Tampilkan postingan dengan label Cerpen Jawa Pos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Jawa Pos. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 November 2010

Perempuan dari Balik Pintu Kamar Berlukis Naga
Oleh Ganda Pekasih


LIDAH-LIDAH api dari lukisan kepala naga yang menjadi pintu rahasia tempat perempuan cantik itu muncul terasa menjilat-jilat bagai hendak membakar siapa saja malam ini. Tubuh-tubuh telah basah oleh keringat. Asap rokok yang berjala-jala dan pijar temaram lampu di sudut-sudut ruangan menjadikan arena para naga ini terasa makin pengap dan mencekam.

Uang terus bertumpuk di atas meja. Tangan Bung Jack bergetar membagikan kartu terakhir kepada semua lawan-lawan tangguhnya, tapi belum pernah dia terlihat gugup seperti malam ini. Napas-napas tertahan, semua sangat mengharapkan kemenangan pada kartu terakhir, kemenangan yang bisa mengembalikan semua kekalahan di malam-malam panjang yang telah lewat.
Tapi ketika seperti pertama kali aku terdampar di sini, dalam situasi genting, dari pintu bergambar kepala naga yang bagiku sangat penuh rahasia di dalamnya tentang Bung Jack dan perempuan cantik itu, dia akan keluar memamerkan pesonanya. Ia benar-benar bak naga betina nan anggun, selalu memakai terusan berwarna merah marun dengan belahan memanjang dari kaki hingga ke pangkal paha.
Itulah warna gaun yang selalu dipakainya sejak pertama kali aku melihatnya, merah marun itu, senyum yang penuh misteri sekaligus mendebarkan jantung setiap lelaki yang memandangnya. Bung Jack biasa memangilnya Karina. Dia bukan sekadar maskot kemenangan lelaki bergelang bahar dan cincin bermata giok itu, tapi bagiku mereka lebih bagai sepasang naga.
Seiring waktu berlalu, sesungguhnya perempuan itu kini sudah jadi milikku, aku sudah menyelingkuhinya tanpa sepengetahuan Bung Jack. Saat itu kedatanganku yang kali kesekian beberapa bulan lalu, entah bagaimana tiba-tiba dia mendekatkan bibirnya ke kupingku, berdesis seperti seekor ular berbisa. “Keluarkan aku dari sini,” pintanya seraya memasukkan secarik kertas berisi nomor telepon genggam ke dalam saku jinsku.
Setelah pertemuan pertama yang membuat kami seolah-olah dalam keterkejutan, saling terpana dengan mata bergelimang cahaya, aku segera tahu bahwa perempuan itu tertarik kepadaku, begitupun yang kurasakan. Aku pun terus memaksa untuk ikut berjudi walau sebenarnya aku hanya mementingkan berjumpa dengannya, menunggu dia kembali mendesiskan harapan ke telingaku. Uang kiriman istriku, Marni, dari Saudi pun ludes demi malam-malam yang mendebarkan itu.
Kini cinta kami menyatu, dan kami akan keluar dari kota ini untuk membina rumah tangga. Risiko jika Bung Jack mengetahui pengkhianatan ini, dia pasti akan membunuh kami berdua.
Dari Karina barulah aku tahu bahwa Bung Jack di samping menjadikannya simpanan, juga umpan bagi mereka yang menang besar malam itu untuk dikuras kembali uangnya. Umpan yang terlalu istimewa menurutku dan sungguh tak pantas dijalani Karina.
Kata yang pernah meniduri Karina, seperti tato naga di lengan Bung Jack, Karina juga memiliki tato yang sama berbentuk melingkar dari mulai punggung hingga ke perut. Mereka yang pernah meniduri Karina serasa bergulat dengan naga betina yang tak berhenti mendesis dan membelit ke sana kemari dengan liarnya.
Pada mulanya dulu, menurut cerita Karina, Bung Jack datang ke desanya untuk mencari wanita-wanita muda untuk dipekerjakan di berbagai tempat hiburan. Desanya selama ini memang terkenal gudang lahirnya perempuan-perempuan cantik primadona tempat-tempat hiburan. Dia sempat pula mendatangi petilasan Nyi Layonsari sang penguasa gaib Pantai Utara meminta restu, hingga dia menemukan Karina di sana. Ketika itu Karina bunga yang baru mekar dan kecantikan unik yang dimilikinya dianggap warga sebagai titisan Nyi Layonsari, tapi hanya beberapa waktu kesenangan dan kemewahan itu mampir padanya, beberapa bisnis Bung Jack kolaps hingga mereka tinggal memiliki rumah kecil tempat mengumpulkan para penjudi.
Mereka bahu-membahu agar tidak kehabisan modal, tapi Bung Jack lebih banyak kalah hingga terpaksa menjual Karina demi modal yang harus kembali. Semua penjudi besar mengaku pernah menikmati Karina, kecuali aku.
Aku akan menjadikan Karina istriku setelah Marni pergi ke Saudi lima tahun silam demi masa depan anak perempuan kami yang kini sudah berumur tujuh tahun, Raisa. Dia tinggal di desa Cibalengkong, Tasikmalaya, bersama neneknya. Marni juga sedang membangun rumah bertingkat  dengan gaya minimalis di kampungnya sana.
Aku dan Karina selalu mencuri janji di mal. Biasanya kami cuma nonton bioskop, berpindah-pindah agar tidak diketahui Bung Jack dan teman-temannya. Aku biasanya membeli dua tiket lebih dahulu dengan nomor bangku berdampingan, satu untukku dan satu untuk Karina yang kutitipkan ke petugas karcis. Beberapa saat setelah film diputar, Karina akan masuk dan duduk di sampingku.
Kami kencan tak pernah lebih jauh dari sekadar nonton, tujuan terbesar kami adalah mematangkan rencana pergi meninggalkan kota ini, hidup di tempat yang tenang dan tenteram, dengan ataupun tanpa kemenangan terakhir di meja judi.
***
Kalau malam ini aku menang besar, membawa Karina pasti makin mudah. Kalau gagal dan Bung Jack juga kalah, Karina bisa ditiduri penjudi lain yang membuat aku bisa nekat membunuh mereka malam ini. Aku sungguh tak tahan lagi membayangkan tubuh calon istriku itu digauli penjudi tengik yang mulutnya berbau alkohol.
Kalaupun aku kalah, asal Bung Jack yang menang, tak masalah. Bung Jack tak akan menjual Karina, dia akan lupa diri bersenang-senang seperti biasa. Judi adalah darah dagingnya.
Ketika kartu terakhirku menjadi penentu permainan malam ini, angka yang kudapat adalah sembilan, kartu di tanganku tidak ada yang bisa mengalahkannya. Aku menang! Bung Jack dan tiga penjudi di kiri kananku dan para pengawal mereka terhenyak. Inilah yang kutunggu-tunggu, menang besar, lalu melarikan Karina. Hidup adalah permainan angka-angka, dan angka adalah takdir yang indah.
Kuraup uang seratus juta lebih di atas meja ke dalam ransel dengan tangan gemetar. Bung Jack memaksaku kembali bermain dengan mempertaruhkan Karina, tapi aku tentu saja menolak.
Kulihat Om Jack meraba si bungkuk yang terselip di balik jaket hitamnya.
“Kenapa kau tidak pernah tertarik dengan dia?”
“Maaf, Bung, istriku jauh lebih cantik daripada Karina, lagi pula dia sangat setia dan bekerja keras di negeri orang demi keluarga yang dicintainya.”
Lelaki itu tampak menahan marah, lalu membiarkanku melenggang keluar menuju gudang belakang.
Tiba di luar aku segera mengabari Karina bahwa aku menunggunya setengah jam dari sini di tikungan Grasia, di sebuah restoran masakan Tiongkok, dekat kios peramal nasib. Malam ini juga aku akan melarikan Karina ke kota yang sudah kami rencanakan dengan menyeberangi laut antara ujung dua pulau dan kami akan sampai di kota pelarian besok malam.
Tiba di Grasia, aku santai sejenak, kupesan minuman dingin dan seporsi kwetiaw sapi Koh Wang langgananku, tapi belum sempat pesananku diantar sungguh aku terhenyak ketika merasakan tengkukku dicokok benda dingin.
“Kubunuh kau…. Ayo kembali.”
Bajingan tengik! Ada apa dengan Karina, kenapa rencana berubah?
Oh, barangkali semua penjudi pernah dia beri cerita atau dia kirimi SMS, tolong keluarkan aku dari sini….
Dasar tolol! Itu pasti semacam tipuan: Tak boleh ada yang menang tanpa kembali ke meja marmer bundar dingin….
***
Aku sangat mencintai Karina. Bahkan setelah pengkhianatannya itu, aku tidak sakit hati. Setelah uang kemenanganku terkuras separo di tangan Bung Jack malam itu, Karina bilang ketika aku berjalan pulang di lorong belakang, bahwa dia sangat menyesal tak sadar SMS-ku diketahui Bung Jack. Aku percaya dengan ucapan itu, aku yakin Karina jujur.
“Sebagai tanda cintaku, bawalah aku tidur bersamamu…,” katanya nakal.
“Aku akan tetap memegang janjiku bahwa aku akan tidur bersamamu setelah aku berhasil melarikanmu dari Bung Jack.”
“Dia naga yang lebih licik dan cerdik di luar dugaanmu, Sayang.”
“Kematiannya ada di tanganku….”
“Sementara aku sudah mati di sini sejak lama? Kau percaya aku tidak pernah dan akan mengkhianatimu bukan?”
“Aku melihat mata yang tidak pernah berbohong.”
“Aku pun melihat sinar cinta di mata sepasang elang yang memancar dari hatimu, yang membuatku lebih baik mati jika tidak bisa keluar dari sini bersamamu.”
“Itu pasti, Sayang, lihatlah bulan itu, kita akan bebas….”
“Bulan itu bersinar sangat indah….”
“Ya, sangat indah, Sayangku….”
***
Marni terpaksa bekerja ke Saudi meninggalkanku lima tahun lalu, minggu depan dia kembali ke tanah air. Dia bilang dia membawa uang seratus lima puluh juta rupiah dalam bentuk riyal, uang bergambar raja Arab Saudi yang diburu jutaan tenaga kerja itu demi suami, istri, anak-anak. Hmm, tentu itu kabar menggiurkan bagi seorang penjudi yang sedang dimabuk cinta.
Marni bilang lewat telepon dari Saudi dua hari lalu, jemput aku di Bandara Soekarno-Hatta pukul tujuh malam. Dia juga sangat rindu kepadaku, majikannya pernah menggodanya, bahkan sempat beberapa kali ingin memperkosanya, tapi tidak berhasil.
Ketika aku menceritakan ide untuk merampok Marni, Karina tersenyum. Matanya menatapku nyaris tak berkedip, lalu dia tertawa gembira.
“Pura-pura ada perampokan dan aku menyamar jadi perampok yang akan menyikat habis uang istrimu?”
“Ya, hal itu mudah sekali, bukan?”
Karina semakin lebar tertawa dan menciumiku.
“Sangat mudah, Sayang. Itu sangat mudah….”
***
Saat yang dinanti, aku menjemput Marni ke bandara, kami berpelukan hangat di pintu keluar terminal kedatangan. Tak henti-henti dari bibir Marni terlontar pertanyaan tentang buah hati kami, Raisa. Tentang kenapa aku tidak meneruskan usaha restoran Sunda yang dimodalinya, tentang rumah barunya di Tasikmalaya, dan semua ditanyainya dengan nyinyir, kenyinyirannya terasa bagiku sangat berlebihan.
Lalu di perjalanan dengan taksi sebelum memasuki terminal luar kota yang akan membawa kami ke Tasikmalaya, di satu tempat yang sudah kurancang bersama Karina, taksi pun kusuruh berhenti, kukatakan kepada Marni aku hendak membeli sebungkus rokok.
Aku turun dari taksi.
Sebuah motor kemudian tepat berhenti di depan taksi, aku tahu itu Karina yang menunggu di samping bengkel motor tempat kami mematangkan rencana siang tadi, tapi kenapa dia berboncengan?
Orang di boncengan motor turun masih dengan helm, kulihat gaya berjalannya…. Oh, bajingan tengik! Lalu, dia menodongkan senjata ke Marni, Marni menjerit-jerit memanggil namaku dan memanggil polisi, lalu di luar dugaanku terdengar pistol menyalak, tas Marni direntapkan.
Lalu, penembak itu membuka helmnya.
“Hei…. Aku tunggu di tempat biasa!”
Aku terhenyak.
Karina pengkhianat!!!
Murni pun tak bergerak. Oh, Tuhan, dia bermandi darah….
Marniiiiiiii!
Jangan mati Marniiiii!
***
Bung Jack duduk mempermainkan asap rokoknya menunggu di meja marmer bundar dingin itu seperti tak terjadi apa-apa. Aku terhuyung mendekati meja di mana si bungkuk tak biasanya ada di situ.
Bung Jack melemparkan tas hitam ke arahku.
“Lima puluh juta bagianmu, isinya tidak sampai seratus lima puluh.”
Aku menangis.
“Marni kenapa mati, Jack…. Raisa tak punya Ibu….”
“Itu kecelakaan kerja….”
Oh… Bajingan licik!
***
Seperti yang dijanjikannya, Karina tiba di kafe pojok Grasia. Malam ini aku harus pergi bersamanya seperti juga keinginannya walau dia seorang pengkhianat.
Tapi….
“Aku tidak akan bisa hidup dengan lelaki yang sanggup merampok uang istrinya, Tom,” katanya penuh sesal.
“Karina… Apalagi? Ayo cepat kita tinggalkan tempat ini.”
“Sudah terlambat, Tom….”
“Semua sudah kupertaruhkan untukmu, hidupku, istriku!”
“Aku berubah pikiran, ingat aku pernah bilang, Jack lebih licik daripada yang kau duga.”
“Kaulah yang licik, kalau tidak dari mana Jack bisa tahu semua ini?’
“Itulah masalahnya, aku dan Jack setiap malam telah bersumpah setia di balik pintu rahasia bahwa kami adalah sepasang naga….”
Aku sadar bahwa selama ini dia adalah perempuan yang keluar dari pintu bergambar naga yang kuanggap rahasia pada mulanya.
Bung Jack tiba-tiba muncul di ujung pintu kaca, melangkah ke arah kami.
Mereka berdua memandang ke arahku kini dengan tersenyum, lalu tangan Bung Jack meraih pinggul perempuan bergaun merah marun itu. Keduanya melangkah pelan meninggalkanku bersama derai tawa.
Mereka berjalan di bawah lampu-lampu temaram dini hari di ujung pecinan yang sunyi, saling berangkulan.
Saat mereka hilang di kejauhan, aku berharap ada suara menyalak lewat tangan Karina yang merampas si bungkuk dari pinggang Bung Jack. Lalu, Bung Jack terguling di selokan berlumuran darah, kemudian Karina datang kepadaku dengan berlari.
Tapi, semua itu hanya angan-angan kosong, tak terjadi apa-apa. Karina tak lebih seorang pemain sandiwara. Dia tak pernah punya cinta itu, dia perempuan licik!
Dini hari terasa semakin sunyi, isakku menderas. Aku kehilangan Marni. Aku seorang pecundang!
***
Pintu bergambar kepala naga itu akhirnya didobrak ramai-ramai dari luar setelah dua hari Bung Jack tidak muncul-muncul. Di dalam kamar remang-remang yang mencurigakan itu terlihat Bung Jack terkapar berlumur darah. Para penjudi yang berkerumun di luar terhenyak.
Di mana Karina?
Pada kaca rias di kamar temaram itu aku penasaran melihat bercak-bercak tulisan berwarna merah dari sepotong lipstik yang berceceran….

Titisan malam….
bersayap malam….
berpulang ke malam….

Siapa kamu yang sesungguhnya Karina…?
***
Sebuah taksi berwarna biru malam tepat berhenti di sampingku saat aku baru saja keluar dari gudang belakang rumah Bung Jack, dini hari. Jalanan sunyi beraroma kematian, hanya terdengar suara walet-walet yang sudah memadati sarang-sarangnya di loteng-loteng rumah.
Jendela taksi biru malam terbuka bak layar.
Dia tersenyum nakal….
“Karina….”
“Selamat tinggal, Tom. Kau masih beruntung dibandingkan Jack, dibandingkan Bahar yang membunuh istri dan menjual organ tubuhnya, juga dibandingkan Bobi yang lompat dari apartemennya karena meja marmer bundar itu. Selamat tinggal, Tom. Aku akan pergi ke malam lain dan meja yang lain….”
Lalu, pintu jendela taksi hitam itu menutup seiring derai tawanya.
“Karina…!”
Aku berusaha mengejar taksi itu, tapi dia lebih cepat.
“Bajingan, iblis licik….”
Sepanjang jalan sunyi aku hanya bisa memaki dan merutuki perempuan licik itu, yang membawa lari cintaku hingga detik ini. (*)


Ganda Pekasih, menulis cerpen, novel, dan skenario. Pernah menjadi editor majalah Anita Cemerlang. Kumpulan cerpennya yang laris berjudul Cinta Wanita Berhati Cahaya. Novel terbarunya, Sang Dewi. Saat ini tinggal di Jakarta.

(Jawa Pos Edisi 28 November 2010)

Jumat, 17 September 2010

Setengah Restu 
 
Pandan menghentikan mobil di tepi persawahan yang sambung-menyambung hingga menyentuh kaki bukit yang berjajar memagari kampung-kampung kecil. Dari kejauhan tampak asap mengepul dari bakaran jerami kering sisa panen. Aromanya mengapung di udara, mengingatkan Pandan pada aroma merang bakar yang dulu digunakan Ibu untuk membersihkan rambutnya yang panjang, merapat melewati pinggul. Semasa kecil dulu, Pandan paling suka menciumi rambut Ibu sehabis keramas, membelitkannya di leher, membuatnya geli sendiri. Kemudian Ibu akan meminta ia membantu menyisir rambut dari belakang.

Tinggal beberapa menit lagi ia akan tiba di rumah masa kecilnya. Tapi Pandan ragu melanjutkan perjalanan. Ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi Ibu. Apa reaksi Ibu jika ia tetap pada keputusannya? Mungkinkah hati Ibu melunak, mengeras, dan mereka bertengkar lagi? Firman, kakaknya, hanya mengatakan, sebaiknya Lebaran ini ia pulang. Kelihatannya Ibu rindu padamu. Berita itu menggembirakan sekaligus mengagetkannya. Ia mengira, tak akan lagi punya kesempatan menghirup aroma jerami bakar, dari sawah yang habis dipanen.

Dari tempatnya berdiri Pandan menyaksikan senja turun menjadi malam. Listrik di rumah-rumah penduduk sudah menyala. Barisan bukit kini tampak seperti jejeran patung raksasa. Dadanya serasa sesak ketika terdengar azan magrib dari masjid yang berdiri di tepi jalan, tak jauh dari tempatnya berdiri. Suara itu mengaduk-aduk perasaannya, membuatnya jadi sentimental. Diraihnya botol air mineral dari mobil dan diteguknya untuk berbuka. Ia seka mata segera ketika merasakan ada genangan air di sana.

Pandan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang.

Di balik kemudi ia mencoba membayangkan wajah Rusmini, ibunya, perempuan berwajah bulat dengan sorot mata tegas. Ia senang mengenakan kebaya, yang membuatnya tampil anggun dan berwibawa. Ibu pernah dua kali jadi kepada desa yang dipilih langsung oleh rakyat dengan kemenangan mutlak. Saat itu belum ada ketentuan seorang lurah hanya boleh memangku jabatan dua periode. Ia tercatat sebagai lurah perempuan pertama dan terlama di kabupaten.

Rusmini adalah lurah yang dicintai rakyat karena menjalankan amanah dengan benar. Bersama petani ia membangun koperasi unit desa (KUD) hingga petani bisa mengelola sawah dan palawija dan menjual hasilnya dengan harga lumayan. Irigasi untuk mengairi sawah dibangun secara gotong-royong. Gerakan menanam pohon mangga di tepi jalan berlangsung sukses. Hingga kini kampung itu terkenal sebagai penghasil mangga dan manisan mangga. Kedua putranya, Firman dan Pandan, juga berhasil menyelesaikan sarjana di perguruan tinggi negeri terpandang, di kota provinsi.

Sungguh menggegerkan ketika setahun lalu, Rusmini, yang masih dipanggil Ibu Lurah oleh masyarakat sekitar, meminta putri bungsunya, pergi dari rumah untuk selamanya. Berita itu menyebar diam-diam dan menjadi pembicaraan penduduk di sawah, ladang, dan di pasar.

Awalnya mereka mengira, Pandan diusir karena hamil di luar nikah dengan pacarnya. Berita itu ternyata tidak benar. Pandan tidak hamil. Ia memang pacaran dengan Helmi, sarjana administrasi negara cicit dari pensiunan TNI. Yang benar adalah Rusmini mengusir Pandan karena ia memaksa menikah dengan Helmi, padahal Rusmini tidak setuju. Para orang tua yang mengetahui perjalanan hidup Rusmini, memaklumi tindakan itu. Tapi bagi generasi muda pengusiran itu mengurangi rasa hormat dan kagumnya pada Rusmini.

Ibu pernah mengatakan pada Pandan jika ia menyukai Helmi secara pribadi meski ia benci pada keluarganya dan kalau mungkin tak mau berbesanan dengan mereka. Namun Pandan mengira Ibu tidak serius mengatakannya. Sebab setahu Pandan, Ibu yang dikenalnya sangatlah terbuka dan pemaaf. Apalagi peristiwa itu sudah lama terjadi.

Ibu adalah cucu Ki Reksa. Eyang buyut Pandan itu adalah anggota kelompok gerilya yang di awal kemerdekaan ingin mendirikan negara selain Republik Indonesia. Gerakan gerombolan terlarang yang bergerak antara lain di Aceh dan Jawa Barat itu ditumpas habis oleh tentara. Pemimpinnya tertangkap di sebuah gunung dan dihukum mati.

''Kakek buyut si Helmi itu adalah komandan penumpas gerombolan, yang membunuh kakek buyutmu,'' tegas Ibu.

Pandan limbung mendengarnya.

Setelah peristiwa itu Ibu merasakan kehidupan yang sulit. Anak-anak dilarang orang tuanya berteman dengannya, yang waktu itu berusia SD, karena takut dicap mendukung ideologi tersebut. Bahkan gara-gara itu kakek dan nenek alias orang tua Ibu bercerai. Keluarga kakek tak mau disangkut-sangkutkan dengan kelompok yang dianggap pengacau.

''Beruntung nenek perempuan tangguh yang tak menyerah pada keadaan. Dengan segala keterbatasan ia berjuang, menghidupi Ibu agar bisa sekolah dan bisa seperti sekarang,'' tutur Ibu.

Ingatan orang tentang gerombolan itu memang tidak mendalam, karena masanya pendek dan cepat ditumpas. Selanjutnya Ibu pun bisa menjalani kehidupan seperti biasa dan masuk sekolah bahkan menjadi lurah tanpa perlu membawa surat keterangan bersih diri. Jadi, Pandan berpendapat, Ibu tak seharusnya menyimpan dendam sedalam dan selama itu.

Pandan pernah bertanya, ''Ibu yakin kakek buyut Helmi yang menembak?''

''Yang pasti dia memerintahkan untuk menumpas, membunuh...''

''Yang ditumpas tak hanya eyang buyut. Lagi pula dia hanya menjalankan tugas.''

''Buyutmu juga menjalankan ideologinya.''

Sampai di situ Pandan diam. Jujur saja ia sulit merasakan dendam seperti yang dirasakan oleh Ibu. Peristiwa itu terjadi jauh sebelum ia lahir, di awal kemerdekaan. Ia tak merasakan perjuangan merebut kemerdekaan yang diikuti pertikaian ideologi dan seterusnya. Ia lahir di masa Orde Baru dan berusia 13 tahun ketika Orde Baru tumbang. Masa dewasanya dilalui di alam yang sudah lebih demokratis dengan me­milih presiden secara langsung.

''Saya tahu Ibu tak bisa melupakan peristiwa itu. Tapi tolong beri tahu saya bagaimana membuat Ibu mengerti jika saya dan Helmi saling mencintai dan ingin menikah dan meminta restumu.''

''Bagaimana aku mengizinkan putriku menikah dengan seorang lelaki yang leluhurnya membunuh eyang buyutmu!''

''Bu, jangan ulangi kata-kata itu terus-menerus...''

''Tidak. Ibu tidak memberimu restu menikah dengan Helmi. Banyak lelaki lain selain Helmi.''

''Banyak lelaki selain Ayah, mengapa Ibu memilih Ayah...''

Nafas Ibu tampak tersengal-sengal, menahan amarah.

''Saya akan tetap menikah dengan Helmi,'' lanjut Pandan yang tak kalah emosi. ''Dengan atau tanpa restu Ibu. Ibu egois, pendendam, dan ternyata sangat tidak demokratis...''

Ibu mengangkat kepala dan telunjuk tangan kirinya seraya berkata, ''Apa pun pendapatmu tentang Ibu, hanya ada dua pilihan, tinggalkan Helmi dan tetap jadi anakku atau menikah dengan Helmi dan pergi dari rumah ini.''

Pandan semakin tersinggung dan marah dengan sikap Ibu yang dianggapnya semena-mena, menghancurkan kebahagiaannya, menyepelekan perasaannya. Ia pun melangkah meninggalkan Ibu, berniat mencari angin, meredakan emosinya di halaman rumah.

''Setelah keluar dari pintu itu, kularang kau memasukinya kembali...'' Ibu yang tengah dilanda emosi membuat kata-katanya menjadi tidak terkendali.

Mendengar itu, Pandan menghentikan langkah, menoleh ke arah Ibu yang sedang berdiri meremas-remas jarinya. Keduanya bertatapan. Ibu kemudian melunakkan pandangannya. Melonggarkan ketegangan di wajahnya. Ia melambaikan tangan, meminta Pandan mendekat. Tapi Pandan memilih untuk keluar tanpa menutup pintu. Jika saat itu ayahnya masih hidup, tentu ia akan membela, mengejar, dan mencegahnya pergi. Ia meninggal di tanah suci saat pergi bersama Ibu.

Di luar rumah Pandan mendengar Ibu memperbaiki ucapannya, ''Rumah ini masih terbuka jika kau berubah pikiran...''

Emosi telanjur menguasai Pandan. Tanpa membawa apa-apa Pandan pergi dari rumah dan tak pernah pulang. Sebetulnya sejak kuliah ia tinggal di kota lain dan hanya pulang di saat liburan. Saat itu pun ia sudah bekerja di kota tempatnya kuliah.

Tapi rumah adalah rumah di mana kenangan masa kecil berserakan yang membuatnya kerap ingin pulang. Semasa kuliah dulu, tiap libur ia pulang agar bisa menikmati aroma masakan dari dapur yang sangat khas dan kipasan angin siang yang berasal dari gesekan daun nangka yang kerap membuatnya tertidur di kursi rotan panjang, di teras depan. Lebih dari yang lain Pandan rindu pada Ibu, yang tinggal di rumah hanya ditemani Bi Siti. Kakaknya, Firman dan keluarga, tinggal di lain kota.

Kini Pandan sudah menghentikan mobil di depan rumah. Gelap sudah merata. Ia melihat kursi rotan panjang masih ada di teras depan. Cat rumah masih sama seperti setahun yang lalu. Pot-pot tanaman gelombang cinta yang menjulang tinggi masih berada di tempatnya. Pohon nangka ramping itu seperti biasa berbuah banyak dan besar-besar.

Ia berdiri terpaku ketika hendak membuka pintu. Ibu sudah lebih dulu membukanya dari dalam. Pandan mencium tangan Ibu. Ibu memeluk dan mengusap-usap rambutnya.

''Bi Siti membuat kolak pisang dan kolang-kaling dengan gula aren kegemaranmu,'' Ibu membimbingnya ke meja makan.

''Apa kabar, Ibu?'' Pandan meneliti wajah Ibu sambil menyuap kolak dengan sendok.

''Kabar baik. Ibu senang akhirnya kau pulang...''

Pandan ingin mengatakan bahwa kepulangannya sama sekali tak ada kaitannya dengan mematuhi keinginan Ibu untuk tidak menikah dengan Helmi. Tanpa mengurangi rasa hormatnya pada Ibu, Pandan merencanakan akan menikah tanpa restu Ibu sekalipun. Ia akan meminta Firman jadi wali, menikahkannya, usai Lebaran. Tapi ia coba menahan diri untuk tidak mengatakannya.

''Ibu tahu kau masih berhubungan dengan Helmi.''

Dalam hati Pandan berharap Ibu tak membicarakan itu dulu hingga ia selesai buka puasa, selesai menikmati rumah dengan segala kenangannya. Tapi rupanya Ibu sudah tidak sabar.

''Ibu tahu kalian tak terpisahkan. Kalian ingin menikah. Ibu merasa berdosa jika memisahkanmu karena cerita masa lalu yang kalian tidak tahu, yang sulit kalian mengerti.''

Pandan masih diam. Ia mencoba menebak-nebak ke mana arah pembicaraan Ibu.

''Ibu senang kalau kalian bisa menikah di malam Lebaran.''

Pandan mengerutkan dahi mendengar permintaan Ibu.

''Minta keluarga Helmi datang meminangmu, segera.'' Sambil mengatakan itu Ibu melemparkan pandangannya ke lantai. Ia berupaya menyembunyikan perasaannya.

''Apakah tidak tergesa-gesa?'' Pandan bertanya hati-hati. Ia merasa Ibu memutuskan itu dengan terpaksa.

''Terserah kalian, mau menikah cepat atau tidak.''

''Baik, Ibu, saya akan telepon Helmi mengabari rencana ini.''

''Beri tahu Ibu pembicaraanmu dengan Helmi agar Ibu bisa bersiap-siap.''

''Ibu, ada apa? Semuanya begitu tiba-tiba...'' Pandan tak tahan untuk tidak bertanya.

''Ibu menyayangimu, Nak...''

''Saya tidak pernah meragukan itu.''

''Ibu tak ingin menunda-nunda kebahagiaanmu.''

''Saya bahagia karena akhirnya Ibu memberi saya restu menikah dengan Helmi.''

''Tapi Ibu tak akan menggelar pesta perkawinan untukmu.''

''Restu Ibu sudah cukup buat saya.''

Ibu menggeleng-gelengkan kepala. ''Bukan karena Ibu tak memiliki uang.''

Pandan tak ingin menyela.

''Ibu belum bisa menghilangkan sakit hati itu.''

Pandan mencoba mengerti.

''Ibu berjanji akan membuat pesta pernikahan saat hati ini sudah bersih dari rasa dendam...''

Pandan tidak ingin mendebat kejujuran Ibu tentang perasaannya yang terbelah, cintanya pada anak dan bencinya pada keluarga calon menantunya. Ia yakin Ibu tengah berupaya keras menghapus kenangan pahit itu dengan memberinya setengah restu. Pandan berdoa, semoga malam Lebaran nanti memberi Ibu keajaiban, dendamnya mengelupas, tak berbekas. ***

*) Ida Ahdiah, pengarang yang lama tinggal di Kanada

(sumber www.jawapos.co.id)