya tak akan membebani kas masjid untuk honor pengajar."

"Apakah Pak Tarmidzi tidak...."
"Ini keputusan saya, Pak," untuk kedua kalinya Tarmidzi memotong kalimat Baharudin, "Saya akan berkiprah lagi di masjid jika ekonomi saya sudah mapan. Kalau tidak, lebih baik saya jadi jamaah saja, Pak."

Malam itu, rumah Baharudin dipenuhi tokoh masyarakat. Mereka tengah membicarakan nasib anak-anak di masjid Nurul Iman. Sudah sepekan anak-anak tak ada yang mengurus. Anak-anak hanya berlarian ke sana, karena tak ada guru mengaji yang datang.

"Kalau masalahnya seperti itu, biar nanti anak-anak kami yang mengurus," ujar Hasan setelah mendengar penjelasan Baharudin.
"Ya, saya juga bisa membantu Pak Hasan," kata Ali.
"Betul apa kata Pak Hasan sama Pak Ali. Masa, kita-kita tidak ada yang mengurus anak-anak. Nanti saya juga bisa ngajar, kok," sambut Royani. "Pokoknya kalau masalah ibadah yang penting kita ikhlas. Semuanya akan jadi beres," tambah Sulaeman.

"Yang jelas, uang kas masjid jangan sampai diutak-utik. Biar pemasukan dari tromol infak atau yang lainnya untuk pembangunan masjid," tukas yang lain lagi, "Saya yakin orang yang menyumbang pasti untuk kepentingan pembangunan masjid. Bukan untuk honor guru ngaji."

Setelah berbagai pendapat dikemukakan. Akhirnya mereka sepakat untuk tetap melanjutkan pengajian anak-anak di masjid Nurul Iman. Tenaga pengajarnya adalah mereka yang telah menyatakan kesediaan menggantikan Tarmidzi dan kawan-kawannya. Mereka itu adalah Hasan, Ali, Royani, Mukhlis, dan Topik.

Namun, lima orang itu ternyata tidak sanggup mengurusi anak-anak. Setelah mereka pegang, pengajian anak-anak hanya bisa bertahan setengah bulan. Setelah itu tidak ada yang mau dipasrahi mengurus pengajian anak-anak. Akibatnya, anak-anak di kompleks perumahan itu tak ada lagi yang mengaji.

Setelah Tarmidzi berhenti mengajar ngaji, sejak itu pula masjid Nurul Iman tak ada kegiatan pengajian anak-anak lagi. Karena menjadi pengajar ngaji tidak semudah yang mereka bayangkan. Meskipun demikian, tidak ada orang yang berani mendatangkan guru ngaji anak-anak dari luar penghuni kompleks. Mereka khawatir dianggap mencari keuntungan di balik semua yang dilakukannya.

Masjid yang berdiri di tengah kompleks perumahan itu makin megah. Bangunan tempat ibadah itu makin sempurna. Namun, tak ada rohnya. Sebab, tak ada kegiatan apa pun di sana kecuali hanya untuk shalat lima waktu dan shalat Jumat. Tiap shalat lima waktu pun hanya ada satu shaf yang berdiri di belakang imam. Itu pun jarang sekali penuh satu baris.

Kendati demikian, segenap pengurus masjid merasa bangga. Lantaran, bangunan itu lebih indah dan lebih megah dari rumah-rumah yang ada di sekitarnya.

(Republika, 27 Januari 2008)