Tampilkan postingan dengan label Bre Redana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bre Redana. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 November 2010

Ketapang Kencana
Oleh Bre Redana



Aku menanam pohon ketapang kencana (Terminalia mantaly) di halaman. Pohon ini kurasa sangat cocok di halaman rumah Mami yang telah dibangun sangat bagus oleh Teh Rani. Wujud bangunan benar-benar seperti Teh Rani. Sederhana, ringkas, mencerminkan wawasan, pengalaman, dan cara hidupnya yang sangat modern di berbagai negara. Bangunan ini paling modis di situ.

Tak ada pernak-pernik di fasat bagian luar. Ia seperti kotak-kotak beton, mengikuti kontur tanah yang agak berundak. Bagian yang menghadap gunung dan bukit terekspos melalui kaca besar. Alam menjadi lukisan terbaik ciptaan Tuhan. Aluminium hitam yang menjadi bingkai kaca itulah piguranya. Penyiasatan ruang yang cerdas.
Dinding bagian dalam seluruhnya berwarna abu-abu, sama dengan warna keramik lantai. Hanya ada dua kamar. Kamar Mami dan kamar yang disiapkan untuk tamu, masing-masing dengan kamar mandi menggunakan shower. Di dekat dapur ada kamar pembantu, dan satu kamar mandi lagi untuk dipakai beramai-ramai.
Ketapang kencana yang aku datangkan secara khusus dari pembibit yang sangat berpengalaman ini tak akan mengganggu estetika bangunan. Kalau besar nanti, dahan-dahannya yang teduh tak akan menutupi fasat bangunan karena bentuknya renggang. Pohon ini kuanggap paling tepat untuk bangunan yang dirancang Teh Rani itu.
Mami sendiri suka. Ia langsung mengomentari dahannya. Berundak-undak, seperti tangga ke surga, katanya. Itulah yang menyenangkan pada Mami. Ia selalu memiliki komentar otentik.
***
Aku memanggilnya Mami, ikut-ikutan anak-anaknya. Dia kakak ibu. Seharusnya aku memanggilnya Uwak. Ketika G30S meletus, keluargaku berantakan. Dari Jawa Tengah, aku dikirim ke kota kecil di Jawa Barat ini, ikut Uwak yang selanjutnya kupanggil Mami.
Kini praktis Mami tinggal sendiri. Anak-anaknya—kecuali Teh Rani—tersebar di beberapa kota di Jawa Barat dan Jakarta. Teh Rani, anak nomor dua yang paling sukses dan makmur, tinggal di luar negeri. Paris, Roma, New York. Sesekali di rumahnya di Bali. Teh Rani pula yang mengatur kehidupan Mami. Di rumah, Mami ditemani dua pembantu setia, Asep dan Kokom.
Semenjak Mami sering terganggu kesehatan belakangan, aku sangat sering mengunjungi Mami. Keadaannya turun naik. Kadang tampak sangat sehat. Pada kondisi seperti itu Mami seperti kami kenal dulu: ceplas-ceplos suka melucu. Pada kali lain bisa tampak sangat drop.
Teh Rani—entah di mana pun—sering meneleponku, menanyakan keadaan Mami. Sebenarnya aku juga tidak melihat keadaan Mami sehari-hari. Kami tinggal di kota berjauhan. Aku sendiri bahkan tergolong sering bepergian, tidak di Indonesia. Hanya saja semua tahu, dibanding dengan saudara-saudaranya sendiri termasuk yang sekota dengan Mami, Teh Rani paling percaya padaku. Keluarga juga tahu, selain Teh Rani, aku punya tempat khusus di hati Mami. Mami sering bilang: rumah lengkap kalau ada Rani dan aku.
***
Bisa kupahami keresahan Teh Rani. Mami makin tua. Dulu mungkin tak terpikir akan muncul keresahan akan Mami. Di rumah banyak orang. Rumah selalu ramai. Apa-apa akan beres dengan sendirinya. Tak pernah kami sadari arti ”banyak orang dan tidak ada orang bagi orang tua”.
Pada perkembangannya, jumlah orang di rumah menyusut dan menyusut. Terakhir-terakhir seingatku masih ada Anti, Risma, dan Deden. Kemudian Anti menikah. Suaminya pegawai Pertamina, bertugas di Cirebon. Ia diboyong ke Cirebon. Menyusul Deden. Deden mendapatkan pekerjaan, setelah beberapa tahun menganggur seusai kuliah di akademi perbankan. Deden diterima bekerja di sebuah bank yang punya kantor cabang di kota-kota kecil. Ia ditempatkan di Tasikmalaya.
Tinggal sendiri dengan Risma, mulai kami sadari bagaimana kalau Risma nanti juga harus meninggalkan rumah. Siapa akan menemani Mami? Lalu, tahu-tahu Risma hamil. Mau tidak mau, menikahlah dia. Aku kurang tahu suaminya kerja apa. Mereka pindah ke Malangbong.
***
Apa yang bisa kami berikan kepada Mami? Teh Rani kutahu berbuat sebisa-bisanya. Rumah dia rombak untuk membuat kenyamanan pada Mami yang tinggal sendiri. Diharapkan itu menghibur Mami. Apa pun kebutuhan Mami diharapkan Mami segera memberi kabar. Cuma sepengetahuanku, Mami jarang sekali menelepon anak untuk menyatakan meminta sesuatu. Hal yang bahkan tak mungkin dilakukannya.
Kegembiraan Mami sejatinya cuma kalau anak-anak dan cucu di rumah. Rumah ramai. Apalagi dengan kehadiran Teh Rani.
Teh Rani—meski tak terucap—bukannya tak paham hal itu. Hanya saja—semua dalam posisi seperti kami—juga tahu, apa yang bisa kami lakukan? Kami punya kehidupan sendiri-sendiri. Menelepon setiap saat pasti. Meski, kami sadari itu juga kurang cukup. Bahkan kadang meresahkan diri sendiri, kalau menangkap Mami tampaknya kurang sehat. Setiap resah akan keadaan Mami, Teh Rani akan terus-terusan meneleponku. Bertanya ini-itu, kapan terakhir menengok Mami, dan seterusnya.
Sekarang ini baru saja Teh Rani meninggalkan Mami setelah berlibur di situ sekitar satu minggu. Seusai itu Teh Rani ke Jakarta, sempat ketemu aku sebentar, sebelum pulang ke Bali dan kemudian balik ke Paris.
Teh Rani meneleponku agar menengok Mami. Ia sempat pula bilang rencananya akhir tahun. Ia akan bertahun baru di New York, bersama Marita, anak perempuan semata wayangnya.
Aku tak jadi ke Bangkok. Aku akan segera menengok Mami, janjiku pada Teh Rani.
***
Rumah sepi. Mami di kamar, tiduran ditemani Kokom yang ikut tidur di kasur sembari memijat-mijat Mami. Asep berbisik, Mami begitu sejak Teh Rani pergi.
Bisa kurasakan perasaan sepi Mami. Kuperhatikan sekeliling kamar. Dinding dan lantai abu-abu yang dalam keadaan biasa bercita-rasa berkelas, pada saat seperti ini rasanya malah menambah rasa dingin. Apalagi, belakangan hujan terus-terusan turun. Daerah ini tambah sering berkabut.
Di dinding kamar terpajang foto Teh Rani dan Marita. Marita sudah besar. Sudah hendak masuk sekolah fotografi di Paris. Kuamati cantiknya ibu anak ini. Dalam foto itu mereka berpelukan mesra, tersenyum, mengenakan pakaian dingin. Tak tahu aku, foto itu diambil di Paris, Roma, atau New York.
Aku merasakan dua dunia terpisah jauh. Kuingat beberapa kali saat aku mengunjungi Teh Rani di Paris. Terbayang St Germain-des-Pres. Di sekitar kawasan gemerlap itu letak apartemen Teh Rani.
Kuingat kebiasaannya ketika berniat jalan-jalan. Selalu saja baru berjalan beberapa saat dia mengajak berhenti dulu di kafe. Ini mah duduk-duduk, bukan jalan-jalan, komentarku. Dia cuma tertawa. Rasanya, semua bangku kafe terkemuka di kawasan Quartier Latin pernah kami duduki. Kami mencari-cari alasan, untuk makan apa saja atau minum apa saja. Di setiap tempat, kami membenarkan diri untuk minum wine. Atau espresso.
Aku perhatikan meja kecil di samping ranjang. Ada gelas teh. Makanan terbungkus daun yang sudah dimakan sebagian. Dulu, semasa kami semua masih tinggal di rumah, makanan berlimpah. Mau makan apa saja dan kapan saja, selalu tersedia. Selintas teringat, di Paris Teh Rani sering mengajakku ke restoran favoritnya, restoran Afrika dengan daging-daging terbaik yang disajikan dengan serba bakar. Kami tak bisa mengekang hedonisme dalam soal makan.
”Kami tidak masak, soalnya tanggung masak hanya untuk Mami,” Kokom menerangkan mengenai makanan yang tersisa di meja.
***
Duduk di pinggir ranjang, aku ikut-ikutan memijit-mijit kaki Mami yang dibalut selimut tebal. Aku tahu Mami tidak tidur, dan pasti juga tahu kehadiranku.
”Mami sakit…,” aku bertanya. ”Mami yang sehat. Nanti kita bikin pesta, bikin bakar-bakaran di halaman,” aku melanjutkan begitu saja.
Dia diam saja. Mata tetap terpejam. Bersama Kokom aku terus memijit-mijit atau mengusap-usapnya. Di matanya yang terpejam, beberapa kali keluar air mata. Kokom dan aku bergantian mengelap dengan tisu.
”Sejak Teh Rani pergi…,” Kokom berbisik padaku. ”Sering nangis sendiri….”
Aku mengangguk.
Lama-lama Mami bergerak.
”Punggung Mami sakit…,” katanya pelan. Tetap dengan mata terpejam.
Aku mengusap-usap punggungnya. Asep dan Kokom senyum-senyum. Kami semua tahu, Mami cuma mencari-cari.
”Sakit sekali ya Mi…,” tanyaku. ”Sampai menangis….”
”Tadi Mami bermimpi…,” ucapnya.
”Mimpi apa, Mi,” tanyaku.
Mami diam saja. Baru beberapa saat kemudian dia bicara.
”Ketapang kencana berubah jadi pohon emas…,” katanya pelan.
”Mami bermimpi ketapang kencana berubah jadi emas?”
Dalam posisi tiduran miring ia menganggukkan kepala.
”Kencana artinya memang emas, Mi…,” ucapku. ”Kencanawungu, emas ungu….”
”Pohon itu tumbuh tinggi sekali, sampai di balik awan…,” ia meneruskan ucapan seperti pada diri sendiri. ”Mami naik memanjatnya. Dahan demi dahan. Tiba-tiba Mami sudah di balik awan dan tak bisa lagi kembali,” lanjutnya, dengan air mata kembali keluar.
”Kembang tidur, Mami…,” kataku.
Mami diam saja.
”Kapan Rani pulang lagi…,” tanyanya pelan.
”Tahun depan. Katanya mau tahun baru di New York.”
Ia kembali diam.
”Tahun depan…,” Mami seperti bicara pada diri sendiri.
”Tahun depan artinya hanya bulan depan, Mi. Ini sudah Desember.”
Dia tak menjawab. Malah berucap sendiri, ”Ketapang kencana….”
Kutatap lagi foto di dinding kamar. Teh Rani dan Marita dengan senyumnya yang manis. Tak ada yang mengalahkan manisnya perempuan Sunda, tetapi foto ini tak mungkin bisa menemani Mami.
***
Kuputuskan menelepon Teh Rani. Dengan antusias dia bertanya, bagaimana keadaan Mami. Rumah bagaimana? Baik-baik saja? Dia bilang, katanya bermimpi tentang rumah. Apa yang diimpikan Teteh, aku bertanya. Ketapang kencanamu bertumbuh bagus sekali. Tinggi menjulang, dahan-dahannya menjadi emas.
Aku terkesiap.
”Halo…,” suara Teh Rani, mendapati suaraku menghilang.
”Oh, halo…,” kataku.
”Kamu mendengar?”
”Ya, ya, aku mendengar,” ucapku.
”Kenapa kamu diam saja?”
Sejenak aku berpikir. ”Tahun baru sebaiknya kita semua di rumah Mami saja…,” ucapku.
Dia yang kemudian balik terdiam.
”Halo,” kataku.
”Ya, aku mendengar…,” kata Teh Rani pelan. ”Aku pikir juga begitu,” tambahnya tetap dengan nada pelan.
”Jadi Teteh akan pulang? Tak jadi ke New York?” aku bicara antusias.
”Tidak jadi. Aku akan pulang. Tahun baru di rumah Mami. Kamu juga. Awas, jangan ada acara lain.”
Aduh, serentak kubayangkan betapa bakal membahagiakannya tahun baru kali ini. Teh Rani adalah pusat keluarga. Rumah akan langsung ramai begitu dia pulang. Kureka-reka sendiri kami akan mengadakan barbeque atau pesta bakar-bakaran di halaman. Cari daging terbaik. Minum wine bersama Teh Rani—sembari mengajari yang lain-lainnya. Mami akan kembali melucu. Mungkin malah merokok. Biar saja.
Kami akan berpesta di bawah ketapang kencana. Cucu-cucu akan lari kesana kemari. Tak kumengerti, bagaimana pohon ini bisa mempertautkan ibu dan anak perempuan kecintaannya dalam mimpi.
Aku berdoa, pohon ini akan tumbuh subur, selalu hijau di segala musim seperti sifat-sifatnya yang kupelajari dari buku. Tak perlu menjadi pohon emas, dan Mami selalu sehat….
Banjarsari, November 2010
(Kompas Edisi 21 November 2010)

Jumat, 17 September 2010

Stasiun MBalapan (Balada Wartoloyo)
Oleh Bre Redana


Stasiun Mbalapan, tanggal pitu, sasi songo, sewu sangangatus pitungpuluh siji... (Stasiun Balapan, tanggal tujuh, bulan sembilan, seribu sembilan ratus tujuh puluh satu...) WARTOLOYO, Wartoloyo... Dia asli Solo. Tempat tinggalnya semasa kecil di dekat kali Bengawan Solo. Orang tuanya seorang guru, memberinya nama Suwarto (kebanyakan nama orang Jawa berawalan "Su", jadi bisa menjadi Sumarno, Suheru, Sumulyadi, dan lain-lain) dengan harapan bahwa anaknya kelak bakal menjadi "juru warta" alias wartawan. Cita-cita orang tua itu berhasil. Suwarto kemudian memang menjadi wartawan di Jakarta. Namanya dia ubah sendiri menjadi Wartoloyo, karena katanya sukses hidupnya dikarenakan wangsit yang didapatnya di makam terkenal bernama Bonoloyo. Gabungan Suwarto dan Bonoloyo menjadi Wartoloyo. Edan... Yang melekat terus dalam diri Wartoloyo memang sifatnya yang edan-edanan. Tak berubah pembawaannya. Meski kini ia terbilang sukses sebagai wartawan, memiliki penerbitan yang digemari banyak orang, hidup pribadinya cukup "wah" dengan beberapa mobil di garasi rumah, Warto tetaplah Warto yang dulu: berpenampilan sederhana dengan baju selalu dikeluarkan, sepatu sandal, rambut agak awut-awutan. Rumahnya yang besar dan terawat oleh beberapa pembantu, menjadi persinggahan sanak-saudara dan teman lama ketika masih di Solo. Tak ada yang tidak betah tinggal di rumah Warto. Beberapa di antaranya bahkan setengah menetap di situ. Warto masih tetap membujang. Tentang hal ini, ia selalu berucap, "Belum diberi jodoh oleh Gusti." * * * WAKTU sudah berlalu lama, dari kejadian di kala itu. Ada kisi-kisi hidup, yang kadang tak diperhitungkan banyak orang. Di Solo, ada stasiun kereta api terkenal, bernama Stasiun Solo-Balapan (orang setempat menyebutnya "Mbalapan"). Wartoloyo punya pengalaman indah di situ, yang sampai kini terus dikenangnya, bahkan ia ingat sampai ke tanggal-tanggalnya. Tanggal 7 September 1971 --jadi sekitar tiga puluh tahun lalu, waktu itu dia masih SMA-- Wartoloyo berkenalan dengan gadis Jakarta yang tengah berlibur di Solo. Hubungan mereka singkat, tak lebih dari seminggu tatkala gadis itu berada di Solo. Juga tidak terjadi semacam "roman yang kelewat batas". Jangan, jangan berpikir sejauh itu. Mereka hanya bertemu beberapa kali, dan yang paling hebat dalam ukuran Warto masa itu, bahwa ia bisa mengajak gadis ini nonton film di gedung bioskop Ura Patria di perempatan jalan utama kota Solo. Filmnya tentu juga bisa ia ingat, yakni Pengantin Remaja karya Wim Umboh yang menyajikan banyak mimpi Jakarta. Sehari setelah itu, gadis ini pulang ke Jakarta. Warto mengantar ke Stasiun Solo-Balapan petang hari. Si gadis berjanji akan berkirim surat. Warto trenyuh hatinya. Kereta bergerak. Tiba-tiba Warto merasa ada yang hilang. Ia merasa tak pernah mengenal perempuan seperti ini. Kulitnya bersih, sikapnya menumbuhkan keberanian dan harapan Warto remaja, yang tanpa basa-basi ajakannya nonton film segala diterima begitu saja. Banyak temannya kala itu, di mata Warto penampilannya tak seberapa dibanding tokohnya dari Jakarta ini, justru jual mahal luar biasa. Warto termangu-mangu di lantai stasiun. Air matanya meleleh... * * * KALAU mengenang peristiwa ini, Wartoloyo ingin tertawa. Waktu itu dia menjadi memandang sebelah mata teman-temannya, dari si Brigita Iswari, primadona di sekolahnya, Santi, sampai ke Sarintol yang rumahnya tak jauh dari rumah Wartoloyo. Ia hanya melulu teringat gadis Jakarta-nya, yang alamatnya dia tulis baik-baik, di daerah Berlan Jakarta Pusat. Hanya saja, kemudian surat gadis itu tak kunjung diterimanya. Ia telah menyurati berkali-kali, jawaban tak diterimanya juga. Ketika nasib membawanya ke Jakarta, entah setelah berapa tahun kemudian, sadarlah Wartoloyo, di Jakarta ini semua hal bisa terlupakan begitu saja. Kesibukan dan keramaian Jakarta yang begitu luar biasa, bisa menelan apa saja, termasuk ingatan dan memori manusia. "Ha ha ha... Apalah artinya Stasiun Balapan," kata Wartoloyo. "Secuil kejadian itu pasti langsung menguap bersama asap knalpot bus kota, hilang terselip di tengah keriuhan Pasar Senen, kampung yang berdesakan, alamat di Berlan yang persisnya sekarang entah di mana," begitu pikirnya. Hanya saja, kalau keluar di jalan raya Jakarta, kadang ia berpikir sembarangan, siapa tahu bertemu dengan si gadis itu. Kalau ketemu, seperti apa, ya, kira-kira dia sekarang? Bukankah kita kadang juga berpikir mengenai gadis yang pernah kita puja di saat remaja, seperti apakah dia sekarang? Mungkin dia kita kenang kecantikannya, sementara kenyataannya, ia telah menjadi seperti tong... * * *WARTOLOYO telah menjadi bagian keriuhan Jakarta yang menelan semua memori kota kecil. Sikap berpikirnya yang kritis menilai pikirannya sendiri, menjadikannya sadar betul mengenai hal itu. Oleh karenanya, dia coba mempertahankan diri dengan tetap menjadi Wartoloyo yang dulu, yang semasa remaja suka menulis catatan harian (itulah sebabnya soal tanggal segala tadi dia ingat), yang pernah merasa tercuil sebagian hatinya ditinggal gadis Jakarta di Stasiun Solo-Balapan. Sementara, cuilan hati yang dibawa naik kereta api tadi, ternyata tak ada artinya apa-apa bagi si gadis Jakarta dulu itu, yang barangkali membuangnya di tong sampah atau di mana saja di selokan pinggir jalan. Gadis itu, mungkin waktu itu langsung tidur dengan pacarnya... Begitulah, sekelebat mimpi remaja sering masih melintas di benaknya. * * * Akan tetapi, hidup memang kadang diselingi hal tak terduga. Wartoloyo yang awet muda, tetap bergaya hidup seperti semasa SMA maupun masa mahasiswa sementara teman-temannya yang tinggal di Solo telah berangkat menjadi orang tua, anak mereka umumnya sudah menginjak dewasa, bertemu dara remaja yang mengingatkannya pada kenangan Stasiun Solo-Balapan. Anak Jakarta yang manis berusia belasan tahun ini --yang sebagaimana remaja lain di Jakarta yang mulai keluar masuk kafe-- dikenalnya di sebuah kafe di kawasan Kemang Jakarta Selatan. Gadis itu kenalan teman Wartoloyo --si gadis memanggilnya Om-- dan kemudian duduk bergabung di meja Wartoloyo. Begitulah perkenalan terjadi, dan hubungan berlanjut. Kurang terbayang sama sekali oleh Wartoloyo, yang di Jakarta ini kemudian juga gonta-ganti pacar tidak karuan, akan berpacaran dengan gadis belia, yang usianya terpaut jauh darinya. Kali ini hubungan benar-benar lengket. Ke mana-mana mereka berdua. Bisik-bisik menyebar ke mana-mana di lingkungan kenalan Wartoloyo: siapa, sih, cewek cantik yang selalu bersama Mas Warto? Wah, Wartoloyo bangga luar biasa. Kadang diajaknya gadisnya ke Purwakarta, tempat pembuatan keramik --hobi Mas Warto yang baru. Ibu si gadis, seorang janda, entah bagaimana, mencoba mengingat-ingat, lelaki teman anaknya itu sepertinya pernah dikenalnya. Dengan susah payah, dibangunnya ingatannya kembali, ketika ia masih punya saudara di Solo, yang ketika ia duduk di bangku SMA dulu pernah didatanginya, sekaligus melihat kota Solo yang waktu itu belum pernah dilihatnya. "Hah, bukankah dia yang mengantarku ke stasiun dulu itu?" begitu ingatannya samar-samar menemukan bentuk. "Hah?" Wartoloyo tak kalah kaget. Mereka teringat cerita lama. Sebuah kejadian yang mirip teledrama, tapi sungguh mati benar-benar terjadi. Ketiganya melongo. Stasiun Balapan, Stasiun Balapan... Jakarta, Januari 2000 * Seluruh cerita ini terinspirasi oleh lagu-lagu karya Didi Kempot yang tergabung dalam album Stasiun Mbalapan.
(Tabloid Nova, 2 April 2000)